Trinitas dan Doktrin -1
Trinitas dan Doktrin -1
Hubungan antara doktrin, kasih, dan iman yang menyelamatkan. Mari kita bedah dengan tuntunan Alkitab secara sistematis.
1. Ketika Ketidakpahaman Doktrin Menghancurkan Iman
Doktrin yang benar memang penting, tetapi tanpa pemahaman yang berpusat pada kasih Allah, ia dapat menjadi batu sandungan. Paulus memperingatkan: "Tujuan nasihat kita adalah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas" (1 Timotius 1:5). Doktrin yang tidak menghasilkan kasih justru merusak iman, seperti yang terjadi pada jemaat Galatia yang "berpaling kepada injil lain" (Galatia 1:6) karena salah paham tentang hukum Taurat.
2. Ketika "Kasih" Ditinggalkan, Bahkan untuk Diri Sendiri
Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa mengasihi diri sendiri secara sehat adalah dasar untuk mengasihi sesama: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Matius 22:39). Meninggalkan kasih pada diri sendiri (dalam arti menghargai diri sebagai gambar Allah) justru bertentangan dengan perintah ini. Rasul Yohanes berkata: "Jikalau seorang berkata: 'Aku mengasihi Allah,' dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta" (1 Yohanes 4:20). Logika yang sama berlaku: membenci diri sendiri sebagai ciptaan Allah juga bertentangan dengan kasih-Nya.
3. Kembali pada "Keraguan" Adam-Hawa atas Penyelenggaraan dan Kasih Allah
Analogi Hipotesis. Dosa asal Adam dan Hawa justru bermula dari keraguan terhadap firman dan kebaikan Allah: "Tentulah Allah berfirman...?" (Kejadian 3:1). Iblis menanamkan kecurigaan bahwa Allah menahan kebaikan. Keraguan semacam ini membunuh iman karena ia menggantikan kepercayaan pada karakter Allah dengan penilaian diri sendiri. Yesus di padang gurun justru mengalahkan godaan yang sama dengan berpegang pada firman (Matius 4:1-11).
4. Mengapa Yesus Meminta Kita Saling Mengasihi?
Perintah ini bukan sekadar etika, melainkan sarana untuk "kasih itu tetap tinggal pada kita" (Yohanes 15:9-10, parafrasa). Dalam Yohanes 13:34-35, Yesus berkata: "Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." Kasih yang aktif memelihara iman karena mengingatkan kita bahwa Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:16), dan ketika kita mengasihi, kita tinggal di dalam Allah.
5. Arti "Aku Tidak Mengenal Engkau" bagi Mereka yang Kelihatannya Melayani
Ini adalah peringatan paling serius. Dalam Matius 7:21-23, mereka yang berkata "Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu...?" justru ditolak karena Yesus "tidak pernah mengenal mereka". Mengapa? Karena perbuatan mereka tidak lahir dari iman yang bekerja melalui kasih (Galatia 5:6). Pelayanan tanpa kasih menjadi seperti "gong yang berkumandang" (1 Korintus 13:1). Mereka kehilangan inti: relasi pribadi dengan Kristus yang ditandai dengan ketaatan yang lahir dari kasih (Yohanes 14:15).
Kesimpulan
Hipotesis : Ketika doktrin dipisahkan dari kasih, ia melahirkan keraguan yang menghancurkan iman. Solusi Yesus adalah perintah saling mengasihi — bukan sebagai kewajiban hukum, tetapi sebagai aliran hidup dari iman yang benar. Sebaliknya, pelayanan tanpa kasih adalah ilusi kekristenan yang berujung pada kata mengerikan: "Aku tidak mengenal engkau."
Karena itu, marilah kita memeriksa diri: apakah doktrin yang kita pegang menghasilkan kasih yang nyata? Apakah kita meragukan kebaikan Allah seperti Adam? Ataukah kita tinggal dalam kasih-Nya yang telah dinyatakan di kayu salib? Sebab "iman yang bekerj oleh kasih" (Galatia 5:6) adalah satu-satunya iman yang menyelamatkan.
Komentar
Posting Komentar