Perbedaan Israel Umat Perjanjian dan Israel Modern

Perbedaan Krusial antara Israel Umat Perjanjian dan Israel Negara Modern

Memahami perbedaan antara Israel sebagai umat perjanjian Allah dan Israel sebagai entitas politik modern merupakan kunci untuk menghindari banyak kekacauan teologis saat ini.

Israel sebagai Umat Perjanjian

Dasar dari Israel sebagai umat perjanjian adalah janji Allah kepada Abraham, Ishak, dan Yakub (Kejadian 12, 15, 17). Status mereka kekal secara janji keselamatan, sebagaimana dinyatakan dalam Roma 11:29 bahwa Allah tidak menyesali panggilan-Nya. Otoritas yang mereka terima meliputi hukum Taurat, para nabi, dan perjanjian lama. Mereka terikat pada ketentuan perjanjian Sinai, di mana berkat dan kutuk bergantung pada ketaatan. Saat ini, sebagian dari mereka percaya kepada Yesus sebagai Mesias, sebagian tidak, namun mereka tetap dikasihi Allah karena nenek moyang mereka (Roma 11:28).

Israel sebagai Pemerintahan Politik Modern

Berbeda halnya dengan Israel modern. Dasar berdirinya adalah deklarasi kemerdekaan tahun 1948, pengakuan PBB, perang, dan diplomasi. Statusnya adalah negara sekuler dengan sistem demokrasi, bukan teokrasi. Otoritas yang dijalankan adalah otoritas sipil seperti negara-negara lain, sesuai dengan Roma 13:1-7, bukan otoritas nabi atau imam. Tindakan yang diambil berupa kebijakan politik, militer, dan ekonomi yang tidak secara otomatis mewakili kehendak Allah. Perbedaan kuncinya adalah Israel modern bukanlah kelanjutan dari teokrasi Perjanjian Lama karena tidak ada Urim-Tumim, tidak ada nabi yang diakui secara nasional, dan tidak ada Bait Suci.

Mengapa Perbedaan Ini Krusial

Beberapa kesalahan umum perlu dikoreksi. Pertama, anggapan bahwa setiap kemenangan militer Israel modern adalah berkat ilahi langsung seperti dalam Perjanjian Lama harus dikoreksi karena tidak ada jaminan demikian. Kemenangan bisa jadi karena strategi, teknologi, atau sekadar kehendak politik Allah secara umum, sebagaimana Amsal 21:1 menyatakan bahwa Tuhan membolak-balikkan hati raja, tetapi itu tidak berarti raja tersebut adalah nabi-Nya.

Kedua, anggapan bahwa tindakan kontroversial pemerintah Israel adalah menjalankan otoritas ilahi untuk mengutuk musuh merupakan penyalahgunaan teologi Perjanjian Lama. Otoritas ilahi untuk mengutuk hanya diberikan kepada nabi yang diurapi secara khusus, bukan kepada perdana menteri atau jenderal mana pun.

Ketiga, membela semua kebijakan Israel hanya karena mereka adalah umat pilihan juga keliru. Paulus sendiri menegur Petrus secara terbuka dalam Galatia 2:11-14 meskipun Petrus adalah orang Yahudi. Umat pilihan pun dapat berbuat salah.

Menafsirkan Kemenangan Israel Modern

Jika seseorang melihat "kemenangan" Israel modern, hal itu dapat dijelaskan secara politis-militer melalui intelijen, teknologi, aliansi, dan kelemahan lawan. Secara providensial umum, Tuhan mengatur sejarah semua bangsa, bukan hanya Israel, sesuai dengan Daniel 2:21 yang menyatakan bahwa Tuhan menurunkan raja dan mengangkat raja. Namun kemenangan tersebut bukan karena Israel sedang menerapkan otoritas ilahi untuk mengutuk seperti yang dilakukan Elisa. Bahkan para nabi Perjanjian Lama pun hanya mengutuk atas perintah langsung Tuhan, bukan atas inisiatif nasionalisme.

Kesimpulan yang Seimbang

Israel sebagai keturunan Abraham tetap dikasihi Allah dan memiliki tempat dalam rencana keselamatan-Nya (Roma 11). Namun Israel sebagai pemerintahan modern adalah entitas politik yang tidak lebih sakral dari negara-negara lain. Umat Kristen dipanggil untuk mendoakan perdamaian Yerusalem (Mazmur 122:6), bukan untuk membenarkan semua kebijakannya secara teologis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dosa Adam : Topeng2 Dosa - Pendahuluan

Daftar Isi Artikel

Shalom dan Beshalom