Jihad Kristen - 3

Jihad Kristen - 3
Sebuah Blunder Terminologi

Sekali Lagi, Mari Kita Lihat Blundernya

Menggunakan judul "Jihad Kristen". Jihad (perjuangan) Kristen tidak menunjuk pada inti ajaran. Ini sangat mudah dimaknai secara sekuler karena kata "Kristen" itu sendiri tidak untuk kita "perjuangkan". Mari kita bedah dan kuliti secara lebih kritis dengan tuntunan Roh Kudus dan Alkitab.

---

1. Masalah Utama: "Kristen" Bukanlah Medan Perjuangan

Kekristenan tidak pernah mengajarkan bahwa identitas "Kristen" adalah sesuatu yang harus ditegakkan, dipertahankan, atau diperjuangkan dengan cara apa pun—apalagi dengan kekerasan atau paksaan. Sebaliknya, Alkitab mengajarkan:

· Kristus sudah berjuang dan menang. Di kayu salib, Yesus berkata, "Sudah selesai" (Yohanes 19:30). Karya keselamatan sudah tuntas. Tidak ada yang perlu kita "tambahkan" dengan perjuangan kita.
· Kita adalah penerima anugerah, bukan pejuang yang merebut. Keselamatan adalah pemberian, bukan hasil usaha (Efesus 2:8-9).
· Identitas Kristen adalah identitas orang mati. "Kamu telah mati, dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah" (Kolose 3:3). Orang mati tidak berjuang untuk mempertahankan namanya.

Maka, menyebut "Jihad Kristen" seolah-olah ada sesuatu yang harus kita perjuangkan demi Kekristenan itu sendiri adalah sebuah kekeliruan mendasar. Kekristenan bukanlah wilayah yang direbut atau dipertahankan. Kekristenan adalah respons iman terhadap anugerah.

---

2. Mudah Dimaknai Secara Sekuler

Kata "jihad" di mata publik awam (terutama di era modern) sudah sangat tercemar. Ia lebih sering diasosiasikan dengan:

· Peperangan fisik
· Radikalisme agama
· Upaya memaksakan keyakinan

Ketika kita menggabungkannya dengan kata "Kristen", publik akan memahami: "Oh, orang Kristen juga punya konsep perang suci." Padahal itu salah total.

Bahkan jika kita menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah "perjuangan rohani", publik tetap akan menangkap nuansa sekuler dari kata "perjuangan"—yaitu usaha manusiawi yang heroik, yang terus-menerus, yang tidak kenal menyerah. Padahal inti Kekristenan adalah penyerahan diri, bukan perjuangan heroik. "Bukan lagi aku yang hidup, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku" (Galatia 2:20).

---

3. Bedah Kritis: Di Mana Letak "Perjuangan" Sebenarnya?

Alkitab memang menggunakan kata-kata seperti "berjuang" (agonizomai), "berlari", "bertanding", "bertahan". Tetapi semuanya selalu dalam satu kerangka: perjuangan iman adalah perjuangan untuk percaya, berharap, dan mengasihi—bukan perjuangan untuk membangun, mempertahankan, atau menyebarkan "Kristen" sebagai identitas.

Coba perhatikan:

· 1 Timotius 6:12 – "Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar." Objeknya adalah iman, bukan Kekristenan sebagai sistem.
· Ibrani 12:1 – "Marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa... dan berlomba dengan tekun." Lawannya adalah dosa, bukan musuh eksternal.
· Efesus 6:12 – "Perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging." Ini tegas: bukan melawan manusia, bukan melawan kelompok, bukan melawan agama lain.

Jadi "jihad" Kristen, jika dipaksakan, tidak pernah berhadapan dengan dunia luar. Ia berhadapan dengan diri sendiri: dosa, kesombongan, kecenderungan menghakimi, keengganan mengampuni. Dan ironisnya, "perjuangan" terbesar dalam Kekristenan justru adalah berhenti berjuang—berhenti mengandalkan kekuatan sendiri, dan membiarkan Kristus hidup melalui kita.

---

4. Akar Blunder: Meminjam Istilah dari Luar untuk Menjelaskan Inti

Mengapa kita perlu meminjam kata "jihad"? Apakah Alkitab tidak memiliki bahasanya sendiri?

Alkitab sudah memiliki kata-kata yang kaya:

· Mengikut Yesus (Matius 16:24)
· Memikul salib (Lukas 9:23)
· Berjalan dalam Roh (Galatia 5:16)
· Bertanding dalam iman (1 Timotius 6:12)
· Bertekun dalam doa (Kolose 4:2)
· Mengasihi musuh (Matius 5:44)

Kata-kata ini sudah cukup. Tidak perlu meminjam "jihad", karena peminjaman itu justru mengaburkan daripada menerangkan.

Meminjam istilah dari tradisi lain untuk menjelaskan inti iman sendiri adalah sebuah blunder. Itu seperti menerjemahkan "salib" menjadi "tiang gantungan" dan berkata, "Lihat, sama saja". Ia kehilangan nuansa teologis yang unik.

---

5. Kesimpulan Kritis: Biarlah Jalan Salib Berdiri Sendiri

"Jihad Kristen" adalah judul yang keliru karena:

· Salah sasaran: Kekristenan tidak untuk diperjuangkan; ia diterima sebagai anugerah.
· Salah konotasi: Publik memahaminya secara sekuler atau radikal, dan penjelasan panjang tidak akan membalikkan kesan pertama.
· Salah teologis: Perjuangan dalam Alkitab selalu bersifat spiritual dan internal—melawan dosa dan iblis, bukan menegakkan identitas "Kristen".
· Tidak perlu: Alkitab sudah memiliki kosakata yang cukup dan tepat.

Yang benar: Biarlah Jalan Salib berdiri sebagai istilah yang unik. Jalan Salib adalah paradoks: kemenangan melalui kekalahan, hidup melalui kematian, kuasa melalui kelemahan. Tidak ada perjuangan heroik ala dunia. Yang ada adalah penyerahan diri total kepada Kristus yang sudah berjuang, sudah menang, dan sudah menyelesaikan segalanya.

Akhir kata: Jangan paksa "jihad" masuk ke dalam Kekristenan. Jalan Salib sudah lengkap. Ia tidak butuh kata pinjaman. Ia butuh orang-orang yang mau memikul salib—bukan berjuang untuk Kristen, tetapi mati bersama Kristus, agar hidup-Nya nyata dalam kematian kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dosa Adam : Topeng2 Dosa - Pendahuluan

Dosa Adam : Topeng2 Dosa - Bagian 1

Daftar Isi Artikel