Berhala: Lambang Tanpa Kehadiran Allah
Berhala: Lambang Tanpa Kehadiran Allah
Sebuah Refleksi Teologis Berdasarkan LTTI 2.15
---
Pendahuluan: Memahami Berhala Secara Menyeluruh
Selama ini, umat Kristen dalam memahami makna berhala sering kali dangkal dan parsial. Berhala dipahami sekadar sebagai "patung" atau "berhala fisik" — sebuah reduksi yang membuat kita buta terhadap bentuk-bentuk berhala yang jauh lebih halus dan berbahaya di zaman modern. Padahal, Alkitab berbicara tentang berhala dengan kedalaman yang jauh melampaui pemahaman sempit ini.
Artikel ini akan membedah makna berhala secara alkitabiah, dengan melihat seluruh diskusi yang telah berlangsung dalam kerangka LTTI 2.15. Definisi yang akan kita gunakan sebagai titik tolak adalah:
"Berhala adalah lambang tanpa kehadiran Allah."
Definisi ini bukan sekadar permainan kata. Ia adalah kunci hermeneutik yang membuka pemahaman kita tentang dosa, penyembahan, dan pemulihan relasi dengan Allah.
---
Bagian 1: Berhala dalam Alkitab — Lebih dari Sekadar Patung
1.1 Berhala sebagai "Tuhan Palsu"
Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa berhala secara fisik adalah "tiada" (Yesaya 44:9-20). Nabi Yesaya dengan sarkasme menggambarkan absurditas manusia yang menggunakan sepotong kayu yang sama untuk memasak roti dan menyembah sisanya. Namun, Perjanjian Baru memberikan twist yang mencengangkan.
Dalam 1 Korintus 10:19-20, Paulus berkata:
"Bukan maksudku, bahwa persembahan kepada berhala berarti sesuatu, atau bahwa berhala berarti sesuatu. Tetapi apa yang kukatakan, bahwa persembahan mereka adalah persembahan kepada roh-roh jahat, bukan kepada Allah."
Paulus mengajarkan bahwa di balik berhala fisik, ada realitas rohani: kuasa kegelapan yang menerima penyembahan yang seharusnya bagi Allah. Berhala adalah "lambang" yang di belakangnya bekerja kuasa iblis. Ia menjadi point of contact (titik sentuh) bagi roh-roh jahat untuk menerima penyembahan.
Namun, menyalahkan iblis secara berlebihan adalah jebakan. Seperti yang akan kita lihat, dosa terbesar manusia sering kali adalah kebodohan dan kesombongan, bukan semata-mata tipu daya setan.
1.2 Berhala sebagai "Hati yang Memberontak"
Nabi-nabi Perjanjian Lama menginternalisasi konsep berhala. Bukan hanya patung Asyera atau Baal, tetapi segala sesuatu yang menggantikan posisi Allah di dalam batin.
Yehezkiel 14:3 berkata: "Hai anak manusia, orang-orang ini menjunjung berhala-berhala mereka dalam hatinya..."
Di sini, berhala adalah "penghalang" (stumbling block) dalam hati yang memisahkan manusia dari Allah. Hosea menyebut perjanjian politik dengan Mesir dan Asyur sebagai "berhala" karena Israel lebih percaya pada kekuatan bangsa lain daripada kuasa Allah.
1.3 Berhala sebagai "Keinginan Manusia"
Paulus dan Yohanes membawa definisi ini ke ranah etika dan psikologi rohani. Dalam Kolose 3:5, Paulus menulis:
"Karena itu matikanlah apa yang ada di dalam dirimu, yaitu: percabulan, kenajisan, hawa nafsu, niat jahat, dan keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala."
Keserakahan (cinta uang/kuasa) disebut sebagai penyembahan berhala karena ia menuntut pengorbanan waktu, hati, dan pikiran yang hanya layak bagi Allah. Efesus 5:5 menegaskan bahwa orang yang serakah adalah penyembah berhala.
1.4 Berhala sebagai "Pengganti Fungsi Kristus"
Ini adalah definisi yang paling dalam. Berhala adalah segala sesuatu yang Anda andalkan untuk memberikan apa yang hanya bisa diberikan oleh Kristus: keselamatan, identitas, kebenaran, dan sukacita.
· Jika Anda berkata, "Saya merasa benar karena saya baik," maka kebaikan adalah berhala yang menggantikan kebenaran Kristus.
· Jika Anda berkata, "Saya aman karena uang saya," maka uang adalah berhala yang menggantikan pemeliharaan Allah.
· Jika Anda berkata, "Saya berarti karena pelayanan saya," maka pelayanan adalah berhala yang menggantikan identitas sebagai anak Allah.
---
Bagian 2: Berhala = Lambang Tanpa Kehadiran Allah
2.1 Definisi yang Menyeluruh
Definisi "berhala adalah lambang tanpa kehadiran Allah" memiliki implikasi yang sangat luas. Ia mencakup:
1. Berhala fisik: patung, salib yang dijadikan jimat, relikui
2. Berhala konseptual: doktrin yang disembah, sistem teologi yang menggantikan Pribadi Allah
3. Berhala relasional: hubungan yang menjadi sumber identitas dan keselamatan
4. Berhala institusional: gereja, tradisi, atau kepemimpinan yang menggantikan otoritas Kristus
5. Berhala internal: harga diri, prestasi, atau kekayaan sebagai sumber keamanan
Kunci dari definisi ini adalah: lambang apapun — sekalipun itu Bait Suci, salib, Alkitab, atau sakramen — jika tanpa kehadiran Allah, ia adalah berhala.
2.2 Bait Suci sebagai Berhala
Kita melihat ini dengan jelas dalam Perjanjian Lama. Allah berfirman melalui Yehezkiel bahwa Shekhinah (kemuliaan Allah) meninggalkan Bait Suci (Yehezkiel 8-10). Setelah itu, Bait Suci hanyalah bangunan batu yang megah. Namun orang Israel tetap meratap dan berdoa di tembok timur (Yehezkiel 11:22-23) — kepada tembok, bukan kepada Allah yang sudah pergi. Itu adalah berhala — lambang tanpa kehadiran.
Yeremia 7:4-8 mencatat murka Allah karena mereka berkata, "Inilah bait TUHAN, bait TUHAN, bait TUHAN!" Mereka percaya pada keajaiban bangunan (berhala arsitektur) daripada bertobat.
2.3 Nabi Tanpa Wahyu
Pararel yang sama berlaku untuk nabi tanpa wahyu: gelar "nabi" atau "pendeta" adalah lambang. Tanpa firman Allah yang hidup di dalamnya, gelar itu menjadi berhala — ia hanya cangkang kosong yang menyesatkan.
2.4 Salib Sebagai Berhala
Contoh paling nyata di zaman modern adalah salib. Orang Kristen mengagungkan salib dan menjadikannya sebagai jimat. Penganut iblis menyembah salib terbalik. Keduanya melakukan kesalahan yang sama: mereka percaya bahwa benda memiliki kuasa intrinsik.
· Orang Kristen yang mengagungkan salib sebagai jimat melakukan kesalahan yang sama persis dengan orang Israel yang meratapi tembok. Mereka menjadikan alat eksekusi (yang secara historis kejam) sebagai sumber kuasa. Padahal kuasa ada pada Kristus yang bangkit, bukan pada kayu atau logam. Salib tanpa iman yang hidup kepada Pribadi Kristus hanyalah perhiasan — sebuah berhala.
· Penganut iblis yang menyembah salib terbalik melakukan kesalahan yang sama, hanya dengan orientasi berbeda. Mereka menganggap arah salib memiliki kuasa magis. Padahal, tanpa kehadiran Allah, salib terbalik pun tidak lebih sakti daripada tongkat kayu biasa.
Keduanya terjebak dalam "magis" — percaya bahwa benda memiliki kuasa intrinsik. Inilah yang Alkitab sebut sebagai "kebodohan" (Roma 1:22).
2.5 Dua Ekstrim yang Harus Dihindari
Kekeliruan mendefinisikan berhala selalu melahirkan dua ekstrim berbahaya:
| Ekstrim 1: Menyalahkan Iblis | Ekstrim 2: Menyucikan Benda |
| Menganggap semua penyembahan keliru adalah "serangan setan" | Menganggap salib, air suci, atau tembok Bait adalah "sakti" |
| Ini membuat manusia lalai akan pertanggungjawaban moral (akibat kebodohan sendiri) | Ini membuat manusia percaya pada sihir Kristen (menggunakan benda sebagai jimat) |
Definisi "lambang tanpa kehadiran Allah" memotong kedua ekstrim itu. Fokusnya bukan pada siapa yang bekerja di belakangnya (iblis), tetapi pada ada atau tidaknya realitas ilahi yang sejati di dalamnya. Seperti yang ditegaskan dalam diskusi: "Lambang apapun jika tanpa kehadiran Allah adalah berhala, terserah di sana ada niat iblis atau hanya sekedar kebodohan manusia."
---
Bagian 3: Akar Keberhalaan — Mengapa Manusia Membuat Berhala?
3.1 Haus Akan Pakaian Kemuliaan
Akar terdalam dari keberhalaan adalah haus akan pakaian kemuliaan yang hilang di Taman Eden (C-D-15). Sebelum dosa, manusia "berpakaikan" kemuliaan Allah. Ia tidak telanjang meskipun tidak berpakaian fisik — karena ia dinaungi oleh kehadiran Allah (naungan Roh). Kemuliaan ini adalah pakaian yang dianugerahkan Allah kepada manusia — bukan hakikat manusia, tetapi anugerah yang menyelimuti.
Setelah dosa, kemuliaan Allah (naungan) pergi, dan manusia merasa telanjang (Kejadian 3:7). Ia kemudian mencari pakaian pengganti:
| Pakaian Pengganti | Makna | Kelemahan |
| Daun ara (Kejadian 3:7) | Usaha manusia menutupi dosa sendiri | Cepat layu — tidak permanen |
| Kulit binatang (Kejadian 3:21) | Korban sementara — prototipe penebusan | Membutuhkan pengulangan |
| Makanan, minuman | Kepuasan fisik sementara | Membuat haus/lapar lagi |
| Prestasi, status | Pengakuan dari manusia | Tidak pernah cukup |
| Harta, keamanan | Rasa aman palsu | Dapat hilang dalam sekejap |
| Pakaian jasa religius | "Aku layak karena aku melakukan ini" | Tidak menutupi ketelanjangan rohani |
Setiap pencarian manusia — kekayaan, prestasi, pengetahuan, hubungan, kekuasaan, hiburan, bahkan agama — adalah ekspresi terselubung dari kerinduan akan pakaian kemuliaan yang hilang (E1-ES-05).
3.2 Kebodohan Manusia vs Tipu Daya Iblis
Salah satu kesalahan besar dalam memahami berhala adalah selalu menyalahkan iblis. Padahal, seperti yang ditegaskan dalam diskusi:
"Kebodohan manusia (bukan selalu iblis) adalah akar dari keberhalaan. Manusia secara naluriah ingin 'memegang' sesuatu yang kelihatan (tembok, salib, gelar) karena iman kepada yang tidak kelihatan (Allah yang hidup) terasa terlalu menakutkan dan menuntut kerendahan hati."
Ini adalah kebenaran yang penting: manusia membuat berhala karena ia tidak tahan dengan ketidakpastian iman. Ia ingin sesuatu yang bisa dipegang, dilihat, dan dikendalikan. Inilah akar dari semua keberhalaan — baik di zaman kuno maupun modern.
3.3 Apathy Terhadap Panggilan Allah sebagai Dosa Awal
Salah satu bentuk dosa yang paling halus adalah apathy terhadap panggilan Allah (C-D-51; E2-ET-23). Adam di Taman Eden hadir tetapi tidak bertindak — ia tidak melindungi Hawa, tidak menegur ular, dan tidak mempertahankan kebenaran Allah. Diam ketika Allah memanggil untuk bertindak adalah dosa, bukan netralitas.
Apathy ini adalah akar dari keberhalaan: ketika kita tidak peduli pada panggilan Allah, kita mulai menggantikan-Nya dengan sesuatu yang lebih mudah dikelola — yaitu berhala.
---
Bagian 4: Kehadiran Allah — Antitesis dari Berhala
4.1 Allah Adalah Relasi, Bukan Substansi
Salah satu kesalahan terbesar teologi Barat adalah memahami Allah sebagai "substansi" (kategori filsafat Yunani) daripada "relasi" (kategori alkitabiah). Diskusi ini dengan tajam mengoreksi:
"Jika Allah hendak mengutamakan substansi, harusnya Yesus tidak perlu terangkat naik, cukup menjadi manusia abadi. Tapi bukanlah dengan ini menjadi jelas bahwa Allah tidak ingin bicara tentang substansi dengan manusia (merevelasikannya) tapi malah selalu bicara tentang relasi?"
Allah adalah relasi. Esensi-Nya bukanlah "zat" yang diam, tetapi gerakan kasih kekal antara Bapa, Putra, dan Roh. Bapa adalah Yang merangkul; Putra adalah Yang dirangkul; Roh adalah Rangkulan itu sendiri (C-T-12). Inilah hakikat Allah — bukan substansi yang dapat dianalisis, tetapi relasi yang harus dihidupi.
4.2 Bagaimana Allah Hadir?
Yang menjadi masalah sebenarnya adalah ketiadaan pengajaran tentang bagaimana Allah itu hadir. Padahal di PL maupun PB sudah sangat jelas apa dan bagaimana Allah akan hadir bagi yang meminta-Nya (memohon).
Di Perjanjian Lama, kehadiran Allah (Shekhinah) sangat terkait dengan respons manusia terhadap Firman. 2 Tawarikh 7:14 memberikan mekanisme yang jelas:
"Dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa, mencari wajah-Ku, dan berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, dan memulihkan negeri mereka."
Kehadiran Allah diundang oleh kerendahan hati, doa, pencarian wajah-Nya (bukan bangunan-Nya), dan pertobatan. Tanpa empat unsur ini, Bait Suci hanyalah museum agama — sebuah berhala.
Di Perjanjian Baru, kehadiran Allah dikondisikan oleh iman dan Perjanjian Baru. Yohanes 14:21-23 menyatakan:
"Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku... Aku akan menyatakan diri-Ku kepadanya... Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia."
Mekanisme: Kehadiran Allah = Kasih + Ketaatan pada Firman Kristus.
4.3 Tiga Lapis Naungan
Allah berelasi dengan ciptaan dalam tiga lapis naungan (E1-RH-02):
| Lapis | Nama | Fungsi |
| 1 | Naungan Eksistensial | Ciptaan terus-menerus dinaungi Roh agar tetap eksis (Mazmur 104:29-30) |
| 2 | Naungan Relasional | Ciptaan dipelihara dalam tatanan, hukum, dan kebaikan umum (Matius 5:45) |
| 3 | Naungan Keselamatan | Pemulihan relasi yang terputus karena dosa (Roma 8:15-16) |
Lapis 1 dan 2 adalah rahmat umum — tidak pernah dicabut. Lapis 3 adalah rahmat khusus — dapat berakhir jika ditolak. Kehadiran Allah pada lapis 3 adalah antitesis dari berhala. Di mana Allah hadir secara keselamatan, di situ ada hidup. Di mana hanya ada lambang tanpa kehadiran-Nya, di situ ada berhala.
---
Bagian 5: Berhala di Zaman Modern
5.1 Bentuk-Bentuk Berhala Kontemporer
Di era digital, "berhala" tidak lagi berwujud patung. Bentuknya adalah:
1. Narsisme Diri (Self-worship) — di mana "aku" menjadi pusat realitas. Media sosial, pencarian validasi, dan kultus kepribadian adalah manifestasi modern dari penyembahan berhala.
2. Ideologi — di mana sistem politik, ekonomi, atau sains dijadikan "mesias" untuk menyelamatkan dunia. Konsumerisme, nasionalisme, dan scientism adalah berhala-berhala modern.
3. Hubungan — di mana pasangan atau anak diharapkan memenuhi kekosongan eksistensial yang hanya bisa diisi oleh Allah. Pernikahan yang menjadi "tujuan akhir" daripada "sarana" adalah berhala.
4. Teknologi dan Kekayaan — sebagai sumber keamanan, identitas, dan makna (E2-ET-04).
5. Agama dan Ritual — ketika liturgi menjadi mekanisme untuk "menggerakkan" Allah, bukan respons terhadap inisiatif-Nya (E2-ET-21).
5.2 Doktrin sebagai Berhala
Salah satu bentuk berhala yang paling halus di kalangan teolog adalah doktrin yang disembah. Ketika seseorang lebih setia pada sistem teologinya daripada pada Pribadi Kristus, doktrin itu telah menjadi berhala.
Seperti yang ditegaskan dalam diskusi:
"Jika Allah adalah substansi, manusia (dengan teknologi yang cukup maju) pada prinsipnya dapat mereplikasi atau meniru-Nya. Tetapi karena Allah adalah Pribadi yang berelasi, Ia tidak dapat direplikasi—relasi tidak dapat diproduksi, hanya dapat dihidupi."
Doktrin adalah "lambang" — ia dapat menjadi sarana untuk mengenal Allah, atau ia dapat menjadi berhala jika ia menggantikan relasi dengan Pribadi Allah.
5.3 Gereja sebagai Berhala
Ketika gereja menjadi institusi yang lebih mementingkan diri sendiri, tradisi, dan kekuasaan daripada kehadiran Kristus yang hidup, ia telah menjadi berhala (C-DS-01). Yesus menegur para pemimpin agama yang "mengikat beban-beban berat" (Matius 23) dan mengabaikan keadilan, belas kasihan, dan iman.
Gereja tanpa kehadiran Allah yang hidup — tanpa Roh yang bergerak, tanpa kasih yang mengalir, tanpa buah yang nyata — adalah lambang tanpa kehadiran. Ia adalah berhala.
---
Bagian 6: Jalan Keluar dari Keberhalaan — Kembali ke Kehadiran Allah
6.1 Pengakuan Keterpisahan sebagai Pintu Pertolongan
Berdasarkan peristiwa seruan Yesus di salib dan kembalinya terang (Matius 27:45-46), LTTI mengajarkan bahwa pengakuan atas keterpisahan adalah pintu bagi pertolongan Allah untuk datang (C-D-42).
Yesus berseru: "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" — pengakuan atas keterpisahan. Dan terang kembali — pertolongan Allah segera datang.
Kita tak pernah ditinggalkan Allah, bahkan saat kita berdosa. Jika kita mengakui keterpisahan itu — mengakui bahwa kita telah melakukan sesuatu yang membuat kita seakan-akan ditinggalkan Allah — maka pertolongan Allah akan segera datang.
Ini adalah antitesis dari keberhalaan. Berhala adalah menolak mengakui keterpisahan dan berpura-pura bahwa lambang (ritual, benda, doktrin) dapat menggantikan kehadiran Allah. Jalan keluar adalah pengakuan yang jujur: "Ya, aku berdosa. Ya, aku terpisah dari-Mu. Ya, aku membutuhkan Engkau."
6.2 Doa sebagai Permohonan, Bukan Klaim Jasa
Doa Bapa Kami mengajarkan bahwa doa yang benar adalah permohonan, bukan klaim jasa (C-TM-16; E1-SH-04).
| Doa yang Salah (Klaim Jasa) | Doa yang Benar (Permohonan) |
| "Aku memuliakan Engkau, Tuhan" | "Dimuliakanlah nama-Mu, ya Bapa" |
| "Aku melakukan ini untuk kemuliaan-Mu" | "Biarlah kehendak-Mu terjadi" |
| "Aku melayani Engkau" | "Berikanlah kami makanan kami" |
| "Aku mengampuni" | "Ampunilah kami" |
Doa yang benar adalah pengakuan ketergantungan — kita datang kepada Bapa dengan tangan kosong, mengakui bahwa kita membutuhkan-Nya. Ini adalah kerendahan yang menjadi antitesis dari pride dan klaim jasa — akar dari semua keberhalaan.
6.3 Kerelaan sebagai Jembatan
Allah adalah translogis — Ia melampaui logika ciptaan. Namun, melalui kerelaan (kenosis), Allah yang transenden menjadi imanen dan dapat dipahami oleh manusia (C-TM-14). Kerelaan adalah jembatan antara translogis dan logis.
Yesus adalah puncak dari jembatan ini: Ia adalah Allah yang transenden (Yohanes 1:1) yang menjadi imanen (Yohanes 1:14) melalui kerelaan (Filipi 2:6-8). Dalam Yesus, apa yang translogis menjadi logis — dapat dilihat, didengar, dan dipahami.
Kerelaan adalah antitesis dari berhala. Berhala adalah usaha manusia untuk "memegang" dan "mengendalikan" Allah. Kerelaan adalah membiarkan Allah menjadi Allah — membiarkan Dia hadir dengan cara-Nya sendiri, pada waktu-Nya sendiri.
6.4 Kembali ke Pakaian Kemuliaan
Pakaian kemuliaan yang telah dipulihkan dalam Kristus sering hilang kembali oleh dosa kita sendiri (C-D-50). Ini bukan kehilangan keselamatan, tetapi kehilangan pengalaman akan kemuliaan Allah.
Setiap dosa adalah "kehilangan pakaian kemuliaan" — dan setiap kembalinya kita kepada Allah adalah pemulihan pengalaman akan kemuliaan-Nya. Ini adalah proses seumur hidup: jatuh, mengaku, dipulihkan, dan kembali ke dalam naungan Allah.
---
Kesimpulan: Berhala dan Pemulihan
Berhala adalah lambang tanpa kehadiran Allah. Definisi ini mengubah segalanya:
· Bait Suci tanpa Shekhinah adalah berhala.
· Salib tanpa iman yang hidup adalah berhala.
· Alkitab tanpa Roh yang menerangi adalah berhala.
· Doktrin tanpa relasi dengan Pribadi Kristus adalah berhala.
· Gereja tanpa kehadiran Roh yang bergerak adalah berhala.
· Pernikahan tanpa kehadiran Kristus sebagai Pihak Ketiga adalah berhala.
Antitesis dari berhala adalah kehadiran Allah. Dan kehadiran Allah diundang oleh:
1. Kerendahan hati — mengakui bahwa kita tidak bisa menyelamatkan diri sendiri
2. Doa yang tulus — datang kepada Bapa dengan permohonan, bukan klaim jasa
3. Pencarian wajah-Nya — merindukan Dia, bukan lambang-Nya
4. Pertobatan — berbalik dari dosa dan kembali ke dalam naungan-Nya
Pertanyaan kritisnya adalah: Saat kita beribadah, apakah kita benar-benar bertemu dengan Pribadi Allah yang hidup, atau kita sedang memeluk lambang kosong yang kita ciptakan sendiri?
Di situlah ujian sejati antara penyembahan sejati dan keberhalaan.
---
Refleksi Akhir
Seluruh diskusi ini mengingatkan kita pada kata-kata Yesus kepada perempuan Samaria di sumur:
"Percayalah kepada-Ku, saatnya akan datang bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini, bukan di Yerusalem... Allah adalah Roh, dan orang-orang yang menyembah Dia harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." (Yohanes 4:21, 24)
Tidak ada gunung yang kudus. Tidak ada bait yang sakti. Tidak ada benda yang berkuasa. Hanya ada Pribadi yang hadir — atau lambang tanpa kehadiran.
Dan pertanyaan yang sama yang Yesus tanyakan kepada murid-murid-Nya, Dia tanyakan kepada kita:
"Apakah engkau mengasihi Aku?" (Yohanes 21:15-17)
Bukan: "Apakah engkau memiliki doktrin yang benar?" Bukan: "Apakah engkau datang ke gereja yang benar?" Bukan: "Apakah engkau memakai salib yang benar?" Tetapi: "Apakah engkau mengasihi Aku?"
Karena kasih kepada Kristus itulah yang memulihkan pakaian kemuliaan. Kasih kepada Kristus itulah yang mengajar kita berdoa dengan benar. Kasih kepada Kristus itulah yang membawa kita ke hadirat Bapa — di mana tidak ada lagi berhala, karena kita melihat Dia muka dengan muka.
Bukan sistem — betapapun indahnya. Bukan doktrin — betapapun benarnya. Bukan liturgi — betapapun khidmatnya. Tetapi Pribadi yang menjadi jalan, kebenaran, dan hidup.
Soli Deo Gloria.
---
Artikel ini disusun berdasarkan diskusi teologis dalam kerangka LTTI 2.15 (Logos Theanthropos Theological Institute), dengan merujuk pada Core-1, Core-2, Extension-1, dan Extension-2. Semua ayat Alkitab dikutip dari versi Terjemahan Baru (TB) LAI.
---
Akhir Artikel
Komentar
Posting Komentar