Opini atas Kebijakan Israel Modern

Berhati-Hati dengan Opini atas Kebijakan Israel Modern

Kesimpulan yang sangat kritis dan sering diabaikan banyak orang adalah perlunya berhati-hati dalam membentuk opini atas kebijakan Israel modern. Berikut adalah bahaya dan prinsip yang perlu diperhatikan.

Bahaya Menganggap Diri Membela Allah

Beberapa kesalahan serius dapat terjadi ketika seseorang mengklaim "Allah bersama Israel" secara mutlak untuk setiap kebijakan politiknya. Tindakan ini menempatkan diri sebagai juru bicara Allah tanpa otoritas. Mengutuk musuh-musuh Israel dengan dalih bahwa Allah akan mengutuk siapa yang mengutuk Israel (Kejadian 12:3) juga keliru, karena janji tersebut diberikan kepada Abraham dalam konteks Perjanjian Lama, bukan otorisasi bagi siapa pun untuk mengutuk atas nama Israel modern. Membenarkan tindakan kontroversial seperti penggusuran, pemboman, atau blokade sebagai "kehendak Allah" sama seperti orang yang membenarkan kekejaman atas nama agama, dan ini merupakan pencemaran nama Allah.

Kriteria Nabi Palsu

Ulangan 18:20-22 menetapkan bahwa nabi yang mengucapkan sesuatu atas nama Tuhan dengan sembarangan harus dihukum mati. Ada beberapa ciri nabi palsu yang relevan dengan opini politik. Pertama, berbicara atas nama Tuhan tanpa Tuhan mengutus, misalnya mengatakan "Allah pasti akan menghancurkan Iran demi Israel" tanpa ada wahyu yang jelas. Kedua, ucapan atau opini tidak digenapi, seperti klaim bahwa tahun ini Teluk Arab akan jatuh ke tangan Israel. Jika tidak terjadi, orang tersebut terbukti palsu. Ketiga, membela kekerasan yang tidak sesuai dengan karakter Allah yang penuh kasih dan keadilan. Yesaya 1:17 memerintahkan untuk belajar berbuat baik dan mengusahakan keadilan, bukan membenarkan segala kebijakan.

Pola Yesus dan Para Rasul Menghadapi Pemerintahan

Menghadapi pemerintahan Romawi yang menjajah, menyembah berhala, dan kejam, Yesus berkata, "Berikan kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar" (Matius 22:21). Ia tidak mengutuk dan tidak mengkultuskan pemerintahan tersebut. Menghadapi Pilatus yang korup dan tidak adil, Yesus menyatakan, "Kamu tidak mempunyai kuasa apa pun atas Aku" (Yohanes 19:11). Yesus tetap mengakui adanya otoritas dari Allah, tetapi tidak membenarkan tindakan Pilatus. Paulus di hadapan Festus dan Agripa menghormati jabatan mereka, namun tidak pernah berkata bahwa Allah bersama Roma secara mutlak. Prinsipnya adalah hormati pemerintah sebagai institusi sesuai Roma 13, tetapi jangan memberi cap bahwa Allah bersama kebijakan spesifiknya tanpa perintah langsung dari Tuhan.

Sikap yang Tepat Terhadap Israel Modern

Sikap yang tepat adalah mendukung hak Israel untuk hidup dan berdiri sebagai bangsa, karena itu adalah urusan politik internasional. Namun tidak akan mengatakan bahwa setiap kebijakan pemerintah Israel adalah kehendak Allah. Tidak akan mengutuk musuh-musuh Israel atas nama Allah karena bukanlah nabi Perjanjian Lama. Tidak akan mengklaim mengetahui rencana Allah secara spesifik tentang perang atau kemenangan Israel. Yang dapat dilakukan hanyalah berdoa: "Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga," termasuk di Israel dan Palestina.

Peringatan Akhir dari Rasul Paulus

Paulus dalam Roma 2:17-24 memperingatkan orang Yahudi yang mengandalkan status sebagai umat pilihan tetapi hidup tidak sesuai dengan hukum Taurat. Ia berkata bahwa karena merekalah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain. Artinya, klaim membela Allah tetapi opini dan kebijakan yang tidak adil justru dapat mencemarkan nama Allah di mata dunia. Ini adalah bahaya besar bagi siapa pun, baik yang pro-Israel maupun pro-Palestina, yang berbicara atas nama Allah tanpa otoritas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dosa Adam : Topeng2 Dosa - Pendahuluan

Daftar Isi Artikel

Shalom dan Beshalom