Benarkah Yesus mati “terkutuk” di salib ?

Pendahuluan

Klaim bahwa "Yesus mati terkutuk di salib" sering memicu perdebatan teologis, terutama dalam hal metode penafsiran Alkitab. Untuk menilai apakah pernyataan ini mengandung kesalahan hermeneutika (prinsip interpretasi) atau eksegese (aplikasi penafsiran), diperlukan analisis mendalam terhadap konteks kitab suci, linguistik, dan teologi Kristen. Tulisan ini akan mengkaji frasa tersebut melalui lensa: 1. Dasar alkitabiah (khususnya Galatia 3:13 dan Ulangan 21:23), 2. Prinsip hermeneutika yang relevan, 3. Implikasi teologis dari konsep "kutuk" dalam penebusan Kristus. Dengan pendekatan ini, kita dapat menentukan apakah klaim tersebut merupakan interpretasi yang sahih atau justru menyimpang dari metode penafsiran yang tepat. ---


 1. Analisis Teks dan Konteks  

- Ayat terkait:  

  - Galatia 3:13 (TB): "Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: 'Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!'" (merujuk pada Ulangan 21:23).  

  - 2 Korintus 5:21: "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita..."  


- Makna teologis:  

  - Dalam perspektif Perjanjian Baru, Yesus memang "menjadi kutuk" (dalam arti menanggung konsekuensi dosa manusia) sesuai hukum Taurat. Ini adalah bagian dari doktrin penebusan (atonement).  

  - Namun, klaim "Yesus terkutuk" tanpa penjelasan konteks bisa menimbulkan kesalahpahaman, seolah-olah Yesus sendiri adalah orang berdosa atau secara moral terkutuk (padahal Ia tanpa dosa, lihat Ibrani 4:15).  


---


 2. Jenis Kesalahan  

 a. Kesalahan Eksegese: 

  - Jika kalimat ini dipahami sebagai penyangkalan keilahian Yesus atau mengabaikan konteks penebusan, maka ini adalah kesalahan eksegese (gagal menafsirkan teks secara utuh).  

  - Contoh: Mengutip Galatia 3:13 tanpa memperhatikan frasa "karena kita" (Yesus menjadi kutuk representatif, bukan intrinsik).  


 b. Kesalahan Hermeneutika:  

  - Jika kalimat ini didasarkan pada prinsip penafsiran yang keliru (misalnya: menganggap "kutuk" dalam Ulangan 21:23 sebagai kutuk moral, bukan hukum Taurat), maka ini masalah hermeneutika.  

  - Contoh: Menolak bahwa Perjanjian Baru menafsirkan Ulangan 21:23 secara figuratif.  


 c. Kalimat ini tepat secara teologis jika dimaknai sebagai:  

  - Yesus menanggung kutuk dosa manusia (bukan diri-Nya sendiri terkutuk).  

  - Ini adalah penafsiran yang sahih selama konsisten dengan doktrin substitusi Kristus (penal substitution).  


---


 3. Kesimpulan  

- Kesalahan utama terletak pada eksegese jika:  

  - Kalimat dipahami secara literal tanpa konteks penebusan, atau dianggap menyangkal natur Yesus yang tanpa dosa.  

- Kesalahan hermeneutika jika:  

  - Asumsi dasarnya salah (misalnya: mengabaikan bahwa Perjanjian Baru menafsirkan Ulangan 21:23 secara metaforis).  


---


Berikut adalah penjelasan lengkapnya :


Dalam Perjanjian Lama, terdapat beberapa nubuat yang secara tradisional dianggap sebagai gambaran tentang kematian Yesus di kayu salib. Berikut beberapa ayat penting yang sering dikaitkan dengan penyaliban Yesus:


1. Mazmur 22:17-19  

   "Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku. Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku. Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku."  

   - Ayat ini menggambarkan penderitaan yang mirip dengan penyaliban, termasuk penusukan tangan dan kaki, serta pembagian pakaian Yesus (bandingkan dengan Matius 27:35).


2. Yesaya 53:5, 12  

   "Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh."  

   "Oleh karena itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak."  

   - Pasal ini sering disebut sebagai "Kidung Hamba yang Menderita" dan dilihat sebagai nubuat tentang penyaliban Yesus dan pengorbanan-Nya untuk menebus dosa manusia.


3. Zakharia 12:10  

   "Dan Aku akan mencurahkan roh pengasihan dan roh permohonan atas keluarga Daud dan atas penduduk Yerusalem, dan mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam, dan akan meratapi dia seperti orang meratapi anak tunggal, dan akan menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi anak sulung."  

   - Ayat ini dihubungkan dengan penyaliban Yesus dan penikaman lambung-Nya (Yohanes 19:34-37).


4. Ulangan 21:23  

   "…sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah…"  

   - Ayat ini dikutip oleh Paulus dalam Galatia 3:13 untuk menjelaskan bahwa Yesus menanggung kutuk demi menebus manusia.


 Catatan Penting:  

- Nubuat-nubuat ini tidak secara eksplisit menyebut "Yesus" atau "salib," tetapi dalam tradisi Kristen, ayat-ayat ini dipahami sebagai gambaran tentang penyaliban Mesias.  

- Perjanjian Baru (misalnya dalam Injil dan surat-surat Paulus) sering mengutik ayat-ayat ini sebagai penggenapan dalam diri Yesus.  


Referensi yang lebih spesifik, Perjanjian Baru (seperti Matius 27, Markus 15, Lukas 23, Yohanes 19) memberikan penjelasan rinci tentang penyaliban Yesus dan kaitannya dengan nubuat PL.  


---


Penjelasan berikut sangat penting dalam teologi Kristen, terutama terkait mengapa Yesus harus menanggung kutuk saat mati di kayu salib untuk menjadi korban penebusan. Dasarnya berasal dari pengajaran Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Lama (Taurat) dan penggenapannya dalam Perjanjian Baru. Berikut penjelasannya:


 1. Dasar dari Taurat: "Terkutuklah Orang yang Digantung di Kayu" (Ulangan 21:23)

Ayat kunci yang menjelaskan konsep ini adalah:

> Ulangan 21:22-23 (TB):  

> "Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kau gantung dia pada sebuah tiang, maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah."  


Penjelasan:  

- Dalam hukum Israel, mayat yang digantung di kayu (atau tiang) adalah tanda hukuman atas kejahatan berat (seperti penghujatan atau pemberontakan).  

- "Terkutuk oleh Allah" berarti orang itu menanggung konsekuensi dosa secara simbolis di hadapan Allah.  

- Paulus mengutip ayat ini dalam Galatia 3:13 untuk menjelaskan bahwa Yesus mengambil kutuk itu demi menebus manusia.


---


 2. Penggenapan dalam Yesus: Menjadi "Kutuk" untuk Menebus Manusia (Galatia 3:13)

> Galatia 3:13 (TB):  

> "Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: 'Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!'"  


Mengapa Yesus Harus Menanggung Kutuk?  

1. Hukum Taurat Menuntut Keadilan  

   - Dosa manusia (pelanggaran hukum Allah) membawa kutuk (Ulangan 27:26; Roma 6:23).  

   - Tanpa penebusan, manusia terpisah dari Allah (Yesaya 59:2).  


2. Yesus sebagai Pengganti yang Sempurna  

   - Yesus tidak berdosa (2 Korintus 5:21; Ibrani 4:15), sehingga Ia bisa menjadi korban yang tak bercacat.  

   - Dengan mati di kayu salib (simbol kutuk), Ia mengambil tempat manusia yang seharusnya menerima kutuk akibat dosa.  


3. Salib Memenuhi Dua Aspek Penting:  

   - Keadilan Allah: Dosa harus dihukum (Roma 3:25-26).  

   - Kasih Allah: Yesus rela menanggung hukuman itu (Yohanes 3:16).  


---


 3. Nubuat Yesaya 53: Korban yang Menanggung Dosa Umat

> Yesaya 53:5-6 (TB):  

> "Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita... TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian."  


- Ayat ini menggambarkan Mesias sebagai "domba sembelihan" (Yesaya 53:7) yang menderita untuk menanggung hukuman atas dosa orang lain.  

- Kematian-Nya bersifat substitusi (pengganti): Dia mati untuk orang yang seharusnya menerima kutuk.  


---


 4. Teologi Penebusan dalam Ibrani 9:22

> Ibrani 9:22 (TB):  

> "Tanpa penumpahan darah, tidak ada pengampunan dosa."  


- Dalam Perjanjian Lama, korban darah (domba, lembu) adalah simbol penebusan dosa (Imamat 17:11).  

- Yesus adalah korban terakhir yang sempurna (Ibrani 10:10), menggantikan sistem korban binatang.  


---


 Ringkasan Alasan Yesus Menanggung Kutuk:  

1. Memenuhi Hukum Taurat (Ulangan 21:23; Galatia 3:13).  

2. Mengambil Kutuk Dosa Manusia (Yesaya 53:4-6; 2 Korintus 5:21).  

3. Membayar Hukuman yang Adil (Roma 6:23).  

4. Menyelamatkan yang Percaya dari Kutuk (Yohanes 3:16-18).  


---


 Pertanyaan Lanjutan:  

- Jika Yesus tidak berdosa, mengapa Ia bisa "menjadi kutuk"?  

  - Jawab: Karena Ia rela mengambil posisi itu sebagai pengganti (1 Petrus 2:24), bukan karena Ia sendiri layak dikutuk.  


- Apakah ini berarti Allah kejam?  

  - Tidak! Justru ini menunjukkan kasih-Nya (Roma 5:8). Allah sendiri (dalam Kristus) yang menanggung hukuman agar manusia bebas.  


---


Penjelasan berikut penting untuk memahami konsep penebusan dosa dalam Perjanjian Lama (PL). Mari kita telusuri apakah ada ayat-ayat yang secara eksplisit atau implisit menyatakan bahwa hewan korban menanggung kutuk sebagai pengganti manusia.  


 1. Konsep Umum Korban dalam PL: Darah Menghapus Dosa (Tetapi Tidak Secara Langsung Disebut "Menanggung Kutuk")  

Dalam PL, hewan korban (domba, kambing, lembu) berperan sebagai penebus salah (kifarat, כִּפֻּר) untuk dosa, tetapi tidak ada ayat yang secara harfiah mengatakan hewan itu "menanggung kutuk". Namun, ada prinsip teologis yang mengarah ke sana:  


 a. Imamat 16:21-22 (Kambing Azazel - Menanggung Dosa Umat)  

> "Haruslah ia meletakkan kedua tangannya ke atas kepala kambing jantan yang hidup itu dan mengakui di atasnya segala kesalahan orang Israel dan segala pelanggaran mereka, sekalipun semua dosa mereka; ia harus menanggungkannya ke atas kepala kambing jantan itu... Kambing jantan itu harus mengangkut segala kesalahan mereka ke tanah yang tandus."  


- Kambing Azazel (yang diusir ke padang gurun) secara simbolis menanggung dosa Israel, tetapi tidak disebut "terkutuk" secara eksplisit.  

- Implikasinya: Dosa dipindahkan ke hewan, dan hewan itu menanggung konsekuensinya (dibuang/dimatikan).  


 b. Imamat 17:11 (Darah sebagai Penebus)  

> "Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah itulah yang mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa."  


- Darah hewan menggantikan nyawa manusia (prinsip substitusi), tetapi tidak ada kata "kutuk".  


---


 2. Ayat yang Paling Mendekati: "Terkutuk" dalam Konteks Korban  

 Maleakhi 1:14 (Korban Cacat adalah Kutuk)  

> "Terkutuklah penipu yang mempersembahkan korban dari kawanan ternaknya, padahal ia bernazar dan mempersembahkan binatang yang cacat kepada Tuhan!"  


- Ini tentang manusia yang memberi korban cacat (bukan hewannya yang terkutuk), tetapi menunjukkan bahwa korban yang tidak sah dikaitkan dengan kutuk.  


 Yesaya 53:6-7 (Lambang Korban Hamba Tuhan)  

> "Kita sekalian sesat seperti domba... TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian... seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian."  


- Mesias digambarkan seperti korban domba yang menanggung dosa, tetapi ini nubuat tentang Yesus, bukan hewan PL.  


---


 3. Perbandingan dengan Konsep "Kutuk" dalam PL  

- Manusia yang berdosa berada di bawah kutuk (Ulangan 27:26; 28:15-68).  

- Hewan korban tidak pernah disebut "terkutuk", tetapi:  

  - Mereka mati sebagai pengganti (darah menggantikan nyawa manusia).  

  - Kambing Azazel menanggung dosa, tetapi tidak disebut "terkutuk".  


---


 4. Kesimpulan: Apakah Hewan Korban PL Menanggung Kutuk?  

1. Tidak ada ayat PL yang secara eksplisit menyatakan hewan korban "menanggung kutuk".  

2. Tetapi secara implisit:  

   - Hewan itu menanggung hukuman dosa manusia (Imamat 16:21-22).  

   - Darahnya menggantikan nyawa manusia (Imamat 17:11).  

   - Kambing Azazel membawa dosa ke tempat terpisah (lambang penghapusan kutuk).  

3. Konsep ini digenapi dalam Yesus, yang secara eksplisit disebut "menjadi kutuk" (Galatia 3:13) sebagai korban sempurna.  


---


 Mengapa Yesus Berbeda dari Korban PL?  

- Hewan korban PL tidak sepenuhnya menghapus dosa (Ibrani 10:4), hanya lambang sementara.  

- Yesus adalah korban yang sempurna karena:  

  - Ia sengaja menanggung kutuk (Galatia 3:13).  

  - Darah-Nya menghapus dosa untuk selamanya (Ibrani 9:12).  


---


 Pertanyaan Lanjutan:  

- Jika hewan korban tidak menanggung kutuk, mengapa Yesus harus?  

  - Jawab: Karena hewan hanya simbol, sedangkan Yesus adalah realitas penebusan sejati (Ibrani 10:1-10).  


- Apakah ini berarti korban PL tidak efektif?  

  - Tidak, korban PL efektif secara simbolis, tetapi hanya Yesus yang benar-benar menanggung kutuk dosa manusia.  


---


Tentang koneksi antara sistem korban hewan (yang disembelih) dalam Perjanjian Lama (PL) dengan kematian Yesus di salib (yang disebut "terkutuk"). Mari kita bahas secara sistematis:


 1. Perbedaan Dasar antara Korban Hewan dan Salib

 a. Korban Hewan dalam PL:

- Cara pelaksanaan: Disembelih (bukan disalibkan).  

- Tujuan utama:  

  - Menyediakan penebusan simbolis (Imamat 17:11).  

  - Menjadi pengganti sementara bagi hukuman dosa (tetapi tidak menghapus dosa sepenuhnya – Ibrani 10:4).  

- Tidak dikaitkan dengan kutuk:  

  - Hewan korban tidak pernah disebut "terkutuk" dalam PL.  

  - Fungsinya lebih sebagai lambang pendamaian, bukan menanggung kutuk.  


 b. Salib dalam PB:

- Cara pelaksanaan: Penyaliban (hukuman Romawi yang hina dan terkutuk – Ulangan 21:23).  

- Tujuan utama:  

  - Menanggung kutuk dosa manusia (Galatia 3:13).  

  - Menjadi pengganti permanen yang menghapus dosa (Ibrani 9:12).  


---


 2. Koneksi Antara Keduanya

Meskipun berbeda dalam metode (disembelih vs. disalibkan), keduanya terhubung melalui prinsip teologis yang sama:  

 a. Prinsip Substitusi (Penggantian)  

- Korban hewan:  

  - Darah hewan menggantikan nyawa manusia (Imamat 17:11).  

  - Contoh: Domba Paskah (Keluaran 12) yang mati agar Israel selamat dari hukuman.  

- Salib Kristus:  

  - Yesus mati menggantikan manusia yang seharusnya menerima kutuk (Roma 6:23).  


 b. Penyelesaian Masalah Dosa  

- Korban hewan: Hanya menutupi dosa sementara (Ibrani 10:1-4).  

- Salib: Menghapus dosa selamanya (Ibrani 9:26).  


 c. Peningkatan dari Lambang ke Realitas  

- Korban hewan adalah "bayangan", sedangkan salib adalah penggenapannya (Ibrani 10:1).  

  - Contoh:  

    - Domba Paskah (lambang) → Yesus sebagai "Anak Domba Allah" (Yohanes 1:29).  

    - Kambing Azazel (Imamat 16) → Yesus yang menanggung dosa jauh (Yesaya 53:6).  


---


 3. Mengapa Yesus Harus Disalib (Bukan Cukup Disembelih seperti Hewan)?  

 a. Memenuhi Hukum Taurat tentang "Kutuk" (Ulangan 21:23)  

- Dosa manusia membawa kutuk (Galatia 3:10; Ulangan 27:26).  

- Untuk menebus kutuk, Yesus harus menjadi kutuk dengan cara yang sesuai dengan hukum PL (yaitu "digantung di kayu").  


 b. Menunjukkan Penghinaan dan Penderitaan Penuh  

- Disembelih = Kematian cepat (untuk hewan).  

- Disalib = Kematian lambat, menyakitkan, dan terhina (sesuai dengan beban dosa seluruh manusia).  


 c. Menggenapi Nubuat tentang Mesias yang Menderita  

- Mazmur 22: Penderitaan orang yang "ditikam".  

- Yesaya 53: Hamba Tuhan yang "diremukkan" karena dosa kita.  


---


 4. Ringkasan Koneksi  

| Aspek                | Korban Hewan (PL)               | Salib Kristus (PB)               |  

|----------------------|----------------------------------|----------------------------------|  

| Cara Kematian    | Disembelih                      | Disalib (terkutuk)               |  

| Fungsi           | Penebusan simbolis              | Penebusan sempurna               |  

| Kutuk            | Tidak disebut                   | Ditanggung secara langsung       |  

| Efektivitas      | Sementara (butuh pengulangan)   | Permanen (sekali untuk selamanya)|  


---


 5. Kesimpulan  

- Korban hewan dan salib memiliki prinsip yang sama (substitusi), tetapi salib adalah tingkat yang lebih tinggi:  

  - Korban hewan = lambang fisik.  

  - Salib = realitas rohani + kutuk ditanggung sepenuhnya.  

- Yesus tidak bisa hanya disembelih seperti hewan, karena:  

  1. Dosa manusia membutuhkan penanggungan kutuk (bukan sekadar darah).  

  2. Salib adalah penggenapan nubuat tentang Mesias yang menderita.  

  3. Hanya kematian-Nya di salib yang memenuhi keadilan Allah (Roma 3:25-26).  


---


 Pertanyaan Lanjutan:  

- Jika Yesus hanya disembelih, apakah cukup?  

  - Tidak, karena:  

    - Tidak memenuhi nubuat tentang penyaliban (Mazmur 22, Zakharia 12:10).  

    - Tidak menanggung kutuk hukum Taurat (Galatia 3:13).  


- Mengapa Allah merancang sistem seperti ini?  

  - Untuk menunjukkan seriusnya dosa (butuh korban berat) dan kasih-Nya (Yohanes 3:16). 


Klik atau Tap disini untuk baca Artikel Lainnya

Tuhan Memberkati


3 Juli 2025

Mantiri AAM 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dosa Adam : Topeng2 Dosa - Pendahuluan

Dosa Adam : Topeng2 Dosa - Bagian 1

Daftar Isi Artikel