Salib Antara Pengingat dan Berhala
Salib Antara Pengingat dan Berhala
Bahaya Meninggikan Simbol
Sepanjang sejarah gereja, salib kerap melampaui fungsi aslinya. Berdoa kepada salib, menciumnya sebagai sumber kuasa, atau menjadikannya jimat adalah praktik yang lahir dari kekeliruan mendasar. Ini serupa dengan berbakti pada foto orang tua sambil mengabaikan orang tua itu sendiri. Yesus sendiri pernah menegur orang Farisi yang menyelidiki Kitab Suci—yang merupakan cermin Kristus—namun enggan datang kepada-Nya untuk memperoleh hidup. Firman yang hidup digantikan oleh benda mati.
Yesus Tidak Ditemukan dalam Objek Suci
Perikop domba dan kambing dalam Injil Matius memberikan koreksi radikal. Yesus tidak berkata, “Aku ada di dalam salib.” Ia berkata, “Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan. Ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum.” Logika-Nya membalikkan segala bentuk religiusitas yang berpusat pada benda. Yesus ditemukan dalam tubuh orang yang menderita, bukan dalam kayu atau logam yang disucikan. Berbakti pada salib sambil membiarkan sesama kelaparan adalah kebohongan rohani yang akan Yesus tolak dengan tegas: “Aku tidak mengenal kamu.”
Fungsi Salib yang Sejati
Salib bukan tanpa guna, tetapi fungsinya terbatas sebagai pengingat sementara. Paulus memakai metafora cermin yang samar-samar—berguna untuk saat ini, namun bukan tujuan akhir. Setiap simbol yang layak adalah simbol yang menghilang setelah menunjuk kepada realitas yang lebih besar. Yohanes Pembaptis memberi prinsip abadi: “Ia harus makin besar, aku harus makin kecil.” Salib pun tunduk pada hukum yang sama. Kristus harus makin besar, simbol salib harus makin kecil.
Ketika Salib Menjadi Singkatan dari Injil
Dalam pemberitaan Paulus, “salib” bukanlah benda kayu yang dikuduskan. Ia adalah singkatan dari peristiwa kematian Kristus sebagai kurban. Memberitakan salib berarti memberitakan Injil, bukan menguduskan artefak. Jika seseorang meninggikan kayu salib secara fisik, ia telah melakukan apa yang dituduhkan Rasul Paulus kepada orang-orang yang menyembah makhluk dengan melupakan Pencipta. Kebenaran Allah digantikan dengan dusta ketika simbol mengambil tempat realitas.
Ujian Paling Sederhana dan Paling Berat
Salib kayu tidak bisa memberi makan orang lapar. Fakta ini saja sudah cukup untuk menguji kesalehan. Injil tentang salib memang menggerakkan hati untuk memberi makan, tetapi berdoa berjam-jam di depan salib sementara tetangga kelaparan adalah kemunafikan yang setara dengan imam dan Lewi yang melewati korban penyamun dalam perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati. Yesus mengutip nabi Hosea: “Aku menginginkan belas kasihan dan bukan persembahan.” Orang Farisi membawa persembahan ke Bait Allah seperti orang modern membawa devosi ke depan salib, namun mereka tidak mengasihi sesama. Belas kasihan selalu mengalahkan ritual.
Memegang Salib dengan Benar
Perbedaan antara sikap yang keliru dan yang benar terletak pada arah hati. Menyembah salib sebagai objek berbanding terbalik dengan mengingat peristiwa salib yang mengarah pada Kristus. Berdoa kepada salib berbeda dengan berdoa kepada Bapa melalui Kristus yang bangkit. Menjadikan salib jimat tidak sama dengan menjadikan teladan pengorbanan sebagai gaya hidup yang mengasihi sesama. Meninggikan simbol adalah kebalikan dari menghidupi realitas, di mana setiap orang percaya adalah tubuh Kristus itu sendiri.
Salib yang Sejati
Salib yang otentik bukanlah benda kayu yang tergantung di leher. Ia adalah hidup yang mati bagi diri sendiri dan hidup bagi sesama. Rasul Yohanes menyatakan dengan gamblang: jangan mengasihi dengan perkataan atau lidah, tetapi dengan perbuatan dan kebenaran. Hanya salib yang hidup dalam tindakan belas kasihan inilah yang Yesus kenali pada hari penghakiman. Segala sesuatu yang lain—segala simbol, segala benda suci, segala jimat—akan lenyap bersama debu.
Komentar
Posting Komentar