Kelahiran Baru, Status Anak Allah, Dan Risiko Penyimpangan Teologis
Bahaya Kesalahpahaman Tentang Adopsi : Kelahiran Baru, Status Anak Allah, Dan Risiko Penyimpangan Teologis.
Pendahuluan
Dalam kekristenan, konsep "adopsi" (pengangkatan anak) dan "kelahiran baru" adalah dua kebenaran alkitabiah yang mendasar. Namun, ketika salah satu dari kedua konsep ini dipahami secara tidak seimbang—terutama jika adopsi diabaikan atau diremehkan—muncul risiko kesalahpahaman teologis yang serius. Beberapa orang bahkan bisa terjebak dalam pemikiran bahwa mereka "turut serta menjadi pencipta" atau memiliki hak ilahi yang tidak semestinya.
Artikel ini akan membahas:
1. Dasar Alkitabiah tentang Adopsi dan Kelahiran Baru
2. Persetujuan dan Bantahan terhadap Pandangan yang Memisahkan Keduanya
3. Bahaya Kesalahpahaman tentang Adopsi
4. Contoh Penyimpangan dalam Sejarah Gereja
5. Solusi Teologis yang Seimbang
---
I. Dasar Alkitabiah tentang Adopsi dan Kelahiran Baru
A. Kelahiran Baru: Transformasi Rohani
- Yohanes 3:3-7 – Yesus menegaskan bahwa seseorang harus "dilahirkan kembali" untuk melihat Kerajaan Allah.
- 1 Petrus 1:23 – Kita "dilahirkan kembali, bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana."
- 2 Korintus 5:17 – "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru."
Makna Teologis:
Kelahiran baru adalah kerjaan Roh Kudus yang mengubah natur rohani seseorang, membuatnya hidup dalam Kristus.
B. Adopsi: Status Baru sebagai Anak Allah
- Roma 8:15 – "Kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah."
- Galatia 4:4-5 – "Allah mengutus Anak-Nya untuk menebus kita, supaya kita diterima menjadi anak."
- Efesus 1:5 – "Dalam kasih, Ia telah menentukan kita dari semula untuk diangkat menjadi anak-anak-Nya melalui Yesus Kristus."
Makna Teologis:
Adopsi adalah anugerah legal di mana Allah mengubah status kita dari musuh menjadi anak-Nya.
---
II. Persetujuan dan Bantahan terhadap Pandangan yang Memisahkan Adopsi dan Kelahiran Baru
A. Argumen yang Mendukung (Persetujuan)
Beberapa orang berpendapat bahwa hanya tubuh yang diadopsi, sedangkan roh mengalami kelahiran baru, dengan alasan:
1. Kelahiran baru lebih bersifat "organik" (Yohanes 1:12-13).
2. Tubuh masih menantikan penebusan penuh (Roma 8:23).
Penjelasan :
1. Kelahiran Baru vs. Adopsi dalam Keselamatan
- Alkitab menekankan kelahiran baru (Yohanes 3:5-6) sebagai cara seseorang masuk ke dalam keluarga Allah. Ini menunjukkan bahwa kita dilahirkan kembali secara rohani, bukan sekadar diadopsi.
- 1 Petrus 1:3 menyatakan bahwa kita "dilahirkan kembali kepada pengharapan yang hidup oleh kebangkitan Yesus Kristus." Ini mendukung gagasan bahwa hubungan kita dengan Allah bersifat kelahiran, bukan hanya adopsi.
2. Perbedaan antara Tubuh dan Roh
- Pernyataan tersebut membedakan antara tubuh (fisik) yang mungkin dianggap sebagai "diadopsi" dalam rencana keselamatan, sedangkan roh mengalami kelahiran baru.
- Roma 8:23 berbicara tentang "penebusan tubuh kita," yang bisa diartikan bahwa tubuh kita masih menantikan pemulihan penuh, sementara roh kita sudah diselamatkan.
B. Argumen yang Menentang (Bantahan)
Namun, Alkitab tidak memisahkan kedua konsep ini secara ekstrem:
1. Adopsi adalah bagian integral dari keselamatan (Efesus 1:5).
2. Kelahiran baru dan adopsi saling melengkapi – yang satu tentang transformasi, yang lain tentang status.
3. Tidak ada dasar alkitabiah yang mengatakan bahwa "hanya tubuh yang diadopsi."
Penjelasan :
1. Adopsi adalah Konsep Alkitabiah yang Kuat
- Roma 8:15, Galatia 4:5, dan Efesus 1:5 dengan jelas menyebut orang percaya sebagai "diadopsi" menjadi anak-anak Allah.
- Adopsi dalam konteks Alkitab bukanlah konsep sekunder, melainkan bagian integral dari keselamatan. Kita menjadi ahli waris Kerajaan Allah melalui adopsi ini.
2. Tidak Ada Pemisahan Antara Kelahiran Rohani dan Adopsi
- Alkitab tidak memisahkan antara "kelahiran baru" dan "adopsi" sebagai dua proses terpisah. Keduanya menggambarkan aspek berbeda dari hubungan kita dengan Allah:
- Kelahiran baru (Yohanes 3) → Transformasi natur kita.
- Adopsi (Roma 8) → Perubahan status kita dari budak dosa menjadi anak-anak Allah.
- Keduanya saling melengkapi, bukan bertentangan.
3. "Keluarga Allah" Melibatkan Baik yang Lahir Kembali Maupun yang Diadopsi
- Yohanes 1:12-13 menyatakan bahwa semua orang yang menerima Kristus dilahirkan dari Allah, tetapi Galatia 3:26-29 juga menegaskan bahwa kita menjadi anak-anak Allah melalui iman (yang mencakup adopsi).
- Gagasan bahwa "hanya tubuh yang diadopsi" tidak memiliki dasar alkitabiah yang kuat, karena keselamatan mencakup seluruh keberadaan kita (roh, jiwa, dan tubuh - 1 Tesalonika 5:23).
---
III. Bahaya Kesalahpahaman tentang Adopsi
Pernyataan bahwa "hanya tubuh yang diadopsi, sedangkan roh dilahirkan kembali" dapat menimbulkan kesalahpahaman teologis yang serius, terutama jika dipahami secara ekstrem:
Risiko Gagasan "Manusia Menjadi Pencipta" (Teologi yang Terlalu Tinggi tentang Diri)
Jika seseorang menekankan kelahiran baru tanpa adopsi, mereka bisa terjebak dalam pemikiran bahwa:
- "Roh saya adalah bagian dari Allah sehingga saya memiliki kuasa ilahi."
- "Saya bisa menciptakan realitas dengan iman seperti Allah."
Penjelasan :
- Jika seseorang menganggap bahwa "roh kita adalah bagian dari natur ilahi melalui kelahiran baru" tanpa keseimbangan pemahaman tentang adopsi sebagai anugerah, ada risiko:
- Mengaburkan Batas Antara Pencipta dan Ciptaan
- Alkitab jelas menyatakan bahwa manusia tetap ciptaan (Yesaya 43:7; Kolose 1:16), sekalipun mereka diangkat menjadi anak-anak Allah.
- 2 Petrus 1:4 memang mengatakan kita "mengambil bagian dalam natur ilahi", tetapi ini tidak berarti kita menjadi Allah—melainkan kita dikuduskan dan dibentuk serupa dengan Kristus (Roma 8:29).
- Kesalahan Teologi "Manusia Dapat Mencipta seperti Allah"
- Beberapa aliran sesat (seperti New Age atau gnostisisme modern) mengajarkan bahwa manusia pada dasarnya adalah "allah-allah kecil" yang bisa mencipta realitas mereka sendiri.
- Jika "kelahiran baru" dipisahkan sepenuhnya dari konsep adopsi sebagai kasih karunia, seseorang bisa terjebak dalam kesombongan rohani, seolah-olah mereka memiliki hak atau kuasa ilahi yang otonom.
Contoh Penyimpangan:
- Teologi Kemakmuran Ekstrem – Mengajarkan bahwa manusia bisa "memerintah Allah" dengan iman.
- Gerakan New Age – Mengklaim bahwa manusia adalah "allah-allah kecil."
B. Antinomianisme (Penolakan terhadap Hukum Moral)
Jika seseorang menganggap "rohnya sudah sempurna karena dilahirkan kembali," mereka bisa mengabaikan kekudusan dan hidup dalam dosa.
C. Penyangkalan terhadap Anugerah
Adopsi mengingatkan kita bahwa status kita sebagai anak Allah adalah pemberian, bukan hak alami (Efesus 2:8-9). Tanpa ini, orang bisa jatuh dalam kesombongan rohani.
---
IV. Contoh Penyimpangan karena Kesalahpahaman dalam Sejarah Gereja
A. Gnostisisme
- Memisahkan "roh ilahi" yang sempurna dalam diri manusia dari tubuh yang jahat, mengklaim bahwa "roh yang tercerahkan" bisa melampaui Allah Pencipta.
- Menolak kemanusiaan Yesus dan mengklaim pengetahuan rahasia untuk keselamatan.
B. Mormonisme
- Mengajarkan bahwa manusia bisa menjadi allah.
- Merendahkan konsep adopsi alkitabiah.
C. Gerakan Word of Faith Ekstrem
- Mengajarkan "iman sebagai kekuatan kreatif" dengan demikian manusia bisa "menciptakan realitas" dengan iman, seolah-olah mereka memiliki kuasa penciptaan seperti Allah.
D. Antinomianisme (Penolakan Hukum Moral): Jika seseorang menganggap "rohnya sudah sempurna karena dilahirkan kembali," mereka bisa mengabaikan kekudusan dan hidup dalam dosa.
---
V. Solusi Teologis yang Seimbang
Untuk menghindari kesalahpahaman ini, kedua konsep (kelahiran baru dan adopsi) harus diajarkan bersama:
1. Kelahiran Baru → Mengubah natur kita (Yohanes 3:3).
2. Adopsi → Mengingatkan bahwa status kita adalah anugerah, bukan hak alami (Roma 8:15-17). (Efesus 2:8-9).
3. Penciptaan vs. Penebusan → Kita tetap ciptaan yang ditebus, bukan pencipta (Wahyu 4:11), Kita tidak pernah setara dengan Allah, sekalipun kita disebut "anak-anak-Nya" (1 Yohanes 3:1-2).
- Tanpa pemahaman ini, orang bisa mengira:
- "Kelahiran rohani membuat saya secara ontologis menjadi Allah" (kesalahan yang mirip dengan ajaran Mormonisme tentang "manusia bisa menjadi allah").
- "Saya berhak menuntut kuasa ilahi untuk menciptakan/mengendalikan realitas sesuai kehendak saya" (seperti penyimpangan Teologi Kemakmuran ekstrem).
Kesimpulan:
Pernyataan berisiko memisahkan kelahiran rohani dan adopsi secara tidak sehat.
Kesalahpahaman tentang adopsi bisa membawa konsekuensi serius, mulai dari kesombongan rohani hingga penyimpangan doktrin.
Kelahiran baru dan adopsi harus diajarkan bersama untuk menjaga keseimbangan antara anugerah Allah dan tanggung jawab manusia.
Alkitab mengajarkan keduanya secara harmonis untuk menjaga kerendahan hati dan kebenaran tentang relasi kita dengan Allah.
- Pernyataan tersebut benar dalam menekankan pentingnya kelahiran baru sebagai cara masuk ke dalam keluarga Allah.
- Namun, pernyataan itu keliru jika menganggap adopsi hanya berlaku untuk tubuh dan bukan bagian esensial dari keselamatan.
- Kedua konsep (kelahiran baru & adopsi) adalah kebenaran alkitabiah yang saling melengkapi, bukan bertentangan.
Seorang Kristen dapat menerima pentingnya kelahiran baru tanpa menolak kebenaran adopsi ilahi, karena Alkitab mengajarkan keduanya.
"Lihatlah betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah!" (1 Yohanes 3:1).
Komentar
Posting Komentar