Simbol dan Realitas Salib

Simbol dan Realitas: Batas Teologis Penggunaan Salib dalam Ibadah

Simbol Bukan Tujuan Akhir

Setiap orang percaya perlu memahami perbedaan mendasar antara simbol dan realitas. Simbol berfungsi mengingatkan, bersifat pasif sebagai benda mati, dan tujuannya menunjuk ke luar dirinya. Sebaliknya, realitas—yakni Allah dan sesama—harus disembah (khusus Allah saja), dikasihi, dan dilayani, bersifat hidup sebagai pribadi, serta menjadi tujuan itu sendiri. Kitab Bilangan mencatat bagaimana ular tembaga awalnya menjadi alat keselamatan (Bilangan 21:8-9), tetapi ketika benda itu berubah menjadi berhala, raja Hizkia menghancurkannya (2 Raja-raja 18:4). Yesus sendiri menegaskan bahwa perjumpaan dengan sesama yang membutuhkan adalah perjumpaan dengan Dia: “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu melakukannya untuk Aku” (Matius 25:40).

Peringatan dari Ular Tembaga

Naskah 2 Raja-raja memberikan peringatan keras: “Ia menjauhkan bukit-bukit pengorbanan, meremukkan tugu-tugu berhala, dan menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa, karena sampai pada masa itu orang Israel memang membakar korban untuk ular itu. Namanya disebut Nehustan” (2 Raja-raja 18:4). Nama “Nehustan” yang berarti “benda tembaga” menjadi ejekan ilahi terhadap upaya menguduskan benda mati. Jika salib kayu diperlakukan sebagai sumber berkat, tempat ziarah yang mewajibkan ritual, atau objek yang “lebih suci” dari benda lain, maka ia layak disebut Nehustan.

Realisasi Penyembahan yang Sejati

Yesus sendiri menolak penyembahan yang tidak berbuah pada sesama. Dalam perumpamaan orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:30-37), seorang imam dan seorang Lewi—yang paling akrab dengan Bait Allah, kurban, dan simbol-simbol suci—melewati orang yang terluka. Sebaliknya, orang Samaria yang tidak memiliki simbol-simbol suci menurut tradisi Yahudi justru menjadi realisasi kasih Allah. Yesus bertanya, “Siapa di antara ketiga orang ini yang menjadi sesama?” Bukan “Siapa yang memiliki salib yang benar?”

Bahaya Simbol Menggantikan Realitas

Sering terjadi pemujaan simbol yang keliru. Seseorang merasa lebih dekat dengan Allah karena memegang atau mencium salib, padahal yang benar adalah merasa dekat dengan Allah karena mengampuni, memberi makan, dan membela yang tertindas. Berziarah ke “tempat salib” untuk mendapatkan berkah khusus seharusnya digantikan dengan berziarah ke rumah sakit, penjara, dan tempat kelaparan untuk melayani Kristus di sana. Berlama-lama berdoa di depan salib tetapi tidak punya waktu untuk tetangga yang sakit bertentangan dengan ajaran Yakobus: “Pergilah dengan selamat, kenakanlah kain panas dan makanlah” tetapi tanpa memberi, iman itu mati (Yakobus 2:15-16). Menjadikan salib sebagai jimat penolak setan keliru karena yang benar adalah menolak setan dengan hidup dalam kasih, sebab “kasih melenyapkan ketakutan” (1 Yohanes 4:18).

Mengapa Simbol Tetap Diperbolehkan

Paulus berkata, “Segala sesuatu diperbolehkan, tetapi bukan segala sesuatu berguna” (1 Korintus 6:12). Simbol boleh ada jika fungsinya hanya sebagai pengingat—seperti foto orang tua di dompet, bukan altar untuk menyembah foto itu. Simbol tidak boleh pernah menggantikan perintah utama, yaitu mengasihi Allah dan sesama (Matius 22:37-40). Ketika simbol menghalangi relasi dengan sesama, ia harus disingkirkan. Yesus bersabda, “Jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah” (Matius 5:29). Jika salib menyesatkan seseorang untuk lebih peduli pada benda daripada pada orang lapar, maka salib itu harus “dicungkil” dari hidupnya.

Konsekuensi Praktis Iman

Memakai salib di leher diperbolehkan jika itu membantu mengingat pengorbanan Kristus. Tetapi jika seseorang tidak memberi makan orang lapar yang ditemuinya hari ini, salib itu menjadi bohong. Yesus menegaskan, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku ‘Tuhan, Tuhan’ akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku” (Matius 7:21). Kehendak Bapa adalah menjadi realisasi salib bagi sesama: mengampuni, berbelas kasih, dan berbagi. Salib yang benar adalah salib yang menghilang, sehingga yang tampak hanyalah Kristus di dalam diri saudara yang lapar, haus, telanjang, asing, sakit, dan dipenjarakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dosa Adam : Topeng2 Dosa - Pendahuluan

Daftar Isi Artikel

Shalom dan Beshalom