Jihad Kristen - 1
Jihad Kristen - 1
(Sebuah Blunder Terminologi)
Ini adalah jembatan yang terlalu berani dan tidak perlu. Mencoba menghubungkan seluruh diskusi kita—tentang Allah yang absolut, kasih sebagai api pemurni, penghormatan terhadap kehendak bebas, dan murka sebagai ekspresi kasih—dengan konsep "jihad" dalam Kekristenan adalah kekeliruan. Membandingkan jihad dalam makna populer (perjuangan fisik) dan jihad sebagai perjuangan rohani dalam Islam dengan Jalan Salib (melawan kecenderungan diri sendiri untuk menghakimi dan memaksakan kehendak) dalam Kristen adalah keliru.
Mari kita telusuri dengan jujur.
---
1. Memurnikan terminologi "jihad" terlebih dahulu
Kata Arab jihad secara harfiah berarti "berjuang" atau "berusaha maksimal." Dalam Islam, ia memiliki dua tingkatan:
Tingkatan
- Makna
Jihad akbar (jihad besar)
- Perjuangan melawan hawa nafsu dan godaan internal
Jihad asghar (jihad kecil)
- Perjuangan fisik membela diri/agama (dengan aturan ketat)
Kesalahan umum: Banyak orang non-Muslim hanya tahu jihad kecil, bahkan dalam versi radikalnya. Padahal, dalam tradisi Islam yang otentik, jihad akbar jauh lebih utama.
Hipotesis : Jika kita hendak meminjam istilah "jihad" ke dalam Kekristenan, maka ia harus merujuk pada jihad akbar—perjuangan rohani, bukan fisik. Dan ujung dari perjuangan itu adalah penghormatan terhadap kehendak bebas, bukan pemaksaan.
---
2. Mengapa "penghormatan terhadap kehendak bebas" adalah inti jihad Kristen?
Dari seluruh diskusi kita, beberapa premis sudah kokoh:
Premis
- Implikasi
Allah adalah Kasih, dan Kasih menghormati kehendak bebas
- Allah tidak memaksa siapa pun untuk selamat
Neraka adalah konsekuensi dari penolakan final, bukan hukuman sadis
- Allah tetap mengasihi bahkan yang di neraka, tetapi kasih-Nya menjadi api karena ditolak
Murka Allah adalah api kasih yang memurnikan, bukan amukan
- Tujuan Allah selalu restoratif selama mungkin
Iblis bukan "musuh" setara, tetapi pemberontak yang kehendak bebasnya dihormati sampai final
- Allah tidak "mengalahkan" Iblis dengan kekerasan, tetapi dengan membiarkan Iblis memilih jalannya sendiri sampai konsekuensi final
Maka, "jihad" dalam Kekristenan adalah: Perjuangan untuk meneladani Allah dalam menghormati kehendak bebas orang lain—bahkan ketika mereka memusuhi kita—sambil tetap berjuang melawan kecenderungan diri sendiri untuk memaksa, menghakimi, dan membalas.
---
3. Dasar Alkitabiah: Perjuangan menghormati kehendak bebas
a. Yesus sendiri menghormati kehendak bebas, bahkan ketika ditolak
Peristiwa
- Fakta
Lukas 9:51-56 Yesus hendak melewati desa Samaria yang menolak-Nya. Murid-murid ingin memanggil api dari langit.
- Yesus menegur mereka dan pergi ke desa lain.
Matius 26:53 Di Getsemani, Yesus berkata Ia bisa memanggil 12 legiun malaikat, tetapi tidak.
- Ia menghormati kehendak bebas para penangkap-Nya.
Wahyu 3:20 "Aku berdiri di pintu dan mengetok; jika ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk."
- Yesus tidak mendobrak pintu.
Kesimpulan: Yesus memiliki kuasa mutlak untuk memaksa, tetapi Ia memilih untuk tidak. Inilah "jihad" terbesar-Nya: melawan godaan untuk menggunakan kuasa secara paksa demi "kebaikan" orang lain.
b. Rasul Paulus: Perjuangan untuk tidak menghakimi
Ayat - Makna
Roma 14:4 "Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain?"
1 Korintus 4:5 "Janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang."
Roma 12:19 "Serahkanlah pembalasan kepada-Ku, Akulah yang akan membalas, firman Tuhan."
Kesimpulan: Paulus berjuang melawan kecenderungan alami manusia untuk menghakimi dan memaksakan standar.
Penghormatan terhadap kehendak bebas orang lain adalah bentuk kasih yang sulit—inilah jihad Kristen.
c. Perintah "Jangan menghakimi" (Matius 7:1) dalam konteks kehendak bebas
Yesus tidak melarang semua bentuk penilaian moral (Ia sendiri menilai orang Farisi).
Yang Ia larang adalah sikap menghakimi yang menganggap diri sebagai hakim final atas nasib orang lain. Hanya Allah yang memiliki posisi itu.
Jihad Kristen: Berjuang untuk tidak mengambil posisi Allah—yaitu, tidak bertindak seolah-olah kita berhak menentukan nasib final siapa pun.
---
4. Perbedaan krusial: Jihad Kristen vs Jihad Islam (dalam pemahaman populer)
Aspek
- Jihad Islam (versi radikal)
- Jihad Kristen (hipotesis)
Medan perjuangan
- Fisik dan politik
- Rohani dan internal
Lawan
- Orang kafir yang dianggap mengancam
- Hawa nafsu diri sendiri, kecenderungan menghakimi
Tujuan
- Menegakkan syariat, melindungi umat
- Meneladani Allah dalam menghormati kehendak bebas
Metode
- Bisa termasuk kekerasan fisik dalam kondisi tertentu
- Tidak pernah kekerasan fisik; yang ada adalah kasih aktif, teguran, dan kesabaran
Akhir dari perjuangan
- Kemenangan politik/teritorial
- Penghormatan terhadap pilihan final orang lain, bahkan jika itu berarti mereka memisahkan diri dari Allah
Peringatan: Dalam tradisi Islam yang otentik, jihad akbar (melawan hawa nafsu) justru lebih utama.
Hipotesis hendak mengatakan: jika istilah ini dipinjam, maka ia harus merujuk pada dimensi rohani yang paling dalam.
---
5. Jihad Kristen sebagai "perjuangan melawan diri sendiri"
Seluruh diskusi kita mengarah pada satu kesimpulan: Musuh terbesar bukanlah Iblis, bukan orang berdosa, bukan pemerintah jahat—melainkan kecenderungan diri sendiri untuk menjadi hakim.
Godaan dalam diri
- Bentuknya
Menghakimi orang lain sebagai "musuh Allah" yang pantas dibinasakan
- Merampas posisi Allah sebagai Hakim
Menganggap kasih berarti membiarkan kesalahan
- Melupakan bahwa kasih sejati berani menegur
Menganggap menegur berarti kebencian
- Melupakan bahwa murka adalah api kasih
Jihad Kristen: Berjuang setiap hari untuk tidak jatuh ke dalam godaan ini. Berjuang untuk mengasihi musuh seperti Allah mengasihi musuh-Nya. Berjuang untuk menegur dengan tujuan restoratif, bukan dengan semangat penghukuman. Berjuang untuk menyerahkan penghakiman final kepada Allah, sambil tetap aktif berbuat baik.
---
6. Aplikasi praktis: Bagaimana "jihad Kristen" hidup sehari-hari?
Situasi
- Respons Jihad Kristen
Seseorang menghina iman Anda
- Jangan membalas hinaan dengan kekerasan atau kutukan. Berdoalah untuk mereka. Tegur jika ada kesempatan, dengan lembut.
Anda melihat saudara seiman dalam dosa
- Tegur dengan tujuan restoratif, bukan untuk menghakimi. Ingat bahwa Anda sendiri juga bisa jatuh.
Pemerintah menerapkan kebijakan tidak adil
- Lawan dengan kebenaran dan keadilan, tetapi jangan benci secara pribadi. Hormati bahwa mereka juga punya kehendak bebas.
Anda merasa "benar" dan orang lain "salah"
- Tahan diri dari menghakimi final. Serahkan kepada Allah. Tanyakan: "Apakah saya juga bisa salah?"
Iblis menggoda Anda untuk putus asa atau sombong
- Lawan dengan iman (Yakobus 4:7), tetapi jangan menganggap diri lebih baik dari Iblis. "Hanya karena kasih karunia saya berbeda."
---
7. Kesimpulan akhir: Jihad sejati adalah meneladani Allah
Seluruh diskusi kita—tentang Iblis, murka, purgatory, neraka, kasih kepada musuh—bermuara pada satu panggilan:
Meneladani Allah yang menghormati kehendak bebas, bahkan ketika kehendak bebas itu memilih melawan-Nya.
Inilah "jihad" dalam Kekristenan:
· Bukan perang melawan daging dan darah (Efesus 6:12 sudah jelas: "perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging").
· Bukan pemaksaan iman dengan pedang.
· Bukan penghakiman atas nasib akhir orang lain.
Melainkan:
· Perjuangan melawan diri sendiri yang ingin menjadi hakim.
· Perjuangan untuk tetap mengasihi ketika ditolak.
· Perjuangan untuk percaya bahwa keadilan final ada di tangan Allah, bukan kita.
· Perjuangan untuk berharap bahwa kasih Allah lebih besar dari dosa apa pun—tanpa jatuh ke dalam universalisme yang menghapus kehendak bebas.
Akhir kata: Jika Anda meminjam istilah "jihad", pastikan maknanya sudah dimurnikan: Jihad adalah perjuangan rohani yang paling berat—melawan kecenderungan diri sendiri untuk menjadi Allah bagi orang lain.
Inilah jalan salib. Inilah kasih yang sempurna. Inilah satu-satunya "perang suci" yang diperintahkan dalam Kekristenan.
Komentar
Posting Komentar