Salib, Gereja, dan Uang Persembahan

Salib, Gereja, dan Uang Persembahan: Tiga Simbol yang Sama

Gereja Bukan Bangunan, Melainkan Komunitas

Kata Yunani ekklesia berarti kumpulan orang yang dipanggil keluar, bukan bangunan fisik. Bangunan baru ada setelah abad ke-3 Masehi. Jemaat perdana berkumpul di rumah-rumah (Roma 16:5; Filemon 1:2), tidak memiliki gedung gereja yang suci, dan tidak menganggap tempat tertentu lebih kudus dari tempat lain. Logika ini persis sama dengan logika salib: kesalahan menyembah benda mati pada salib kayu dikoreksi dengan kebenaran bahwa salib berfungsi mengingat pengorbanan Kristus. Demikian pula kesalahan menganggap bangunan lebih suci dikoreksi dengan kebenaran bahwa jemaat sendirilah bait Allah. Paulus dengan keras berkata, "Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah?" (1 Korintus 3:16). Bukan gedungnya, sama seperti bukan kayu salibnya, melainkan komunitas yang hidup dalam kasih adalah realitasnya.

Penggunaan Uang Persembahan dalam Jemaat Perdana

Jemaat perdana tidak mengumpulkan uang untuk membangun gedung megah, membeli perlengkapan liturgi emas, membayar gaji pendeta besar, atau membuat patung serta salib mahal. Sebaliknya, "Tidak ada seorang pun di antara mereka yang berkekurangan. Sebab semua orang yang memiliki tanah atau rumah menjualnya, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya" (Kisah Para Rasul 4:34-35). Tujuan kolekte menurut Perjanjian Baru adalah membagi kepada semua yang membutuhkan (Kisah Para Rasul 2:44-45), mengirim bantuan untuk saudara-saudara yang kelaparan (Kisah Para Rasul 11:27-30), menciptakan keseimbangan di mana kelebihan seseorang menutupi kekurangan orang lain (2 Korintus 8:13-15), menolong janda-janda yang benar-benar miskin (1 Timotius 5:16), serta menjaga yatim piatu dan janda dalam kesusahan mereka (Yakobus 1:27).

Konsekuensi Persembahan yang Salah Sasaran

Jika sebuah gereja sebagai komunitas mengumpulkan uang lalu menghabiskan delapan puluh persen untuk gedung dan acara internal, sepuluh persen untuk gaji staf, dan sepuluh persen untuk misi yang sering juga untuk biaya administrasi, maka gereja itu telah melakukan apa yang Yesus kritik pada para ahli Taurat: "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan: keadilan, belas kasihan dan kesetiaan" (Matius 23:23). Mereka rajin membawa persembahan ke Bait Allah sebagai simbol, tetapi mengabaikan realitas yaitu sesama yang membutuhkan.

Similaritas Lengkap antara Simbol dan Realitas

Salib kayu sebagai objek penyembahan adalah simbol yang keliru, sedangkan realitas alkitabiahnya adalah hidup mengampuni dan berkorban bagi sesama. Gedung gereja sebagai rumah Tuhan adalah simbol yang keliru, sedangkan realitas alkitabiahnya adalah komunitas jemaat sebagai bait Allah. Uang untuk bangunan dan perlengkapan suci adalah simbol yang keliru, sedangkan realitas alkitabiahnya adalah uang untuk memberi makan, memampukan, dan membebaskan. Prinsip yang sama berulang: benda, uang, atau ritual yang mengarahkan perhatian ke dalam—ke objek suci—adalah penyimpangan. Yang benar adalah mengarahkan ke luar, kepada tubuh Kristus yang menderita dalam wujud sesama.

Ujian untuk Gereja Manapun Hari Ini

Sebuah gereja dapat diuji dengan satu pertanyaan sederhana: dari setiap seratus rupiah yang masuk ke kas gereja, berapa rupiah yang langsung menyentuh hidup orang lapar, telanjang, sakit, terpenjara, atau yatim janda? Jika jawabannya kurang dari lima puluh rupiah, maka gereja itu secara rohani telah membangun patung ular tembaga—objek yang dulu sempat dipakai Allah tetapi kini menjadi berhala. Jika jawabannya mendekati sembilan puluh hingga seratus rupiah, maka gereja itu hidup dalam realitas yang sama dengan jemaat perdana.

Jemaat Perdana sebagai Teladan

Jemaat perdana tidak memiliki salib di dinding karena simbol itu datang belakangan, tidak memiliki gedung megah, tidak memiliki organ, panggung, atau sistem suara, dan tidak memiliki perhiasan liturgi. Yang mereka miliki hanyalah kasih yang dibagikan dalam wujud uang dan makanan, air baptisan sebagai simbol mati terhadap diri sendiri, dan Perjamuan Kudus sebagai simbol tubuh dan darah Kristus yang dipecahkan untuk sesama. Air dan roti adalah simbol yang sangat sederhana, tidak mahal, dan tidak pernah berisiko menjadi objek pemujaan mewah. Mereka mengerti bahwa simbol boleh ada, tetapi realitasnya adalah memberi makan saudara yang lapar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dosa Adam : Topeng2 Dosa - Pendahuluan

Daftar Isi Artikel

Shalom dan Beshalom