Hakikat Allah menurut Alkitab: “Apa” Allah secara fundamental
Hipotesis ini akan menunjukkan bagaimana Alkitab berbicara tentang Allah yang mutlak sekaligus berelasi, dengan menggunakan distingsi hakikat (esensi) dan keberadaan (eksistensi) —tanpa jatuh ke dalam kontradiksi.
---
1. Hakikat Allah menurut Alkitab: “Apa” Allah secara fundamental
Ayat-ayat berikut menunjuk pada hakikat Allah (esensi, ousia):
Keluaran 3:14
“Aku adalah Aku” (Ehyeh asher ehyeh)
Dalam kerangka hakikat-keberadaan:
· Ini menjawab pertanyaan “Apa hakikat Allah?” → Keberadaan itu sendiri.
· Allah tidak memiliki hakikat yang terpisah dari keberadaan-Nya. Sebaliknya, hakikat Allah adalah keberadaan yang mutlak, tidak tergantung pada apa pun.
Maleakhi 3:6
“Aku, TUHAN, tidak berubah.”
Hakikat Allah bersifat tetap, tidak berubah, universal (berlaku bagi seluruh realitas)—sesuai dengan ciri hakikat dalam definisi Anda.
Yesaya 44:6
“Akulah yang pertama dan Akulah yang terakhir; tidak ada Allah selain Aku.”
Hakikat Allah bersifat unik dan tidak dapat dibagi (indivisibilis). Tidak ada hakikat lain yang setara.
---
2. Keberadaan Allah menurut Alkitab: “Bahwa” Allah ada secara nyata
Yang unik dalam Alkitab: Keberadaan Allah tidak terpisah dari hakikat-Nya, tetapi tetap dapat dibedakan secara konseptual.
Mazmur 90:2
“Sebelum gunung-gunung dilahirkan, sebelum Engkau menjadikan bumi dan dunia, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah.”
Keberadaan Allah bersifat kekal (aeternitas)—tidak mulai dan tidak berakhir. Ini berbeda dengan keberadaan makhluk yang bersifat kontingen (bisa ada, bisa tidak ada).
Kisah Para Rasul 17:24-25
“Allah yang menjadikan bumi dan segala isinya… tidak tinggal di dalam buatan tangan manusia, dan tidak dilayani oleh tangan manusia seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.”
Keberadaan Allah mandiri (aseitas, dari bahasa Latin a se = dari diri-Nya sendiri). Allah tidak bergantung pada apa pun di luar diri-Nya untuk ada.
Ibrani 11:6
“Siapa yang datang kepada Allah harus percaya bahwa Ia ada (esti) dan bahwa Ia memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”
Iman Kristen tidak hanya percaya bahwa Allah ada (keberadaan faktual), tetapi juga siapa Allah itu (hakikat yang baik dan adil).
---
3. Masalah krusial: Apakah hakikat dan keberadaan Allah dapat dipisahkan?
Dalam makhluk ciptaan: Hakikat ≠ keberadaan.
· Hakikat kursi (definisi) tidak menjamin bahwa kursi itu ada.
· Keberadaan kursi adalah fakta aktual yang bisa lenyap.
Dalam Allah: Hakikat = keberadaan, tetapi tidak identik secara membingungkan.
Inilah yang disebut para teolog sebagai kesederhanaan Allah (simplicitas Dei):
Keluaran 3:14 sudah mengisyaratkan
“Aku adalah Aku” → Keberadaan Allah tidak lain adalah hakikat-Nya. Allah tidak “memiliki” keberadaan sebagai properti; Allah adalah keberadaan itu sendiri (ipsum esse subsistens, kata Thomas Aquinas).
Wahyu 1:8
“Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Ada, Yang Telah Ada, dan Yang Akan Datang, Yang Mahakuasa.”
Frasa “Yang Ada” (ὁ ὤν) adalah terjemahan Septuaginta dari Keluaran 3:14. Ini menegaskan bahwa keberadaan Allah tidak pernah tidak ada, tidak pernah berubah, tidak pernah berkurang.
---
4. Bagaimana kemutlakan yang berelasi dalam satu Allah? (Integrasi hakikat-keberadaan dengan Trinitas)
Di sinilah kerangka Anda tentang hakikat (apa) dan keberadaan (bahwa) menjadi sangat berguna untuk menjelaskan Trinitas tanpa kontradiksi.
Premis dasar:
· Hakikat Allah = apa Allah = satu, tak terbagi, mutlak, tidak berubah.
· Keberadaan Allah = bahwa Allah ada secara nyata = dalam kekekalan, keberadaan itu dihidupi oleh tiga Pribadi (Bapa, Putra, Roh Kudus) secara berbeda.
Yohanes 14:6
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.”
Yesus tidak berkata “Akulah hakikat” atau “Akulah keberadaan”, melainkan “Akulah jalan” (relasional). Namun dalam Yohanes 14:9: “Barangsiapa melihat Aku, ia melihat Bapa” → hakikat yang sama, keberadaan yang dihidupi secara berbeda.
Yohanes 5:26
“Sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya kepada Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.”
Ayat ini luar biasa:
· Hakikat: “hidup dalam diri sendiri” (mutlak, tidak tergantung) dimiliki Bapa dan Putra secara setara.
· Keberadaan: Namun Putra menerimanya dari Bapa secara kekal (diberikan-Nya). Ini bukan berarti Putra kurang ada, melainkan menunjukkan tatanan keberadaan dalam Trinitas: Bapa sebagai sumber (fons), Putra sebagai gambar (imago).
---
5. Tabel integrasi hakikat-keberadaan dalam Allah Trinitas
Aspek Dalam makhluk Dalam Allah (Alkitab)
Hakikat (apa) Terpisah dari keberadaan (bisa ada definisi tanpa realitas) Identik dengan keberadaan (Allah adalah apa adanya secara mutlak)
Keberadaan (bahwa) Kontingen, bisa ada atau tidak ada Necessary (tidak mungkin tidak ada); kekal
Relasi hakikat-keberadaan Hakikat tidak menjamin keberadaan Hakikat adalah keberadaan (kesederhanaan Allah)
Kemutlakan Tidak mungkin mutlak Mutlak dalam hakikat dan keberadaan
Relasi internal Tidak relevan Keberadaan yang satu itu dihidupi oleh Bapa (tanpa asal), Putra (diperanakkan), Roh (dihembuskan)
---
6. Jawaban langsung atas pertanyaan Anda: “Kemutlakan yang berelasi dalam satu Allah menurut Alkitab”
Berdasarkan distingsi hakikat-keberadaan:
a. Allah mutlak dalam hakikat-Nya:
· Satu hakikat (Ulangan 6:4: “TUHAN itu esa”)
· Tidak berubah (Maleakhi 3:6)
· Tidak tergantung (Kisah 17:24-25)
· Tidak terbagi (1 Korintus 8:6)
b. Allah mutlak dalam keberadaan-Nya:
· Keberadaan-Nya adalah keberadaan itu sendiri (Keluaran 3:14)
· Tidak dimulai dan tidak berakhir (Mazmur 90:2)
· Tidak bergantung pada ruang-waktu (Yesaya 57:15)
c. Kemutlakan dalam relasi (tanpa mengurangi hakikat dan keberadaan):
· Hakikat yang satu itu ada secara kekal dalam tiga Pribadi (Matius 28:19)
· Setiap Pribadi sepenuhnya memiliki hakikat yang sama, tetapi membedakan diri-Nya dalam cara keberadaan (modus existendi):
· Bapa: tidak diperanakkan (agennesia)
· Putra: diperanakkan secara kekal (generatio aeterna)
· Roh: dihembuskan (spiratio)
· Relasi ini tidak menambah atau mengurangi hakikat, karena hakikat Allah sudah sempurna secara kekal.
---
7. Kesimpulan teologis
Alkitab mengajarkan bahwa:
Allah yang hakikat-Nya adalah keberadaan mutlak (Keluaran 3:14), ternyata di dalam diri-Nya sendiri memiliki relasi kekal yang tidak menghancurkan kemutlakan, melainkan justru menyatakan kemutlakan sebagai kasih (1 Yohanes 4:8).
Dengan kata lain:
· Hakikat Allah → mutlak, satu, sederhana, tak berubah.
· Keberadaan Allah → dihidupi secara kekal oleh Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
· Relasi bukanlah properti yang ditambahkan pada hakikat, melainkan cara hakikat itu ada secara kekal.
Maka, kemutlakan tidak meniadakan relasi, dan relasi tidak mengurangi kemutlakan—karena dalam Allah, apa Allah dan bahwa Allah ada, sama-sama sempurna sejak kekal.
Komentar
Posting Komentar