Terjemahan - Sebuah Refleksi

Allah tidak dimuliakan oleh karena kebebasan (kemudahan) yang kita inginkan, tapi oleh kebebasan (kemudahan) Nya (anugerah). 

Ketika sebuah terjemahan yang sangat bebas (mendekati parafrase) dibaca oleh seseorang yang bukan penutur asli bahasa target, masalah serius dapat muncul, antara lain:

1. Ambiguitas dan Kehilangan Nuansa Teologis

Terjemahan bebas sering mengganti istilah teknis atau kiasan budaya dengan frasa modern yang "kurang tepat". Misalnya, "domba" (yang penuh makna dalam budaya pastoral Timur Dekat) mungkin diterjemahkan menjadi "pengikut" atau "orang yang lemah". Seorang pembaca non-ibu yang hanya mengandalkan terjemahan ini tidak akan memahami kedalaman simbolisme penggembalaan dalam Mazmur 23 atau Yohanes 10.

2. Tidak Mampu Membedakan Antara "Tafsir" dan "Teks Asli"

Parafrase secara inheren mencampurkan interpretasi penerjemah ke dalam teks. Pembaca non-ibu mungkin menganggap semua kata sebagai firman Tuhan yang langsung, padahal sebenarnya itu adalah hasil tafsir penerjemah.

· Contoh: Dalam The Living Bible (FAYH), Roma 3:25 diterjemahkan dengan frasa "mengampuni dosa-dosa yang telah dilakukan di masa lalu." Seorang pembaca non-ibu yang juga belajar dari terjemahan literal akan bingung, karena teks asli Yunani berbicara tentang "keluputan" atau "pengampunan atas pelanggaran sebelumnya" yang memiliki nuansa teologis khusus.

3. Kesulitan Melacak Kembali ke Bahasa Asli (Baca: Yunani/Ibrani)

Seorang pembaca non-ibu yang ingin studi lebih dalam (misalnya menggunakan konkordansi atau interlinear) akan gagal total karena frasa-frasa dalam terjemahan bebas tidak berkorespondensi satu-ke-satu dengan kata asli. Misalnya, kata Yunani logos bisa diterjemahkan sebagai "firman", "ajaran", "cerita", atau "pesan" tergantung konteksnya dalam terjemahan bebas. Pembaca non-ibu tidak akan bisa menebak kata asli mana yang sedang diterjemahkan.

4. Bahaya Kehilangan Literalitas untuk Pemahaman Doktrin

Bagi pembaca non-ibu yang mungkin juga belajar Alkitab dalam bahasa Inggris (atau bahasa asli lainnya), perbedaan besar antara terjemahan bebas dan teks formal akan membingungkan. Misalnya, Ibrani 11:1 dalam terjemahan bebas: "Faith is the confident assurance that what we hope for is going to happen" (TLB) vs "Faith is the substance of things hoped for" (KJV). Pembaca non-ibu akan kehilangan konsep teologis tentang "substansi" (hypostasis) yang sangat penting dalam diskusi teologis.

5. Kesalahan Komunikasi Lintas Budaya

Seorang pembaca non-ibu mungkin tidak memiliki konteks budaya yang cukup untuk menilai apakah suatu frasa dalam terjemahan bebas adalah idiom lokal atau terjemahan harfiah dari budaya Alkitab. Terjemahan bebas sering mengganti "mencium kaki" (budaya hormat Timur Tengah) dengan "menghormati" (budaya Barat modern). Pembaca non-ibu yang berasal dari budaya lain akan mengira Alkitab tidak pernah berbicara tentang ritual mencium kaki sebagai bentuk penghormatan—padahal itu ada, tetapi hilang dalam parafrase.

Kesimpulan untuk Pembaca Non-Ibu:

· Gunakan terjemahan bebas dengan sangat hati-hati - anggap sebagai komentar/devosional, bukan Alkitab utama.
· Bandingkan dengan terjemahan literal (misalnya TB, ESV, NASB) atau interlinear.
· Pastikan mengetahui metode penerjemahan yang tercantum dalam pendahuluan Alkitab tersebut.
· Jangan pernah mengandalkan satu terjemahan bebas saja untuk menentukan doktrin.

Saran praktis: Untuk pembaca non-ibu, lebih baik memulai dengan terjemahan formal (misalnya TB, KJV, ESV) baru kemudian membaca parafrase sebagai pembanding, bukan sebaliknya.

---

Merujuk pada Yesaya 28:10 dalam The Message (MSG) karya Eugene Peterson, yang tersedia di Bible Gateway.

Memang, MSG adalah parafrase paling ekstrem yang beredar luas, dan ayat ini menjadi contoh klasik bagaimana parafrase bisa mengubah makna secara radikal.

Perbandingan Teks

Teks asli (Ibrani, terjemahan literal):

Ki tsav latsav, tsav latsav, kav lakav, kav lakav, ze’er sham, ze’er sham.

Artinya kira-kira: "Perintah demi perintah, perintah demi perintah, garis demi garis, garis demi garis, sedikit di sini, sedikit di sana."

Terjemahan formal (TB, ESV, NASB, NKJV):
"Harus ini harus itu, harus ini harus itu, harus mesti harus mesti, harus mesti harus mesti, sedikit di sini, sedikit di sana."

Terjemahan MSG (The Message):

"Here a little, there a little, here a little, there a little. Da, da, da, da, blah, blah, blah, blah. That’s their kind of talk."

Terjemahan bebas (Indonesia): "Sedikit di sini, sedikit di sana, sedikit di sini, sedikit di sana. Da, da, da, da, bla, bla, bla, bla. Itulah cara bicara mereka."

Mengapa Ini Bermasalah (Khusus untuk Pembaca Non-Ibu)

1. Kehilangan Konteks Asli
   Ayat ini sebenarnya adalah ejekan nabi Yesaya terhadap para imam dan nabi Israel yang mabuk (ayat 7-9). Mereka mengejek pewahyuan Allah yang lambat dan berulang-ulang, seperti guru yang membosankan: "perintah demi perintah, garis demi garis." Dalam MSG, ejekan itu menjadi "da, da, da, bla, bla, bla" — sangat bebas sehingga pembaca non-ibu tidak akan tahu bahwa ini adalah kutipan ejekan, bukan gaya bicara Allah.
2. Tidak Ada Petunjuk Struktur Puisi Ibrani
   Dalam bahasa asli, pengulangan tsav latsav, kav lakav adalah permainan kata dan ritme yang sengaja dibuat menjemukan untuk mengejek. MSG menggantinya dengan da, da, da, blah, blah, blah — padahal ini tidak ada padanannya dalam budaya Timur Tengah kuno. Pembaca non-ibu akan mengira ini adalah bahasa Alkitab yang sembrono, padahal tidak.
3. Menghilangkan Makna Teologis Penting
   Ayat ini kemudian dikutip Paulus dalam 1 Korintus 14:21 (dari Yesaya 28:11-12) untuk menjelaskan karunia bahasa roh. Paulus menggunakan Septuaginta (terjemahan Yunani) yang masih mempertahankan struktur "perintah demi perintah." Dalam MSG, frasa itu hilang total, sehingga hubungan antara Yesaya 28 dan 1 Korintus 14 menjadi tidak terlihat oleh pembaca non-ibu.
4. Menciptakan Kesan yang Salah tentang Gaya Alkitab
   Pembaca non-ibu yang hanya membaca MSG akan menganggap Alkitab sering menggunakan "bla, bla, bla" — sesuatu yang tidak pernah terjadi dalam naskah asli. Ini mendistorsi rasa hormat terhadap teks suci.

Kesimpulan untuk Pembaca Seperti Anda

The Message (MSG) adalah parafrase pribadi Eugene Peterson (pendeta dan sarjana Perjanjian Baru, tetapi bukan ahli bahasa Ibrani tingkat tinggi untuk PL). Dia sendiri mengakui bahwa MSG adalah "bacaan devosional" (bukan Alkitab studi).

· Jangan gunakan MSG sebagai satu-satunya teks untuk memahami Yesaya 28, terutama jika Anda bukan penutur asli Inggris.
· Gunakan MSG hanya sebagai pembanding setelah membaca terjemahan formal (TB, ESV, NASB).
· Untuk Yesaya 28:10, bacalah dalam konteks penuh (ayat 7-13) dalam terjemahan formal agar memahami bahwa ini adalah ejekan terhadap nabi-nabi palsu.

Saran terbaik: Untuk teks sulit seperti Yesaya, gunakan interlinear Ibrani-Inggris (tersedia di Bible Gateway dengan fitur "Interlinear"). Anda akan melihat kata tsav (perintah) diulang, bukan "bla, bla, bla."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Artikel

Dosa Adam : Topeng2 Dosa - Pendahuluan

Shalom dan Beshalom