Trinitas dan Doktrin - 3
Trinitas dan Doktrin - 3
Memperbaiki Pemahaman tentang "Doktrin"
Hipotesis: jika doktrin dipahami semata-mata sebagai pengetahuan tentang Allah (bahkan pengetahuan yang benar sekalipun), tanpa fungsi utamanya sebagai jalan menuju perjumpaan dengan kasih Allah, maka doktrin kehilangan nyawanya. Inilah yang Yesus kritik kepada orang Farisi:
"Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, karena kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu." (Yohanes 5:39-40)
Ayat ini luar biasa: Kitab Suci (doktrin) menunjuk kepada Yesus, tetapi mereka berhenti pada penunjuk itu dan tidak pernah datang kepada "Yang Ditunjuk". Doktrin menjadi batu sandungan, bukan tangga.
Doktrin dalam Alkitab: Bukan "Sekadar Pengetahuan"
Alkitab sendiri tidak pernah memisahkan doktrin dari relasi dan transformasi. Perhatikan:
1. Doktrin dalam Perjanjian Lama = "Jalan" (Derek)
Mazmur 119:105: "Firman-Mu adalah pelita bagi kakiku, terang bagi jalanku."
· Fungsi doktrin bukan untuk memperkaya intelek, tetapi menerangi jalan agar kaki melangkah menuju Allah.
2. Didaskalia (Pengajaran) dalam Perjanjian Baru
Paulus berkata kepada Timotius:
"Tujuan nasihat kita adalah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas." (1 Timotius 1:5)
Dengan kata lain: doktrin yang benar selalu melahirkan kasih. Jika sebuah pengajaran tidak menghasilkan kasih kepada Allah dan sesama, maka pengajaran itu telah kehilangan tujuannya—meskipun secara formal "orthodox".
3. Bahaya "Memegang Doktrin tetapi Menyangkal Kekuatannya"
Paulus memperingatkan bahwa di akhir zaman akan ada orang yang "saleh" secara lahiriah:
"Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah, tetapi pada hakikatnya mereka menyangkal kekuatannya." (2 Timotius 3:5)
Apa "kekuatan" ibadah itu? Perjumpaan yang mengubahkan dengan Allah yang hidup. Tanpa itu, doktrin hanya menjadi "bentuk" kosong.
Konsekuensi: Kebingungan Doktrinal Membawa ke Kesesatan.
Hipotesis : "Mereka yang bingung akan doktrin dan tidak menemukan jalan keluar di dalam kasih Allah berisiko tersesat."
Alkitab menegaskannya:
"Sebab itu, sebagaimana kamu telah menerima Kristus Yesus, yaitu Tuhan, hiduplah di dalam Dia... Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafat kosong dan tipu daya yang sia-sia, menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus." (Kolose 2:6-8)
Paulus tidak menolak ajaran (doktrin), tetapi membedakan antara:
· Doktrin yang menunjuk kepada Kristus → hidup di dalam Dia.
· Doktrin yang berhenti pada dirinya sendiri → menawan dan membingungkan.
Ketika seseorang bingung karena doktrin yang saling bertentangan (misalnya: predestinasi vs. tanggung jawab manusia; keselamatan karena iman vs. perlunya perbuatan baik), dan tidak mendapatkan "jalan keluar" — yaitu kembali kepada kasih Kristus sebagai pusat — maka ia bisa tersesat. Bukan karena doktrin itu salah, tetapi karena ia menggunakan doktrin dengan cara yang salah: sebagai "peta" yang ia pelajari tanpa pernah berjalan menuju tujuan.
Analogi
· Doktrin seperti peta. Peta yang benar sangat berguna. Tetapi jika seseorang hanya mempelajari peta, membandingkan berbagai macam peta, bahkan menghafal detailnya—tetapi tidak pernah berjalan menuju kota yang dituju—ia tetap tersesat. Lebih tragis lagi: ia mungkin merasa aman karena "tahu jalannya", padahal tidak pernah melangkah.
· Kasih Allah adalah kota itu sendiri. Tidak ada peta yang menggantikan perjumpaan dengan Tuhan yang hidup.
Peringatan Yesus yang Paling Menyayat Hati
Bukan untuk mereka yang tidak tahu doktrin, tetapi untuk mereka yang sibuk dengan doktrin dan pelayanan tetapi kehilangan inti:
"Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan." (Matius 7:22-23)
Mereka ini benar dalam doktrin (mereka bernubuat, mengusir setan, mujizat—itu semua membutuhkan "pengetahuan yang benar" tentang nama Yesus), tetapi Yesus tidak mengenal mereka. Mengapa? Karena mereka menggunakan doktrin untuk kuasa dan pengakuan, bukan untuk tinggal di dalam kasih-Nya.
Kesimpulan Final tentang Doktrin
Pembedaan :
Doktrin sebagai "pengetahuan tentang Allah"
- Berhenti pada rumusan teologis
- Membandingkan dan menghakimi
- Menimbulkan debat dan perpecahan
- Membuat orang "tahu banyak"
- Berisiko membingungkan dan menyesatkan jika tidak dilengkapi dengan relasi
Doktrin sebagai "petunjuk menuju perjumpaan dengan kasih Allah"
- Menuntun kepada penyembahan
- Merendahkan hati dan mengasihi
- Menimbulkan persekutuan dan sukacita
- Membuat orang "mengenal Allah"
- Menyelamatkan karena membawa kepada Sumber kehidupan
Satu Pertanyaan Penutup (untuk ujian diri)
Apakah doktrin yang saya pelajari selama ini membuat saya semakin mengasihi Allah dan sesama, atau sebaliknya?
Karena tujuan akhir semua doktrin bukanlah kebenaran abstrak, melainkan perjumpaan dengan Kebenaran yang personal—yaitu Kristus sendiri.
Komentar
Posting Komentar