Amanat Agung di Telinga Para Rasul dan Murid Yahudi
Amanat Agung di Telinga Para Rasul dan Murid Yahudi
Membaca Matius 28:19 Kembali ke Akar Ibrani, Bukan Kacamata Yunani
---
Pendahuluan
Amanat Agung dalam Matius 28:19 adalah salah satu teks paling terkenal dalam Kekristenan. Yesus berkata: "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus."
Namun, selama berabad-abad, teks ini telah dibaca melalui kacamata filsafat Yunani—sehingga muncul konsep "tiga Pribadi" dalam satu Allah, sebuah kerangka berpikir yang sama sekali asing bagi para rasul dan murid-murid Yesus yang adalah orang Yahudi abad pertama.
Artikel ini mengajak kita untuk mendengar kembali Amanat Agung dengan telinga Ibrani, sebagaimana para rasul mendengarnya ketika Yesus mengucapkannya di Galilea.
---
Bagian 1: Siapa yang Mendengar Amanat Agung?
Yesus berbicara kepada orang-orang Yahudi. Para rasul adalah murid-murid yang tumbuh dengan:
· Shema di bibir mereka setiap hari: "Dengarlah, hai Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!" (Ulangan 6:4).
· Tetragrammaton (YHWH) sebagai nama kudus yang tidak terucap, nama yang diwahyukan kepada Musa di semak duri (Keluaran 3:15).
· Kitab Taurat, Nabi-nabi, dan Mazmur sebagai satu-satunya otoritas ilahi.
Ketika Yesus berkata "dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus", telinga Yahudi para rasul tidak mendengar tiga dewa, tiga pribadi, atau tiga substansi. Mereka mendengar satu Nama—karena kata "nama" dalam teks Yunani berbentuk tunggal (onoma), bukan jamak.
Bagi orang Yahudi, "Nama" (Shem dalam bahasa Ibrani) selalu merujuk kepada YHWH. Tidak ada nama lain di surga dan di bumi yang layak disebut "Nama" tunggal dengan huruf kapital.
---
Bagian 2: Makna "Bapa, Anak, dan Roh" dalam Pemikiran Ibrani
Jika tiga istilah ini tidak merujuk pada tiga pribadi metafisik, lalu apa maknanya di telinga para rasul?
1. Bapa: Relasi Perjanjian, Bukan Pribadi Terpisah
Dalam Perjanjian Lama, "Bapa" adalah metafora relasional antara YHWH dan Israel:
"Bukankah Ia Bapamu yang menciptakan engkau? Bukankah Ia yang menjadikan dan menegakkan engkau?" (Ulangan 32:6)
"Sebab Engkaulah Bapa kami... Engkau, ya TUHAN, adalah Bapa kami, Penebus kami." (Yesaya 63:16)
YHWH disebut "Bapa" bukan karena Ia adalah salah satu anggota Trinitas, tetapi karena Ia adalah Pencipta, Pemelihara, dan Penebus Israel dalam relasi perjanjian yang intim.
2. Anak: Raja Mesias dari Keturunan Daud
Dalam PL, "Anak" dalam konteks kerajaan selalu merujuk pada garis keturunan Daud yang diangkat sebagai raja atas nama YHWH:
"Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku." (2 Samuel 7:14) — berbicara tentang Salomo dan keturunannya.
"Engkaulah anak-Ku, pada hari ini Aku telah memperanakkan engkau." (Mazmur 2:7) — ini adalah dekrit kerajaan bahwa Mesias, sang raja dari keturunan Daud, akan duduk di takhta sebagai wakil ilahi.
Yang lebih dalam lagi, PL menubuatkan bahwa Mesias itu adalah YHWH sendiri yang datang sebagai Raja Penyelamat:
"Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan untuk kita... dan Ia akan disebut: Allah Perkasa..." (Yesaya 9:5)
"Pada waktu itu Yehuda akan dibebaskan, dan Yerusalem akan diam dengan tenteram. Dan inilah nama yang diberikan orang kepadanya: TUHAN keadilan kita." (Yeremia 23:6)
Jadi, "Anak" di telinga para rasul bukanlah "Pribadi Kedua", melainkan YHWH yang menyatakan diri sebagai Raja Penyelamat dari keturunan Daud.
3. Roh Kudus: Kuasa dan Kehadiran YHWH
Roh dalam PL adalah nafas/kuasa YHWH yang aktif bekerja, bukan "Pribadi Ketiga":
"Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air." (Kejadian 1:2)
"Tetapi mereka memberontak dan mendukakan Roh Kudus-Nya; maka Ia berbalik menjadi musuh mereka." (Yesaya 63:10)
Roh adalah tangan YHWH yang menjangkau dunia, kuasa pembaruan yang diam di tengah umat, sebagaimana dinubuatkan dalam Yoel 2:28-29.
---
Bagian 3: Satu Nama dalam Satu YHWH
Jika kita membaca Matius 28:19 dengan telinga Ibrani, bunyinya bukanlah:
"Baptislah mereka dalam nama Bapa (Pribadi Pertama), dan nama Anak (Pribadi Kedua), dan nama Roh Kudus (Pribadi Ketiga)."
Melainkan:
"Baptislah mereka dalam NAMA YHWH—yang kita kenal sebagai Bapa (Pencipta dan Pemelihara Israel), yang kita kenal sebagai Anak (Raja Mesias dari Daud yang datang menebus), dan yang kita kenal sebagai Roh (Kuasa pembaruan yang diam di tengah umat)."
Tiga cara YHWH menyatakan diri, tetapi satu YHWH.
Inilah sebabnya Yesus sendiri berkata:
"Aku dan Bapa adalah satu." (Yohanes 10:30)
Dan:
"Aku datang dalam nama Bapa-Ku." (Yohanes 5:43)
Dan:
"Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa." (Yohanes 14:9)
Yesus tidak pernah berbicara tentang dirinya sebagai "pribadi" yang terpisah dari Bapa. Ia berbicara tentang kesatuan kehendak, misi, dan esensi dengan YHWH. Ia adalah YHWH yang hadir di tengah umat dalam rupa manusia.
---
Bagian 4: Kapan Terjadi Pergeseran ke Filsafat Yunani?
Para rasul dan murid-murid Yahudi awal tidak mengenal istilah-istilah seperti:
· Homoousios (satu substansi)
· Hypostasis (pribadi/eksistensi)
· Prosopon (topeng/persona)
Istilah-istilah ini lahir setelah abad ke-2 M, ketika Kekristenan menyebar ke dunia Yunani-Romawi dan para teolog (seperti Tertullianus, Origenes, dan para Bapa Nicea) mencoba menjelaskan iman Kristen dengan kerangka metafisik Yunani.
Pertanyaan yang mereka ajukan adalah pertanyaan filosofis Yunani:
"Bagaimana tiga pribadi bisa menjadi satu esensi?"
Pertanyaan yang diajukan oleh para rasul (dengan kerangka Ibrani) adalah:
"Bagaimana YHWH yang esa menyatakan diri-Nya sepenuhnya dalam Yesus sang Mesias?"
Kedua pertanyaan ini sangat berbeda. Yang pertama adalah ontologi (studi tentang keberadaan). Yang kedua adalah ekonomi keselamatan (studi tentang tindakan Allah dalam sejarah).
Perjanjian Lama berbicara tentang tindakan, bukan tentang substansi. YHWH dikenal melalui apa yang Ia lakukan—mencipta, menebus, memelihara, menghakimi, menyelamatkan. Ia tidak dikenal melalui definisi metafisik tentang "apa" Ia di dalam diri-Nya.
---
Bagian 5: Mengapa Orang Kristen Perlu Kembali ke Akar Ibrani?
Ini bukan soal "menjadi Yahudi" atau "menolak Yesus sebagai Tuhan". Ini soal setia kepada Alkitab sebagaimana Yesus dan para rasul memahaminya.
Jika orang Kristen hari ini kembali ke akar Ibrani, mereka akan:
1. Mengasihi Perjanjian Lama sebagaimana Yesus mengasihinya—sebagai firman YHWH yang hidup, bukan sekadar "latar belakang" untuk Perjanjian Baru.
2. Menyembah YHWH sebagai satu-satunya Allah, sambil mengakui bahwa Yesus adalah YHWH yang berinkarnasi—bukan karena Ia adalah "pribadi kedua" dalam sistem metafisik, tetapi karena YHWH sendiri memilih untuk diam sepenuhnya di dalam Dia (Kolose 2:9).
3. Membaca Perjanjian Baru dengan kategori Ibrani: nama, relasi, tindakan, perjanjian, kesetiaan, keadilan, kasih setia (hesed)—bukan dengan kategori Yunani: substansi, esensi, natur, pribadi, akal budi.
4. Berhenti berbicara tentang "Allah Bapa" dan "Allah Anak" sebagai dua entitas yang berbeda, dan mulai berbicara tentang "YHWH yang dinyatakan sebagai Bapa, Anak, dan Roh" —tiga cara Allah menyatakan diri dalam sejarah keselamatan, tetapi satu YHWH.
5. Memahami Amanat Agung bukan sebagai formula Trinitas, tetapi sebagai pengakuan bahwa YHWH yang esa telah menyatakan diri-Nya secara utuh melalui Bapa (Pencipta), Anak (Penebus), dan Roh (Pembaru)—dan bahwa baptisan adalah masuk ke dalam realitas YHWH yang kini hadir sepenuhnya.
---
Bagian 6: Apa Kata Para Rasul Sendiri?
Para rasul, ketika mereka membaptis dalam Kisah Para Rasul, tidak pernah menggunakan formula "Bapa, Anak, dan Roh Kudus". Mereka membaptis:
"Dalam nama Yesus Kristus." (Kisah 2:38, 8:16, 10:48, 19:5)
Mengapa? Karena bagi mereka, "nama Yesus" adalah nama YHWH yang dinyatakan. Yesus adalah YHWH yang datang menyelamatkan (Matius 1:21: "Engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka").
Paulus menulis:
"Sebab dalam Dialah berdiam seluruh kepenuhan keallahan secara jasmaniah." (Kolose 2:9)
Dan:
"Sebab sekalipun ada banyak 'allah'... namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa... dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus." (1 Korintus 8:5-6)
Paulus, seorang Farisi yang terlatih dalam Taurat, tidak pernah membayangkan dua Allah. Ia melihat YHWH yang esa bertindak melalui Yesus sang Mesias.
---
Kesimpulan: Amanat Agung di Telinga Para Rasul
Jika kita bisa duduk di Galilea bersama para rasul dan mendengar Yesus mengucapkan Amanat Agung, kita akan mendengar:
"Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan baptislah mereka dalam NAMA YHWH—yang adalah Bapa (Pencipta dan Pemelihara), yang adalah Anak (Raja Mesias dari Daud yang datang menebus), dan yang adalah Roh (Kuasa pembaruan yang diam di tengah umat). Aku sendiri, Yesus, adalah pernyataan penuh dari Nama itu. Karena itu, setiap lutut akan bertelut dan setiap lidah akan mengaku: Yesus Kristus adalah YHWH, bagi kemuliaan Allah Bapa."
Bukan tiga pribadi. Bukan tiga dewa. Bukan tiga substansi.
Satu YHWH yang dinyatakan sepenuhnya dalam Yesus sang Mesias, melalui kuasa Roh, untuk memulihkan segala sesuatu.
Inilah iman para rasul. Inilah iman yang diajarkan Yesus. Inilah iman yang hidup dalam Perjanjian Lama dan digenapi dalam Perjanjian Baru.
---
Seruan Akhir
Marilah kita, sebagai orang Kristen yang percaya kepada Alkitab sebagai firman Allah, kembali ke akar Ibrani iman kita. Bukan untuk menjadi Yahudi secara budaya, tetapi untuk memahami Alkitab sebagaimana Yesus dan para rasul memahaminya.
Buanglah kacamata filsafat Yunani yang tidak dikenal dalam Perjanjian Lama. Bukalah hati kita untuk mendengar firman YHWH sebagaimana firman itu diberikan—dalam bahasa Ibrani, dalam kerangka perjanjian, dalam relasi kasih setia, dan dalam pengharapan akan Mesias yang adalah YHWH sendiri yang datang menyelamatkan umat-Nya.
Karena:
"Tidak ada keselamatan di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (Kisah 4:12)
Dan Nama itu adalah YHWH dalam diri Yesus sang Mesias—satu nama, satu Allah, satu keselamatan, bagi semua bangsa.
---
Soli Deo Gloria — Kemuliaan bagi YHWH saja.
---
Komentar
Posting Komentar