TRINITAS: ENTITAS ATAU RELASI ?
Pendahuluan
Sebagai orang modern, “pemutusan hubungan” itu biasa, tapi dalam kekristenan itu dosa. Ingat, definisi dosa ialah terputusnya relasi manusia dengan Allah. Secara logika ini tidak masuk akal. Kita melakukan hal yang tidak baik pada orang lain dan alam, tapi apa hubungannya dengan relasi? Memangnya alam bisa ngomong dan ngobrol? Dan kenapa?
Berikut adalah kenapa Allah kita disebut Trinitas, dan hubungan penamaan ini dengan definisi penciptaan dan dosa.
Tulisan di bagi dalam 4 bagian :
I. DASAR TEOLOGIS: TEKSTUAL, HERMENEUTIKA, DAN LOGIKA
II. TRINITAS SEBAGAI INTI RELASI DAN PENCIPTAAN
III. ALLAH YANG BERELASI VS. PENGALAMAN MANUSIA
IV. KESIMPULAN: SIMFONI KASIH TRINITARIAN
TRINITAS: Harmoni Antara Misteri, Teks, dan Logika
Allah itu multidimensi karena Dia Trinitas. Masalahnya, dalam dialog kita sering dipaksa menjelaskan realitas multidimensi ini hanya dengan satu analogi. Inilah akar kesalahan yang menimbulkan kebingungan selanjutnya.
I. DASAR TEOLOGIS: TEKSTUAL, HERMENEUTIKA, DAN LOGIKA
A. Analisis Linguistik Mendalam
1. Kejadian 1:26 ("Na’aseh Adam")
- Kata kerja jamak "Na’aseh" menjadi titik tolak:
- Tradisi Trinitarian: Menunjuk pada relasi Bapa, Firman (Yoh. 1:1), dan Roh (Kej. 1:2).
- Tantangan : Bisa jadi merujuk pada "majelis ilahi" (Mzm. 82:1), tetapi "gambar Kita" (betsalmenu) secara konsisten dalam Alkitab hanya merujuk kepada Allah, bukan malaikat.
- Kata kerja jamak **"Na'aseh"** tidak hanya unik dalam Alkitab, tetapi juga berbeda dari pola politeistik Timur Dekat Kuno.
- Dalam **Targum Neofiti**, frasa ini dipertahankan dalam bentuk jamak, sementara terjemahan Yahudi lain (seperti Targum Onkelos) mengubahnya menjadi tunggal — menunjukkan ketegangan interpretatif yang mengarah pada pluralitas ilahi.
- Kata **"echad"** (esa) dalam Ulangan 6:4 tidak bertentangan dengan Trinitas, karena Alkitab sendiri menggunakan "echad" untuk kesatuan majemuk (contoh: Kejadian 2:24).
2. Studi Etimologis:
- Na'aseh (kata kerja jamak qal imperfect) → Menunjukkan tindakan kolektif yang disengaja.
- Perbandingan dengan Yiplach (Ia menciptakan, bentuk tunggal dalam Kej. 1:27) → Ketegangan sengaja antara pluralitas dan kesatuan.
3. Konteks Budaya Kata "Na'aseh":
1. **Literatur Timur Dekat Kuno**
- Frasa "mari Kita menciptakan" juga muncul dalam teks **Mesir kuno** (misalnya, dewa Ptah menciptakan melalui firman), tetapi selalu merujuk pada dewa tunggal → Membantah tafsir "majelis ilahi".
- **Kontras dengan Enuma Elish (Babilonia)**: Dewa-dewa bersifat politeistik dan berkonflik → "Na'aseh" dalam Alkitab menegaskan keesaan Allah.
2. **Targum Yahudi**
- Dalam **Targum Onkelos**, "Na'aseh Adam" diterjemahkan sebagai "Aku akan menciptakan manusia", menghindari pluralitas. Namun, **Targum Neofiti** mempertahankan bentuk jamak, mengisyaratkan penafsiran Trinitarian awal.
4. Perbandingan Bahasa Ibrani dan Yunani**
1. **Kata "Echad" (Ibrani: אֶחָד) dalam Ulangan 6:4**
- Kata "esa" (echad) dalam **Ulangan 6:4** ("TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa") tidak selalu berarti kesatuan numerik mutlak.
- Contoh: **Kejadian 2:24** ("menjadi satu daging") menunjukkan kesatuan majemuk (dua pribadi dalam satu ikatan).
- **Imamat 26:8** ("lima dari kamu akan mengejar seratus") menggunakan "echad" untuk kesatuan kolektif.
- Implikasi: Kesatuan Allah (echad) dalam Trinitas bersifat relasional, bukan matematis.
2. **Istilah "Theos" (Yunani: Θεός) dalam Perjanjian Baru**
- **Yohanes 1:1**: "Firman itu adalah Allah (Theos)" → Anak setara dengan Bapa dalam hakikat ilahi.
- **Kisah 5:3-4**: Roh Kudus disebut "Allah" (Theos), menunjukkan ketritunggalan.
- **Titus 2:13**: "Allah yang besar dan Juruselamat kita Yesus Kristus" → Gelar "Theos" diterapkan kepada Yesus.
B. Non Analogi TRINITAS
Trinitas dan Dwi Natur (Kemanusiaan dan Keilahian) Yesus adalah doktrin yang unik dan non-analogi dalam kekristenan. Artinya, tidak ada contoh sempurna di alam atau pengalaman manusia yang sepenuhnya menggambarkannya. Namun, Alkitab memberikan dasar teologis yang jelas, meskipun tidak menggunakan kata "Trinitas" secara eksplisit.
Apa yang Alkitab Ajarkan tentang Trinitas?
Alkitab tidak memberikan rumusan sistematis seperti teologi modern, tetapi mengungkapkan kebenaran Trinitas melalui:
1. Satu Allah, Tiga Pribadi
- Ulangan 6:4 (Monoteisme): "Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!"
- Namun, kata "esa" (Ibrani: echad) bisa berarti kesatuan majemuk (contoh: Kejadian 2:24, "manusia dan istrinya menjadi satu daging").
2. Setiap Pribadi adalah Allah
- Bapa disebut Allah (Yohanes 6:27; 1 Petrus 1:2).
- Anak (Yesus) disebut Allah (Yohanes 1:1; Roma 9:5; Ibrani 1:8).
- Roh Kudus disebut Allah (Kisah Para Rasul 5:3-4; 2 Korintus 3:17).
3. Interaksi Antar-Pribadi
- Baptisan Yesus (Matius 3:16-17):
- Bapa berfirman dari surga,
- Anak dibaptis di bumi,
- Roh Kudus turun seperti burung merpati.
- Amanat Agung (Matius 28:19): "Baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus."
- Doa Yesus (Yohanes 14:16): Yesus meminta Bapa mengutus Roh Kudus.
4. Kesatuan dalam Tujuan
- Penciptaan: Bapa mencipta melalui Firman (Yesus) dan Roh (Kejadian 1:1-2; Yohanes 1:3).
- Keselamatan:
- Bapa mengutus Anak (Yohanes 3:16),
- Anak menebus dosa (Kolose 1:20),
- Roh menguduskan orang percaya (1 Korintus 6:11).
Bagaimana Menjelaskan ke Umat?
1. Gunakan Bahasa Alkitab, Bukan Filsafat
- Fokus pada apa yang Alkitab nyatakan, bukan analogi yang berisiko reduksi.
- Contoh: Yesus adalah "Firman yang menjadi daging" (Yohanes 1:14), bukan "seperti api yang punya tiga sifat".
2. Akui Misteri dengan Rendah Hati
- Yesaya 55:8-9: "Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu... jalan-Ku lebih tinggi dari jalanmu."
- Trinitas adalah misteri yang diwahyukan, bukan untuk sepenuhnya dipahami, tetapi untuk diimani dan disembah.
3. Tegaskan Bahwa Ini Bukan Tritheisme
- Kristen tidak percaya tiga allah, tetapi satu Allah dalam tiga Pribadi.
- Contoh: Bapa bukanlah Anak, Anak bukanlah Roh Kudus, tetapi mereka satu dalam hakikat ilahi.
4. Hubungkan dengan Keselamatan
- Trinitas bukan hanya doktrin abstrak, tetapi dasar keselamatan:
- Bapa merencanakan,
- Anak menggenapi,
- Roh menerapkan dalam hidup kita.
Contoh Penjelasan Sederhana untuk Umat
"Allah kita adalah Allah yang esa, tetapi dalam Alkitab, Ia menyatakan diri-Nya sebagai Bapa, Anak (Yesus), dan Roh Kudus. Ketiganya berbeda Pribadi, tetapi sama-sama Allah, satu dalam tujuan dan sifat. Kita melihatnya saat Yesus dibaptis: Bapa bersuara dari surga, Yesus ada di air, dan Roh seperti merpati turun (Matius 3:16-17). Ini bukan tiga allah, melainkan satu Allah yang berelasi dalam tiga Pribadi. Seperti Yesus adalah 100% Allah dan 100% manusia (dwi natur), ini adalah misteri yang kita terima dengan iman."
Mengapa Non-Analogi?
- Dwi Natur Yesus (ilahi + manusia) dan Trinitas adalah realitas unik yang hanya ada dalam Allah.
- Analogi (air, api, dll.) selalu berkurang karena:
- Menyarankan "modalisme" (Allah hanya berubah bentuk, bukan tiga Pribadi).
- Atau "tritheisme" (tiga allah terpisah).
Alkitab mengajarkan Trinitas secara implisit melalui relasi dan karya Allah, dan kita menjelaskannya dengan merujuk pada wahyu itu sendiri, bukan analogi yang terbatas.
C. TRINITAS itu Logis ?
Pertanyaan tentang Trinitas (Allah yang esa namun hadir dalam tiga Pribadi: Bapa, Anak/Putra/Firman, dan Roh Kudus) adalah salah satu misteri terdalam dalam iman Kristen. Meskipun tidak sepenuhnya dapat dipahami oleh akal manusia secara sempurna, ada upaya untuk menjelaskannya secara rasional melalui teologi dan filsafat. Berikut beberapa pendekatan rasional yang umum digunakan:
1. Perbedaan antara "Hakikat" (Esensi) dan "Pribadi" (Persona)
- Hakikat/Esensi: Allah adalah satu dalam hakikat-Nya (keilahian-Nya). Tidak ada tiga allah, melainkan satu Allah.
- Pribadi/Persona: Allah hadir dalam tiga "Pribadi" yang berbeda (Bapa, Putra, Roh Kudus), masing-masing memiliki relasi yang unik tetapi berbagi hakikat ilahi yang sama.
- Analogi: Seperti air yang bisa ada dalam tiga bentuk (cair, padat, gas) namun tetap H₂O, atau manusia yang bisa menjadi ayah, anak, dan suami dalam relasi berbeda tetapi tetap satu pribadi. Namun, analogi ini tidak sempurna karena Trinitas bukanlah "tiga peran" melainkan tiga Pribadi yang nyata.
2. Teologi Relasional
- Trinitas menunjukkan bahwa Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8). Kasih membutuhkan relasi, dan dalam diri Allah sendiri sudah ada relasi kekal antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
- Tanpa pluralitas Pribadi dalam keesaan-Nya, Allah tidak bisa disebut "kasih" sebelum penciptaan karena tidak ada yang dikasihi.
3. Pemikiran Filsafat
- St. Agustinus menjelaskan Trinitas melalui analogi akal manusia:
- Pikiran (Bapa),
- Pengetahuan yang dihasilkan (Firman/Putra),
- Kehendak/Kasih yang menghubungkan keduanya (Roh Kudus).
Ketiganya berbeda tetapi satu dalam akal.
- Thomas Aquinas menekankan bahwa tiga Pribadi adalah "subsistensi relasional" dalam satu hakikat ilahi.
4. Kesaksian Alkitab
- Keilahian Kristus dan Roh Kudus:
- Yesus disebut "Allah" (Yohanes 1:1, Yohanes 20:28) dan memiliki kuasa ilahi (Matius 28:18).
- Roh Kudus bertindak sebagai Allah (Kisah 5:3-4, 1 Korintus 3:16).
- Formula Trinitarian: Pembaptisan dalam nama "Bapa, Putra, dan Roh Kudus" (Matius 28:19) menunjukkan kesatuan mereka.
5. Batasan Rasionalitas
- Trinitas bukanlah kontradiksi (tiga allah dalam satu allah), melainkan misteri transenden yang melampaui logika manusia terbatas.
- Iman Kristen mengakui bahwa Allah tidak sepenuhnya bisa "dijelaskan" tetapi "diwahyukan" (melalui Yesus dan Kitab Suci).
Catatan Penting
- Trinitas bukan berarti:
- Tiga allah (itu adalah triteisme).
- Allah berubah peran (itu adalah modalisme).
- Trinitas adalah doktrin yang dirumuskan melalui refleksi mendalam atas wahyu Allah dalam sejarah (Perjanjian Lama & Baru) dan dipertahankan oleh Konsili Nicea (325 M) dan Konstantinopel (381 M).
Trinitas bisa dijelaskan secara rasional sampai batas tertentu, tetapi tidak bisa sepenuhnya dipahami oleh akal manusia karena menyangkut hakikat Allah yang transenden.
Dialektika Filsafat dan Trinitas**
> - **Pertentangan Augustinus-Kapadokia**: Perdebatan klasik antara kesatuan esensi (Augustinus) dan relasi pribadi (Kapadokia) menunjukkan bahwa Trinitas melampaui kategori filsafat Yunani.
> - **Kritik Kantian**: Jika Trinitas memang "noumenon", maka upaya memahami-Nya harus dimulai dari **wahyu**, bukan spekulasi (Kolose 2:2-3).
> - **Analog yang Hidup**: Seperti tarian (perichoresis), Trinitas adalah dinamika kasih yang tak terpisahkan — bukan "1+1+1=3", melainkan karena Allah itu “tidak terbatas”, maka rumusan yang benar adalah : (tidak terbatas) x (tidak terbatas) x (tidak terbatas) = (tidak terbatas)
Penjelasan rasional bertujuan untuk menunjukkan bahwa Trinitas tidak bertentangan dengan logika, sekaligus mengarahkan pada misteri yang lebih besar dari pemahaman kita.
6. Pendekatan Filosofis tentang Trinitas
**A. Teologi Relasional vs. Ontologi Klasik**
1. **Augustinus vs. Bapa Kapadokia**
- **Augustinus** (De Trinitate):
- Analogi _"akal-ingatan-kehendak"_ dalam jiwa manusia → Menekankan **kesatuan esensi** (satu substansi, tiga fungsi).
- Kelemahan: Berisiko mengaburkan distingsi pribadi.
- **Gregorius dari Nazianzus** (Bapa Kapadokia):
- Fokus pada **relasi kekal** Bapa-Anak-Roh Kudus (Yohanes 15:26).
- Kontribusi: Konsep _"perichoresis"_ (saling penetrasi pribadi ilahi tanpa peleburan).
2. **Implikasi untuk Pemahaman Modern**
- **Ontologi Klasik** (Allah sebagai "Ada yang Tak Terbatas") cenderung statis → Trinitas dipahami sebagai "masalah matematika ilahi".
- **Teologi Relasional** (Zizioulas, Moltmann):
- Allah adalah _"komunio kasih"_ → Penciptaan adalah luapan relasi internal Trinitas.
- Relevansi: Menjawab pertanyaan _"Mengapa Allah yang sempurna mencipta?"_
**B. Kritik dari Filsafat Modern**
1. **Tantangan Kantian**
- Immanuel Kant: Trinitas adalah **"noumenon"** (di luar jangkauan akal murni) → Hanya bisa diterima melalui wahyu.
- Tanggapan:
- **Karl Rahner**: _"Trinitas Ekonomis = Trinitas Immanen"_ → Allah yang berelasi dalam sejarah (Yohanes 1:14) adalah Allah yang ada dalam diri-Nya.
2. **Hegel dan Dialektika Trinitas**
- Hegel memandang Trinitas sebagai **proses sejarah**:
- Tesis (Bapa) → Anti-Tesis (Anak) → Sintesis (Roh).
- Masalah: Mengurangi Trinitas menjadi "hukum logika" dan mengabaikan kekekalan pribadi ilahi.
**C. Analogi yang Lebih Aman**
1. **"Pikiran-Kata-Napas" (Augustinus)**
- **Bapa** sebagai pikiran, **Anak** sebagai firman yang diungkapkan, **Roh** sebagai napas yang menghidupkan.
- Dasar Alkitab:
- _"Perkataan yang Kukatakan adalah roh dan hidup"_ (Yohanes 6:63).
2. **Batasan Analogi**
- **Mengapa analogi gagal**:
- Manusia adalah ciptaan → Tidak ada analogi sempurna untuk Sang Pencipta (Yesaya 55:8-9).
- Risiko **modalisme** (jika terlalu menekankan "tiga peran") atau **tritheisme** (jika terlalu memisahkan pribadi).
3. Analogi Matematika
Allah itu tidak terbatas sehingga yg mungkin bisa digunakan meng-analogi Dia dalam per-matematika-an bukanlah angka biasa, misalnya angka 1, melainkan lambang “tidak terbatas” alias infinite.
Berikutnya adalah titik yang sangat dalam di persimpangan matematika, filsafat, dan teologi. Mari kita jelajahi analogi ini lebih jauh, dengan tetap mengakui **batas-batasnya** sekaligus **potensi insight** yang ditawarkannya.
1. **Konteks Limit dan Perluasan Sistem**
- **Matematika**: ∞ muncul dalam *limit* (misal: \( \lim_{x \to 0} \frac{1}{x} = \infty \)) atau perluasan sistem bilangan (seperti *projective infinity* dalam geometri). Ini adalah alat untuk memahami yang "tak terukur" dalam kerangka yang terukur.
- **Teologi**: Pembicaraan tentang Allah memang **melampaui batas bahasa manusia** (limit), tetapi menggunakan konsep terbatas (analogi, simbol, wahyu) untuk menyentuh yang Transenden.
- **Contoh**: Trinitas adalah "perluasan konsep" ketuhanan di luar monoteisme sederhana, tetapi bukan politeisme. Seperti ∞ bukan bilangan tapi "ada" dalam sistem matematika.
**Paralel**: Keduanya adalah upaya *memetakan yang tak terpetakan*—matematika dengan simbol formal, teologi dengan bahasa iman.
2. **"Bukan Bilangan Real" = Transenden?**
- **Matematika**: ∞ bukan bagian dari ℝ (bilangan real), tapi ada dalam perluasan seperti *Riemann Sphere* atau teori himpunan (kardinal tak hingga). Ia "berfungsi" dalam aturan tertentu, tapi tak bisa dioperasikan seperti bilangan biasa.
- **Teologi**: Allah memang **transenden** (melampaui ciptaan), tapi juga imanen (hadir dalam ciptaan).
- **Indeterminacy**: Operasi seperti \( \frac{\infty}{\infty} \) tak terdefinisi karena hilangnya konteks. Mirip dengan pertanyaan "Bisakah Allah menciptakan batu yang tak bisa Dia angkat?"—paradoks muncul karena **menerapkan logika terbatas pada Yang Tak Terbatas**.
**Paralel**: ∞ adalah "penanda transendensi" dalam matematika, seperti kata "Allah" dalam teologi—bukan definisi, tapi penunjuk arah.
3. **Allah sebagai "Indeterminate"?**
- **Matematika**: Bentuk tak tentu (indeterminate) seperti \( \infty - \infty \) memerlukan pendekatan lebih dalam (misal: analisis limit).
- **Teologi**: Allah memang tak bisa "dipastikan" sepenuhnya oleh akal manusia (lih. *Negative Theology* Pseudo-Dionysius). Tapi ini bukan berarti Allah "tidak konsisten"—melainkan **konsistensi-Nya melampaui logika kita**.
- **Contoh**: Trinitas adalah misteri yang *indeterminate* bagi logika Aristotelian (tunggal vs jamak), tapi koheren dalam kerangka relasi kasih (perichoresis).
**Paralel**: Seperti matematikawan yang menggunakan *aturan khusus* untuk bekerja dengan ∞, teolog menggunakan *bahaya analogi* (St. Thomas Aquinas) untuk membicarakan Allah.
4. **Peringatan tentang Analogi**
- **Bahaya**: Matematika adalah sistem tertutup dengan definisi formal, sementara Allah adalah **Subjek Hidup**, bukan objek abstrak.
- **Keutamaan**: ∞ hanyalah simbol, sedangkan Allah adalah *Ada yang Esa* (Keluaran 3:14). Trinitas bukan "tiga ∞", tapi **tiga Pribadi dalam satu Esensi**.
Kesimpulan: Antara Analogi dan Misteri
Pembicaraan tentang Allah terjadi dalam **konteks limit**, dan ∞ bisa menjadi metafora untuk transendensi. Namun:
- Matematika memberi kita **bahaya untuk berpikir jernih tentang ketakterbatasan**, tapi tak bisa menggantikan pengalaman iman.
- Ketakterbatasan Allah justru terungkap dalam **inkarnasi** (Yohanes 1:14): Yang Tak Terbatas masuk ke dalam ruang-waktu yang terbatas.
> *"Jika kamu memahami-Nya, itu bukanlah Allah."* —St. Agustinus
D. Penjelasan Logis Tentang ALLAH
Bisakah Allah dijelaskan secara logika?
Pertanyaan ini menyentuh inti dari teologi negatif (apofatis) dan teologi positif (katafatis), yang telah diperdebatkan oleh para filsuf dan teolog selama berabad-abad. Jawabannya tergantung pada cara kita mendefinisikan "Allah" dan batas-batas rasionalitas manusia. Berikut analisis mendalamnya:
1. Allah dalam Perspektif Iman vs. Rasio
- Jika Allah adalah "Yang Tak Terjelaskan" (Transenden Mutlak)
- Banyak tradisi agama (Islam, Kristen, Yahudi, Hindu Advaita) menegaskan bahwa Allah melampaui pemahaman manusia.
- Contoh:
- Dalam Islam, Allah tidak serupa dengan apa pun (laysa ka-mitslihi syai'un, QS. Asy-Syura:11).
- Dalam Kristen, Thomas Aquinas menyatakan Allah sebagai "actus purus" (Ada yang tak terbatas) yang tak bisa sepenuhnya dipahami ciptaan.
- Implikasi: Jika Allah bisa sepenuhnya dijelaskan oleh akal manusia, maka Dia bukan lagi Allah, melainkan sekadar konsep manusia yang terbatas.
- Jika Allah Memungkinkan Diri Dikenal (Imanen & Berwahyu)
- Agama-agama Abrahamik percaya Allah memilih menyatakan diri-Nya (melalui kitab suci, inkarnasi, atau pengalaman religius).
- Contoh:
- Kristen: "Allah yang tak kelihatan menjadi kelihatan dalam Yesus" (Kolose 1:15).
- Islam: Asmaul Husna (nama-nama Allah) memberi gambaran terbatas tentang sifat-Nya.
- Implikasi: Penjelasan rasional tentang Allah hanya mungkin sejauh Dia berwahyu, bukan mencakup seluruh hakikat-Nya.
2. Batas Rasionalitas dalam Memahami Allah
- Rasio Manusia Terbatas:
Akal manusia terbatas oleh ruang, waktu, dan bahasa. Allah, sebagai pencipta logika (Logos dalam Yohanes 1:1), tidak tunduk pada batasan ini.
- Analoginya: Seperti ikan dalam akuarium mencoba memahami lautan—bisa dapat gambaran dasar, tapi tidak utuh.
- Fungsi Penjelasan Rasional:
- Bukan untuk "mengurung" Allah dalam definisi, tetapi untuk:
1. Menunjukkan bahwa iman tidak bertentangan dengan akal sehat (misalnya: argumen Thomas Aquinas tentang "Penggerak yang Tak Digerakkan").
2. Membantu manusia mendekati misteri Allah secara sistematis (contoh: teologi Trinitas).
3. Apakah Penjelasan Rasional Merendahkan Allah?
- Tidak, selama:
- Kita sadar bahwa semua penjelasan adalah analogi atau pendekatan (bukan hakikat Allah sendiri).
- Kita menerima bahwa ada dimensi Allah yang tetap tersembunyi (Deus absconditus dalam teologi Luther).
- Contoh:
- Trinitas dijelaskan dengan analogi cahaya (panas, cahaya, energi sebagai satu esensi), tetapi analogi ini tidak sama dengan realitas Allah sendiri.
4. Pandangan Para Pemikir
- St. Agustinus:
"Jika kamu memahami-Nya, itu bukan Allah" (Si comprehendis, non est Deus).
- Al-Ghazali:
Kritik terhadap filsafat Yunani yang mencoba "mengukur" Allah dengan logika manusia.
- Karl Barth:
Teologi harus dimulai dari wahyu Allah, bukan spekulasi manusia.
5. Kesimpulan: Allah Tetap Allah Meski Dijelaskan Secara Rasional
- Penjelasan rasional hanyalah alat bantu untuk memahami sebagian dari Allah yang berkenan menyatakan diri-Nya.
- Allah tetaplah Allah karena:
1. Transendensi-Nya tidak hilang: Penjelasan manusia tidak akan pernah exhaustive (tuntas).
2. Imanensi-Nya memungkinkan dialog: Allah yang berwahyu mengundang respons iman, bukan sekadar analisis rasional.
Jawaban Singkat:
Ya, Allah tetap Allah meski ada penjelasan rasional tentang-Nya, karena penjelasan itu hanya menyentuh permukaan dari realitas-Nya yang tak terbatas. Justru kemampuan-Nya untuk secara parsial dipahami oleh akal sekaligus melampauinya adalah bukti keagungan-Nya.
c. ALLAH ITU KASIH DALAM RELASI
Penjelasan berikut ini sangat mendalam 2. Representasi Allah: Fisik vs. Relasional
a. Representasi Fungsional Relasional vs. Fisik
- Kata kunci: Tselem (gambar) dan demut (rupa) menunjukkan representasi fungsional-relasional, bukan fisik. (Lihat Kejadian 1:26)
Ayat ini mendukung konsep Trinitas secara tidak langsung, terutama jika dilihat dari perspektif teologis yang memahami "gambar dan rupa" (Tselem dan Demut) sebagai cerminan dari relasi dan fungsi ilahi, bukan sekadar kesamaan fisik.
Penekanan pada aspek fungsional relasional (bukan fisik) sejalan dengan pemahaman bahwa Allah adalah komunitas kasih yang esa, tetapi berelasi dalam tiga Pribadi.
- Jika Tselem dan Demut dipahami sebagai representasi relasi (seperti kasih, persekutuan, dan otoritas), ini selaras dengan doktrin Trinitas, di mana Allah adalah satu esensi dalam tiga Pribadi yang berelasi (Bapa, Anak, Roh Kudus).
- Manusia diciptakan sebagai gambar Allah tidak dalam bentuk fisik (karena Allah adalah Roh), tetapi dalam kapasitas untuk berelasi, mengasihi, dan memerintah—ciri yang juga ada dalam relasi Trinitas.
Kesatuan dalam Keberagaman:
- Trinitas menekankan kesatuan esensi dengan keberagaman peran. Demikian pula, manusia—meskipun satu spesies—memiliki keragaman individu yang mencerminkan kompleksitas relasi ilahi.
Dukungan dari Para Bapa Gereja:
- Teolog seperti Agustinus dan para Bapa Kapadokia (mis. Gregorius dari Nazianzus) mengaitkan Imago Dei (gambar Allah) dengan akal budi, moralitas, dan relasi, yang bersumber dari hakikat Allah yang trinitarian.
b. DEFINISI ALKITAB TENTANG ALLAH ITU KASIH
Dalam Perjanjian Lama (PL), tidak ada ayat yang secara eksplisit menyatakan "Allah adalah kasih" seperti dalam 1 Yohanes 4:8 di Perjanjian Baru (PB). Namun, hakikat Allah sebagai kasih tetap tercermin melalui sifat, pernyataan, dan tindakan-Nya dalam PL. Berikut penjelasannya:
1. Ayat-Ayat yang Menunjukkan Allah sebagai Sumber Kasih
Meskipun frasa literal _"Allah adalah kasih"_ tidak ada di PL, konsep ini muncul dalam bentuk:
- Pernyataan Kasih Setia Allah (Bahasa Ibrani: חֶסֶד, _hesed_ = kasih yang setia, loyal, dan berkomitmen).
Contoh:
- Keluaran 34:6-7
“TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya (_hesed_) dan setia-Nya."
Ini adalah definisi diri Allah saat menyatakan nama-Nya kepada Musa.
- Mazmur 136 (setiap ayat menegaskan _"kasih setia-Nya (_hesed_) kekal abadi"_).
- Allah yang Mengasihi Umat-Nya:
- Ulangan 7:7-8
“Bukan karena kamu lebih banyak dari bangsa manapun, TUHAN berkenan kepadamu dan memilih kamu... karena TUHAN mengasihi kamu."
- Yesaya 54:10
“Kasih setia-Ku (_hesed_) tidak akan beranjak dari padamu."
2. Konsep Kasih Allah dalam PL vs. PB
- PL: Kasih Allah lebih sering dinyatakan melalui perjanjian (_covenant_) dan kesetiaan (_hesed_), terutama kepada Israel.
- PB: Kasih Allah dinyatakan secara universal melalui Yesus (Yohanes 3:16) dan didefinisikan sebagai hakikat Allah (1 Yohanes 4:8).
Perbedaan ini bersifat penyempurnaan wahyu, bukan kontradiksi. PL menyiapkan fondasi, PB menggenapinya.
3. Mengapa PL Tidak Langsung Menyatakan "Allah adalah Kasih"?
- Konteks Historis: PL menekankan kekudusan Allah (Imamat 11:44) dan keadilan-Nya sebelum sepenuhnya menyatakan kasih-Nya dalam PB.
- Bahasa Teologis: Istilah _hesed_ (kasih setia) dan _rachamim_ (rahmat) dalam Ibrani sudah mewakili konsep kasih Allah, meski tidak persis seperti bahasa Yunani _agape_ (kasih tanpa syarat) di PB.
4. Kesimpulan
- Tidak ada ayat PL yang verbatim mengatakan _"Allah adalah kasih"_ seperti 1 Yohanes 4:8.
- Tetapi, PL secara konsisten menggambarkan Allah sebagai sumber kasih setia (_hesed_) dan rahmat, terutama dalam:
- Keluaran 34:6-7 (penyataan diri Allah),
- Mazmur 136 (nyanyian tentang _hesed_-Nya),
- Kitab Hosea (Allah yang mengasihi Israel seperti suami mengasihi istri yang tidak setia).
Catatan Penting
Konsep kasih Allah dalam PL tidak terpisah dari keadilan dan kekudusan-Nya. Ini menunjukkan bahwa kasih Allah bukan sekadar emosi, tetapi komitmen aktif untuk menyelamatkan dan menguduskan.
dan menyentuh inti teologi tentang hakikat Allah, kasih, dan relasi. Mari kita analisis secara logis dan teologis:
1. Dilema yang Dihadapi
- Jika Allah sebelum penciptaan adalah tunggal tanpa relasi (bukan Trinitas), bagaimana Dia bisa disebut "Pengasih" (1 Yohanes 4:8)?
Kasih membutuhkan objek/penerima.
- Jika Allah tidak membutuhkan ciptaan untuk mengasihi (karena Ia sempurna), dari mana kasih itu muncul?
2. Solusi Trinitas
Inilah mengapa doktrin Trinitas menjadi jawaban teologis yang logis:
- Allah Trinitas (Bapa, Anak, Roh Kudus) sudah berelasi secara kekal dalam diri-Nya sendiri sebelum ada ciptaan.
- "Pada mulanya adalah Firman (Yesus), dan Firman itu bersama-sama Allah, dan Firman itu adalah Allah." (Yohanes 1:1)
- "Aku (Yesus) dan Bapa adalah satu." (Yohanes 10:30)
- "Roh Kudus yang keluar dari Bapa." (Yohanes 15:26)
- Relasi kasih dalam Trinitas bersifat abadi:
- Bapa mengasihi Anak (Yohanes 3:35),
- Anak mengasihi Bapa (Yohanes 14:31),
- Roh Kudus adalah "ikatan kasih" antara Bapa dan Anak (Augustinus).
Artinya:
Allah tidak perlu menciptakan alam semesta untuk menjadi Pengasih. Ia sendiri adalah subjek dan objek kasih (agape) secara internal dalam relasi Trinitas.
3. Kontras dengan Konsep Allah Non-Trinitarian
- Dalam teologi Unitarian (Allah absolut tunggal tanpa pluralitas pribadi), kasih Allah baru muncul setelah penciptaan.
- Ini menimbulkan masalah:
- Sebelum menciptakan, Allah tidak berelasi dengan siapa pun. Lalu, bagaimana Ia bisa disebut "Pengasih" secara hakiki?
- Apakah Allah "membutuhkan" ciptaan untuk menyempurnakan sifat-Nya? (Ini bertentangan dengan kemandirian Allah.)
- Trinitas menghindari masalah ini karena relasi kasih sudah ada secara internal dan abadi.
4. Argumen Filosofis
- Kasih memerlukan "Yang Lain":
Kasih sejati (bukan sekadar narsisisme) membutuhkan pihak lain untuk dikasihi.
- Dalam Trinitas, "Yang Lain" itu sudah ada: Bapa mengasihi Anak, Anak mengasihi Bapa, dan Roh Kudus adalah ekspresi kasih itu.
- Allah yang non-relasional (tunggal mutlak) tidak memiliki "Yang Lain" dalam diri-Nya, sehingga kasih-Nya baru teraktualisasi saat menciptakan. Ini membuat kasih-Nya bersifat kondisional (bergantung pada ciptaan), bukan esensial.
5. Contoh Analogi
- Matahari dan Cahayanya:
Matahari (Bapa) selalu memancarkan cahaya (Anak) dan kehangatan (Roh Kudus).
Sifat matahari adalah memberi terang, bahkan sebelum ada planet yang menerimanya.
- Begitu pula, Allah Trinitas adalah kasih sebelum alam semesta ada.
6. Kesimpulan: Logiskah?
✅ Sangat logis, jika menerima premis bahwa:
1. Allah adalah kasih secara hakiki (1 Yohanes 4:8).
2. Kasih sejati membutuhkan relasi.
3. Karena itu, Allah harus memiliki relasi dalam diri-Nya sendiri (Trinitas) agar kasih-Nya bersifat abadi dan tidak tergantung pada ciptaan.
❌ Tidak logis, jika:
- Allah dipahami sebagai monad (tunggal tanpa relasi), karena kasih-Nya menjadi bergantung pada ciptaan.
7. Catatan Teologis
- Inilah keunikan Kristen: Kasih Allah bukan sekadar sifat tambahan, tetapi hakikat diri-Nya sebagai Trinitas.
- Ini juga jawaban untuk pertanyaan:
Allah menciptakan dunia karena Dia meluap dengan kasih (bukan karena butuh dikasihi).
Jadi, Trinitas justru adalah penjelasan paling konsisten untuk Allah Maha Pengasih yang Kekal Abadi.
d. Penjelasan Teologis yang Lebih Fokus pada Analogi Modern dan Trinitas
"Allah Trinitas tidak pernah putus hubungan. Ketika manusia melakukannya, itulah dosa. Kristus datang untuk menyambung kembali apa yang kita putuskan."
1. "Pemutusan Hubungan" di Zaman Modern vs. Dosa dalam Kekristenan
- Budaya Modern:
- Hubungan (romantis, persahabatan, profesional) sering dianggap "bisa diputus kapan saja" jika tidak menguntungkan.
- Prinsipnya: "Kalau tidak cocok, tinggalkan."
- Dosa dalam Iman Kristiani:
- Dosa = Pemutusan Relasi dengan Allah (Kej. 3:8-10; Yes. 59:2).
- Tidak sekadar "pelanggaran hukum," tetapi pengkhianatan terhadap ikatan kasih (Hos. 3:1; Luk. 15:11-32).
- Mengapa ini serius? Karena manusia diciptakan untuk hidup dalam relasi dengan Allah (Kis. 17:28).
2. Kenapa Ini Disebut Dosa?
- Allah adalah Relasi Itu Sendiri (Trinitas):
- Bapa, Anak, dan Roh Kudus selalu terhubung dalam kasih sempurna (Yoh. 17:24; Mat. 3:16-17).
- Mereka tidak pernah "putus hubungan"—bahkan saat Salib (Mat. 27:46 → seruan Yesus adalah bagian dari rencana Trinitas).
- Ketika Manusia Memutus Hubungan, Ia Melawan Hakikat Allah:
- Jika Allah adalah komunio kasih, maka dosa adalah penolakan terhadap realitas itu.
- Contoh:
- Adam & Hawa menyembunyikan diri (Kej. 3:8) → menolak relasi.
- Kain membunuh Habel (Kej. 4:8) → menghancurkan relasi manusia.
3. Hubungannya dengan Nama "Trinitas"
- Trinitas = Model Relasi Sempurna:
- Bapa mengasihi Anak (Yoh. 3:35).
- Anak taat kepada Bapa (Yoh. 5:19).
- Roh Kudus mempersatukan (Ef. 4:3-6).
- Dosa = Pelanggaran terhadap Pola Ini:
- Ketika manusia egois, tidak setia, atau memutus hubungan, ia menolak pola kehidupan Trinitas.
- Contoh nyata:
- Pernikahan (Ef. 5:31-32) harus mencerminkan kesetiaan Trinitas.
- Gereja (1 Kor. 12:12-27) harus hidup dalam persekutuan seperti Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
4. Relevansi untuk Manusia Modern
- Kritik terhadap Mentalitas "Putus Hubungan Saja":
- Jika Trinitas adalah relasi yang tetap setia, maka manusia dipanggil untuk hidup dalam komitmen.
- Dosa bukan sekadar "melanggar aturan," tetapi merusak gambaran Allah dalam diri kita.
- Pemulihan melalui Kristus:
- Yesus datang untuk memulihkan relasi yang terputus (2 Kor. 5:18-19).
- Gereja dipanggil menjadi komunitas yang menjaga ikatan kasih (Yoh. 13:35)
3. "Aku adalah Aku" (אֶהְיֶה אֲשֶׁר אֶהְיֶה) sebagai Dasar Relasionalitas
Allah yang berkata 'Aku adalah Aku' adalah Allah yang, dalam diri-Nya sendiri, adalah 'Kami yang saling mengasihi'.
Benang Merah Antara "Aku adalah Aku" (Keluaran 3:14) dan Allah Trinitas yang Relasional
A. Makna Nama Ilahi yang Membongkar Konsep Ketuhanan
1. Terjemahan yang Lebih Dalam
- Terjemahan harfiah "Aku adalah Aku" (Kel 3:14) tidak cukup.
- Martin Buber menerjemahkan sebagai "Aku akan hadir sebagaimana Aku akan hadir" - menekankan:
Kehendak bebas Allah dalam menyatakan diri.
Janji penyertaan yang dinamis ("Aku akan menyertai engkau" - Kel 3:12)
2. Kontras dengan Dewa-dewi Lain
- Dewa Mesir/Yunani:
Nama-nama mereka menggambarkan fungsi terbatas (dewa perang, dewi cinta)
Sifatnya terprediksi oleh mitos
- Yahweh:
Tidak terbatas pada peran tertentu
Kehadiran-Nya selalu baru (Yes 43:19)
B. Paradoks Transendensi-Imanensi dalam Nama Ini
1. Allah yang Tidak Terikat tapi Terlibat
- Transenden:
"Tinggi dan mulia" (Yes 6:1)
Tidak dapat dipahami sepenuhnya (Yes 55:8-9)
- Imanen:
"Aku akan menyertai mulutmu" (Kel 4:12)
"Tempat tinggal-Ku di tengah-tengahmu" (Im 26:11)
2. Trinitas sebagai Jawaban atas Paradoks Ini
| Dimensi | Bapa | Anak | Roh Kudus |
|------------|------------------|-----------------------|--------------------|
| Eksistensi | Sumber keberadaan (1 Kor 8:6) | Firman yang menjadi daging (Yoh 1:14) | Kuasa Allah yang aktif (Kis 1:8) |
| Relasi | Mengutus (Yoh 3:16) | Taat sampai mati (Flp 2:8) | Memersatukan (Ef 4:3) |
| Kehadiran | Di surga (Mat 6:9) | Bersama kita (Mat 28:20) | Dalam kita (Yoh 14:17) |
C. Implikasi bagi Pemahaman Dosa dalam Terang "Aku adalah Aku" dan Trinitas
- Ketika manusia:
Ingin "menjadi seperti Allah" (Kej 3:5) → Menolak ketergantungan
Menyembah berhala (Kel 32:4) → Mencari Allah yang bisa dikontrol
i. DOSA SEBAGAI PENOLAKAN TERHADAP RELASI ILAHI
a. Keinginan "Menjadi seperti Allah" (Kej 3:5) vs. Ketergantungan Trinitarian
- Teologi Katolik (KGK 396-398):
- Dosa asal adalah penolakan ketergantungan pada Allah dan klaim menjadi "tuhan" atas diri sendiri.
- Kontras dengan Trinitas:
- Bapa, Anak, dan Roh Kudus saling bergantung dalam kasih (Yoh. 5:19; 14:10) tanpa kehilangan identitas.
- Manusia diciptakan untuk ketergantungan yang bebas (lih. St. Yohanes Paulus II, Theology of the Body).
- Contrast Ekstrim:
| Manusia Berdosa | Allah Trinitas |
|------------------|------------------|
| Ingin mandiri secara egois | Saling memberi diri dalam kasih (Yoh. 17:21) |
| Menolak batasan sebagai ciptaan | Menerima "batasan" relasi (Flp. 2:6-7) |
b. Penyembahan Berhala (Kel 32:4) vs. Relasi Trinitas yang Bebas
- KGK 2112-2114: Penyembahan berhala adalah upaya mengontrol yang ilahi.
- Trinitas sebagai Anti-Berhala:
- Anak memilih taat (Yoh. 10:18 → "Aku memberikan nyawa-Ku... tidak ada yang mengambilnya dari-Ku").
- Roh Kudus bertindak dengan kedaulatan (Kis. 13:2 → "Roh Kudus berkata...").
- Contoh PB:
- Yesus bisa menolak salib (Mat. 26:53), tetapi memilih taat (Flp. 2:8).
- Roh Kudus tidak bisa "dipaksa" (Yoh. 3:8 → seperti angin).
2. Dosa sebagai Gangguan terhadap "Komunio"
a. Dosa Memecah Relasi (KGK 1850)
- Dalam Trinitas: Tidak ada manipulasi atau dominasi (Bapa tidak memaksa Anak).
- Dalam Dosa:
- Vertikal: Manusia menjauh dari Allah (Yes. 59:2).
- Horizontal: Kain membunuh Habel (Kej. 4:8).
b. Pemulihan melalui Salib (KGK 602-603)
- Kristus sebagai "Aku adalah Aku" yang relasional:
- Mengalami keterputusan (Mat. 27:46 → "Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?") untuk menyambungkan kembali relasi.
- Gereja (sakramen-sakramen) menjadi sarana pemulihan relasi ini (KGK 774 → "komunio dengan kehidupan Trinitas").
3. Aplikasi Pastoral
a. Melawan Individualisme Modern
- Budaya Sekuler: "Aku tidak butuh siapa-siapa" → mencerminkan semangat Kejadian 3.
- Respons Katolik:
- Ekaristi sebagai komunio dengan Trinitas (KGK 1325).
- Pengakuan dosa sebagai pemulihan relasi (KGK 1440).
b. Spiritualitas Trinitarian
- Doa: Bapa Kami (Mat. 6:9) → model relasi anak-anak Allah.
- Hidup Bersama: Gereja sebagai gambar Trinitas (KGK 959 → "persekutuan para kudus").
ii. PEMULIHAN RELASI ILAHI MELALUI KRISTUS: PERSPEKTIF TEOLOGIS UMUM
1. Yesus sebagai Penggenapan Dinamis "Aku adalah Aku"
a. Klaim Yesus dalam Yohanes 8:58 ("Sebelum Abraham jadi, Aku ada")
- Penghubung Langsung dengan Keluaran 3:14:
- Yesus mengidentifikasi diri-Nya dengan nama ilahi Yahweh ("ἐγώ εἰμι"/_ego eimi_), menegaskan keberadaan-Nya yang transenden dan kekal.
- Paralel Teologis:
- Yahweh di PL: _"Aku akan menyertai engkau"_ (Kel. 3:12).
- Yesus di PB: _"Aku menyertai kamu senantiasa"_ (Mat. 28:20).
- Makna Eksistensial:
- Yesus bukan sekadar "tokoh sejarah", tetapi Allah yang hadir secara personal.
- Dosa memisahkan manusia dari Allah → Kristus adalah "Aku Ada" yang mendekat.
b. Relasi Tanpa Syarat dalam Yohanes 10:30 ("Aku dan Bapa adalah Satu")
- Model Relasi Sempurna:
- Kesatuan tanpa peleburan identitas: Bapa dan Anak tetap berbeda pribadi, tetapi sempurna dalam kasih.
- Kontras dengan Dosa:
- Dosa = egoisme (manusia ingin menjadi "tuhan" bagi diri sendiri).
- Trinitas = saling memberi diri (Yoh. 3:35; 14:31).
2. Mekanisme Pemulihan Melalui Kristus
a. Inkarnasi: Allah yang Menjadi "Yang Lain"
- Allah yang Tak Terbatas Masuk ke dalam Keterbatasan:
- Yesus mengosongkan diri (Flp. 2:6-7) → relasi ilahi yang membumi.
- Dampak bagi Manusia:
- Manusia tidak perlu "naik ke surga" untuk menemui Allah — Allah turun ke dunia.
b. Salib: Titik Nadir Pemutusan dan Pemulihan
- Paradoks Salib:
- Saat Yesus berseru _"Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?"_ (Mat. 27:46), relasi Trinitas seolah terputus.
- Namun justru di titik ini, relasi Allah-manusia dipulihkan (2Kor. 5:19).
c. Kebangkitan: Relasi yang Diperbarui
- Kebangkitan Yesus bukan sekadar bukti kuasa, tetapi pembukaan relasi baru:
- Manusia diangkat sebagai anak-anak Allah (Yoh. 1:12).
- Roh Kudus diberikan sebagai penghubung permanen (Yoh. 14:17).
3. Implikasi bagi Manusia Modern
a. Kritik terhadap Individualisme Radikal
- Budaya Modern: "Aku tidak butuh siapa-siapa" = replikasi dosa Adam.
- Kristus Menawarkan Alternatif:
- Bukan ketergantungan yang melemahkan, tetapi relasi yang memerdekakan (Yoh. 8:36).
b. Spiritualitas Relasional
- Doa: Bukan monolog, tetapi dialog dengan "Aku Ada" yang hidup.
- Komunitas: Gereja sebagai jejaring relasi yang meniru Trinitas (Kis. 2:42-47).
4. Perbandingan dengan Konsep Lain
| Konsep | Allah Filsafat | Allah Trinitas |
|------------------|----------------------|--------------------------|
| Eksistensi | "Penggerak Tak Bergerak" (Aristoteles) | "Aku Ada" yang berelasi (Yoh. 8:58) |
| Relasi | Transenden pasif | Transenden-imenen aktif |
| Tanggapan atas Dosa | Tidak terlibat | Menjadi manusia dan mati |
5. Kesimpulan: Dari "Aku adalah Aku" ke "Aku Bersama Kamu"
- Yesus mengubah nama ilahi dari konsep abstrak ("Aku Ada") menjadi relasi personal ("Aku bersamamu").
4. Penggenapan "Imanuel" (Allah Beserta Kita) dalam Terang "Aku adalah Aku"
1. Dari Nama Ilahi ke Inkarnasi
- "Aku adalah Aku" (Kel 3:14)
- Transendensi: Menegaskan keberadaan Allah yang tak terbatas.
- Janji Relasional: "Aku akan menyertai engkau" (Kel 3:12).
- "Imanuel" (Yes 7:14; Mat 1:23)
- Penggenapan dalam Yesus:
- Allah yang transenden kini hadir secara jasmani (Yoh 1:14).
- "Aku ada" menjadi "Aku bersamamu senantiasa" (Mat 28:20).
2. Dimensi Kristologis
a. Yesus sebagai "Aku adalah Aku" yang Hidup
- Klaim Yesus dalam Yohanes 8:58 ("Sebelum Abraham jadi, Aku ada")
- Kesinambungan dengan Keluaran 3:14, tetapi kini dalam daging.
- KGK 590: Yesus menyatakan diri sebagai "Aku Ada", menggenapi nama ilahi.
b. Relasi yang Dipulihkan
- Dosa = Keterputusan (Yes 59:2)
- Salib = Titik terendah keterpisahan ("Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" - Mat 27:46)
- Kebangkitan = Pemulihan relasi ("Aku mengutus kamu" - Yoh 20:21)
- Dosa dipatahkan bukan dengan kekuatan, tetapi dengan relasi yang lebih kuat — kasih Trinitas.
_"Dari 'Aku adalah Aku' ke 'Imanuel', Allah tidak berubah hakikat-Nya, tetapi membuat hakikat-Nya yang tak terbatas itu kini dapat disentuh dalam Yesus. Inilah penggenapan sempurna: Allah yang tetap transenden, tapi sekaligus lebih dekat dari sebelumnya."_
_"Allah berkata 'Aku Ada', tapi Yesus menunjukkan bahwa 'Aku Ada' berarti 'Aku untukmu'."_
2. Trinitas: Relasi dalam Identitas yang Tetap
- "Aku adalah Aku" menegaskan:
- Konsistensi Allah: Ia tidak berubah (Mal. 3:6).
- Namun bukan Allah yang tertutup: Identitas-Nya justru terungkap dalam relasi (Yoh. 1:18: "Anak Tunggal yang memberitakan-Nya").
- Contrast dengan Dewa-dewi Politeis:
- Dewa Mesir/Yunani: Identitas terbatas pada peran tertentu (dewa perang, cinta, dll.).
- Yahweh-Trinitas: "Aku adalah Aku" mencakup segala relasi (Pencipta, Penebus, Pengudus).
3. Titik Temu: Allah yang "Ada untuk Kita"
- Keluaran 3:14 + Perjanjian Baru:
| "Aku adalah Aku" (Kel. 3:14) | Trinitas (PB) |
|-------------------------------|----------------|
| Janji penyertaan (Kel. 3:12) | Inkarnasi (Yoh. 1:14) |
| Allah yang bebas (Yes. 55:8) | Allah yang memilih berelasi (Flp. 2:6-7) |
| Transenden (Yes. 6:1) | Imanen (Kis. 17:28) |
- Kesatuan Konsep:
- "Aku adalah Aku" → Dasar ontologis (hakikat Allah).
- Trinitas → Ekspresi relasional (bagaimana Allah yang esa itu hidup dalam komunio).
4. Implikasi Teologis
1. Anti-Mitos:
- "Aku adalah Aku" menolak mitos (Allah bukan sekadar personifikasi alam).
- Trinitas menolak deisme (Allah tidak jauh, tetapi aktif berelasi).
2. Dasar untuk Etika Relasional:
- Jika Allah adalah "Aku dalam Kami" (Trinitas), maka manusia dipanggil untuk hidup dalam kasih (1 Yoh. 4:19).
3. Jawaban atas Kehampaan Eksistensial:
- Allah yang berkata "Aku adalah Aku" sekaligus mengundang kita masuk dalam relasi-Nya (Why. 3:20).
Kesimpulan
"Aku adalah Aku" dan Trinitas adalah dua sisi mata uang yang sama:
- Nama ilahi (Kel. 3:14) menjawab: "Siapakah Allah?" → Yang mutlak ada.
- Trinitas menjawab: "Bagaimana Allah ada?" → Dalam relasi kasih.
Analoginya:
- Seperti lautan (hakikat: "aku adalah air") yang selalu bergerak dalam gelombang (relasi: pasang-surut, arus).
- Allah tetap esa dalam hakikat, tetapi berelasi dalam keberadaan-Nya.
—
II. TRINITAS SEBAGAI INTI RELASI DAN PENCIPTAAN
A. Dialektika TRINITAS: Antara Wahyu, Tafsir, dan Pengalaman Iman
1. ANTARA WAHYU DAN TAFSIR: SEJARAH PENGUNGKAPAN PROGRESIF
a. Tradisi sebagai Proses Penyingkapan
- Perjanjian Lama: Jejak-jejak Trinitarian
- Theofani Plural:
- Kejadian 18:1-3 (Tiga Pria menjumpai Abraham) → Bapa, Anak, Roh sebagai "Tamunya Abraham" (ikon Trinitas Rublev).
- Daniel 7:13-14 ("Anak Manusia" datang kepada "Yang Lanjut Usia") → Dialog antar-Pribadi ilahi.
- Nama-nama Allah:
- YHWH (Keluaran 3:14) → Bapa sebagai Sumber.
- Hikmat (Amsal 8:22-31) → Prafigurasi Kristus (1 Kor. 1:24).
- Roh Allah (Kej. 1:2) → Pribadi yang aktif dalam penciptaan.
- Perjanjian Baru: Puncak Pengungkapan
- Yesus sebagai "Anak Allah":
- Baptisan Yesus (Mat. 3:16-17) → Bapa berfirman, Roh turun seperti merpati.
- Pengakuan Petrus (Mat. 16:16) → Yesus adalah "Mesias, Anak Allah yang hidup".
- Roh Kudus sebagai Pribadi:
- Yohanes 14:26 → "Penolong yang akan diutus Bapa dalam Nama-Ku".
- Kisah Para Rasul 5:3-4 → Berbohong kepada Roh Kudus = Berbohong kepada Allah.
b. Kritik Terhadap Konsep "Rahasia Tersembunyi"
- Pertanyaan Keras:
- Jika Trinitas adalah kebenaran esensial, menganyakah:
- Yesus tidak pernah mengucapkan kata "Trinitas"?
- Paulus tidak merumuskan doktrin secara sistematis?
- Jawaban Dialektis:
- Bahasa Yesus adalah bahasa naratif, bukan dogmatis → Ia menyatakan Trinitas melalui:
- Relasi dengan Bapa (Yoh. 10:30, "Aku dan Bapa adalah satu").
- Janji Roh (Yoh. 16:13, "Roh Kebenaran akan memimpin kamu").
- Perkembangan doktrin adalah respons terhadap heresi (e.g., Arianisme) → Konsili Nicea (325 M) memformulasikan apa yang sudah diimani.
2. ANTARA AKAL BUDI DAN MISTERI: TRINITAS DALAM FILSAFAT
a. Paradoks Tiga-dalam-Satu
- Tantangan Logika Aristotelian:
- Hukum Identitas (A=A) vs. Trinitas (Bapa ≠ Anak ≠ Roh, tapi ketiganya Allah yang esa).
- Solusi Analogis:
- Augustinus: Analogi "akal-ingatan-kehendak" dalam jiwa manusia (satu substansi, tiga fungsi).
- C.S. Lewis: Analogi "ruang-waktu-materi" → Satu realitas dengan tiga aspek tak terpisahkan.
b. Kritik Filosofis Modern
- Kantian: Trinitas adalah "noumenon" (tak terjangkau akal murni) → Hanya bisa diketahui melalui wahyu.
- Hegelian: Trinitas adalah dialektika sejarah (Tesis-Bapa, Anti-Tesis-Anak, Sintesis-Roh).
- Tanggapan Teologis:
- Karl Rahner: "Trinitas Ekonomis = Trinitas Immanen" → Allah yang menyatakan diri dalam sejarah adalah Allah yang ada dalam diri-Nya.
3. ANTARA KRITIK DAN HARMONI: MEMBACA ULANG YOHANES 17
a. Doa Yesus sebagai "Teologi Trinitas Hidup"
- Yohanes 17:21-23 → "Supaya mereka semua menjadi satu, seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau... agar dunia percaya."
- Relasi Bapa-Anak menjadi model untuk:
- Kesatuan Gereja (eklesiologi trinitarian).
- Kesatuan manusia (antropologi relasional).
b. Kritik Postmodern terhadap "Kesatuan"
- Derrida: Kesatuan adalah mitos logosentris → Trinitas justru dekonstruksi terhadap monoteisme kaku.
- Tanggapan:
- Trinitas bukan kesatuan monolitik, tetapi komunio dalam perbedaan (perichoresis). Ini relevan untuk dialog pluralisme, karena menawarkan model relasi tanpa penyeragaman.
1. Kesatuan yang Heterogen
PB menunjukkan Trinitas sebagai kesatuan esensi (homogen dalam hakikat ilahi) tetapi heterogen dalam modus keberadaan dan fungsi:
- Bapa, Anak, dan Roh Kudus setara secara keilahian (Yoh 10:30; Kol 2:9; Kis 5:3-4)
- Namun berbeda dalam peran (1Kor 11:3; Yoh 14:26; 15:26).
2. Bahasa PB yang Dinamis
- Kesatuan: "Aku dan Bapa adalah satu" (Yoh 10:30) → Homogen dalam substansi
- Keberagaman: Pembaptisan (Mat 28:19), Berkat (2Kor 13:13) → Heterogen dalam persona
3. Paradoks yang Disengaja
PB tidak memaksakan analogi manusiawi, tetapi menyatakan realitas ilahi yang melampaui kategori homogen/heterogen sederhana (Rom 11:33-34).
Kesimpulan: Trinitas dalam PB adalah homogen dalam natur ilahi, tetapi heterogen dalam relasi dan ekonomi penebusan. Upaya mengkotakkan ke dalam satu kategori justru mengurangi misteri yang sengaja dipertahankan oleh teks Kitab Suci.
(Catatan: Istilah "homogen/heterogen" sendiri adalah konsep filsafat Yunani yang tidak digunakan PB, tetapi dipinjam untuk analisis ini.)
4. APLIKASI KONTEMPORER: TRINITAS DI ERA DIGITAL
a. Analogi Teknologi
- Trinitas sebagai "Cloud Computing":
- Bapa = Server (sumber),
- Anak = Interface (yang menyatakan),
- Roh = Network (yang menghubungkan).
- Peringatan: Analogi ini berguna, tetapi Allah bukan algoritma!
b. Spiritualitas Virtual
- Komuni Online: Bisakah Ekaristi digital mencerminkan koinonia Trinitas?
- Pro: Teknologi sebagai sarana anugerah (cf. surat Paulus via tulisan).
- Kontra: Inkarnasi (Yesus sebagai tubuh nyata) tidak bisa direduksi ke virtual.
KESIMPULAN: TRINITAS SEBAGAI LADANG TERBUKA
"Trinitas bukanlah benteng dogma yang statis, melainkan ladang tempat:
- Sejarah (wahyu progresif),
- Akal Budi (filsafat dan sains),
- Pengalaman (mistik dan liturgi)
berkembang dalam dialektika yang hidup. Di sini, kita bukan hanya mempelajari Allah, tapi diundang untuk berpartisipasi dalam tarian kasih-Nya."
Referensi Kunci:
- The Trinity – Karl Barth (teologi dialektis).
- God for Us – Catherine LaCugna (relasi dan komunio).
- The Divine Dance – Richard Rohr (mistik trinitarian).
B. Antara Kesempurnaan Allah dan Penciptaan : Dialektika Kasih Yang Berlimpah
1. PERTANYAAN KRITIS: MENGAPA ALLAH YANG SUDAH SEMPURNA MENCIPTA?
a. Paradoks Klasik Teodise
- Jika Allah Tritunggal sudah sempurna dalam relasi internal (perichoresis), apa motivasi penciptaan?
- Kritik Filosofis:
- Plotinus: "Yang Satu" melimpah tanpa kebutuhan (emanasi).
- Leibniz: Dunia adalah "yang terbaik dari semua kemungkinan" karena kebaikan Allah.
- Tantangan Teologis:
- Apakah penciptaan berarti Allah "kurang" sebelum mencipta? (Berkhof: Tidak, karena kasih-Nya bersifat memberi secara bebas).
b. Dua Jawaban Ekstrem yang Ditolak
1. Deisme: Allah mencipta lalu mundur → Menyangkal relasi Trinitas yang terus aktif.
2. Panteisme: Alam adalah "emanasi" Allah → Menghilangkan kebebasan ciptaan.
2. HARMONI: KASIH SEBAGAI SIFAT ONTOLOGIS ALLAH
a. Analogi Cahaya Matahari
- Seperti matahari harus bersinar karena hakikatnya, Allah mengasihi karena Ia adalah luapan Kasih (1 Yoh. 4:8).
- Thomas Aquinas: "Allah mencipta bukan untuk mendapatkan kebaikan, tetapi untuk menyebarkannya" (Summa Theologiae I.44.4).
- Jonathan Edwards: "Penciptaan adalah emanasi kemuliaan Allah yang tak terhindarkan."
b. Kasih Trinitas yang Melimpah
1. Bapa sebagai sumber kasih (Yoh. 3:16).
2. Anak sebagai kasih yang dikorbankan (Rom. 5:8).
3. Roh Kudus sebagai kasih yang dicurahkan (Rom. 5:5).
- Penciptaan adalah "undangan ke dalam tarian" (Zizioulas) → Manusia dijadikan mitra kasih (koinonia).
3. IMPLIKASI FILOSOFIS: KEBUTUHAN VS KEBERLIMPAHAN
a. Filsafat Yunani vs Teologi Kristen
- Aristoteles: Allah sebagai "Penggerak Tak Tergerak" yang tidak peduli pada dunia.
- Teologi Kristen: Allah Tritunggal adalah "Penggerak yang Mengasihi" (W. Pannenberg) → Relasi internal meluap ke eksternal.
b. Teologi Proses (Kritik & Tanggapan)
- Alfred N. Whitehead: Allah "berevolusi" bersama ciptaan.
- Tanggapan: Trinitas klasik menolak ini → Allah transenden dalam kesempurnaan-Nya, tapi imanen dalam kasih-Nya.
4. APLIKASI PRAKTIS: DUNIA SEBAGAI "PEMBERIAN"
a. Ekologi Trinitarian
- Ciptaan mencerminkan relasi Trinitas yang saling terhubung.
- Alam bukan "sumber daya", tapi hadiah kasih Allah → Dasar teologis untuk konservasi (Laudato Si’ §76).
Implikasi bagi Manusia
- Relasi: Jika Allah adalah komunio, maka manusia—sebagai gambar-Nya—diciptakan untuk komunitas.
b. Seni dan Kreativitas
- Analog Seniman:
- Allah mencipta seperti pelukis yang melukis bukan karena butuh lukisan, tapi karena sukacita berekspresi.
- Puisi (bait, ritme, makna) → Tidak bisa direduksi tanpa kehilangan keutuhan.
- Makoto Fujimura: "Seni adalah partisipasi dalam penciptaan terus-menerus Allah."
C. Menjadi "Anak Allah" vs. "Menjadi Tuhan": Sebuah Analisis Teologis
1. Makna "Anak Allah" dalam Alkitab
- Untuk Yesus (Anak Tunggal Allah):
- Hakikat Ilahi: Yesus adalah Allah sendiri yang menjelma (Yoh 1:1,14; Kol 2:9)
- Relasi Trinitas: "Anak" menunjuk pada hubungan kekal dalam Allah (Yoh 10:30)
- Gelar Kristologis: Menyatakan kesetaraan dengan Bapa (Flp 2:6)
- Untuk Manusia (Anak-anak Allah melalui Adopsi):
- Status yang Diberikan (Yoh 1:12; Rm 8:15-16):
- Bukan hakikat ilahi, tapi relasi baru melalui Kristus
- "Kita disebut anak-anak Allah" (1Yoh 3:1) → anak secara legal, bukan alamiah
- Perbedaan Ontologis:
| | Kristus (Anak Tunggal) | Manusia (Anak Adopsi) |
|---|---|---|
| Hakikat | Allah sejati (Yoh 8:58) | Ciptaan yang diangkat (Mzm 8:5) |
| Cara Menjadi Anak | Kekal (Ibr 1:3) | Melalui penebusan (Gal 4:5) |
| Kuasa | Mencipta (Kol 1:16) | Diberkati (Ef 1:3) |
2. Bahaya Kesalahpahaman "Menjadi Tuhan"
- Dosa Asal: Keinginan "menjadi seperti Allah" (Kej 3:5) → penolakan terhadap status ciptaan
- Kontras dengan Trinitas:
- Dalam Trinitas: saling mengakui ke-Tuhan-an (Bapa → Anak → Roh)
- Dalam dosa: ingin diakui sebagai tuhan tanpa mengakui Tuhan lain
- Perbedaan Konsep "Theosis" (2Pet 1:4):
- Bukan menjadi Allah secara hakikat
- Tapi berpartisipasi dalam kehidupan ilahi melalui:
- Penyatuan dengan Kristus (Gal 2:20)
- Transformasi moral (Rm 12:2)
3. Analogi untuk Memahami Perbedaan
- Analog Pernikahan:
- Ketika menikah, seseorang menjadi "keluarga raja" → status baru, tapi bukan lahir dari darah raja
- Demikian manusia diangkat menjadi anak → hak waris (Rm 8:17), tapi bukan Pencipta
- Analog Cahaya:
- Yesus adalah Matahari (sumber cahaya sejati - Yoh 8:12)
- Manusia adalah bulan (hanya memantulkan cahaya - Mat 5:14)
4. Implikasi Praktis
1. Kerendahan Hati:
- Menyadari kita tetap ciptaan (Why 4:11)
- "Aku percaya, Tuhan!" (Yoh 20:28) vs "Akulah Tuhan" (Yes 14:14)
2. Tanggung Jawab sebagai Anak:
- Bukan hak istimewa untuk dipertuhankan
- Tapi panggilan untuk mencerminkan karakter Bapa (Mat 5:48)
5. Kesimpulan
- Tidak sama antara:
- Yesus sebagai Anak Allah (hakikat ilahi)
- Manusia sebagai anak Allah (status adopsi)
- Pemulihan gambar Allah (Kej 1:26) berarti:
- Bukan "menjadi Tuhan"
- Tapi makin serupa dengan Kristus (Rm 8:29) dalam:
- Kasih (1Yoh 4:7)
- Ketaatan (Yoh 14:15)
- Pelayanan (Mrk 10:45)
_"Yesus adalah Anak Allah secara hakikat (Tuhan sejati). Kita diangkat menjadi anak-anak Allah melalui penebusan-Nya - bukan untuk menjadi tuhan, tapi untuk mencerminkan Dia dalam hidup kita."_
III. ALLAH YANG BERELASI VS. PENGALAMAN MANUSIA
Trinitas menawarkan ontologi relasional yang membongkar kesendirian manusia. Ini bertolak belakang dengan Tuhan filsafat klasik tetapi beresonansi dengan kerinduan eksistensial, sekaligus dirayakan dalam tradisi Timur (d).
1. Relasi Ilahi dan Kesendirian Manusia
a. Allah yang Berelasi vs. Kesendirian Manusia: Sebuah Pembacaan Relasional
Kejadian 2:18-24 ("Tidak Baik Manusia Seorang Diri")
- Paradoks relasi:
- Dari teologi tradisional: Allah Tritunggal tidak membutuhkan ciptaan, tetapi menciptakan manusia untuk berbagi kasih-Nya.
- Kata 'ezer kenegdo (penolong sepadan):
- 'Ezer muncul 21x dalam PL, 16x merujuk pada pertolongan ilahi (Mzm. 121:1-2) → Hawa bukan sekadar pendamping, tapi mitra spiritual.
- Kenegdo ("di hadapannya") → Menunjukkan relasi setara, bukan hierarkis.
1. Dasar Teologis: Allah sebagai Komunio Kasih
- Trinitas adalah relasi kekal: Bapa, Anak, dan Roh Kudus saling mengasihi (perichoresis) sejak sebelum penciptaan (Yoh. 17:24).
- Kesendirian (solitude) tidak ada dalam hakikat Allah, karena Ia adalah kasih (1 Yoh. 4:8) yang secara intrinsik relasional.
Jika Allah adalah komunitas sempurna, maka:
- Manusia sebagai gambar-Nya (imago Dei) diciptakan untuk relasi—bukan hanya dengan Allah, tetapi juga dengan sesama (Kej. 2:18).
- Kesendirian Adam bukan sekadar "kurang baik", tetapi bertentangan dengan desain asali penciptaan.
2. Kejadian 2:18 dalam Perspektif Ini
"Tidak baik manusia seorang diri" dapat dibaca sebagai:
- Pernyataan ontologis: Kesendirian adalah ketidaksesuaian dengan hakikat manusia sebagai makhluk relasional.
- Refleksi gambar Allah: Jika Allah adalah "Kita" (Kej. 1:26), maka manusia—sebagai gambar-Nya—harus hidup dalam "kita" juga.
Perbandingan dengan Teologi Relasional:
- Martin Buber (I-Thou): Eksistensi manusia sejati hanya terwujud dalam relasi.
- John Zizioulas (Being as Communion): "Kita ada karena kita berelasi"—mirip dengan hakikat Trinitas.
3. Apakah Ini Berarti Kesendirian adalah "Kecacatan"?
✅ Ya, dalam arti teologis:
- Kesendirian manusia menyimpang dari pola Trinitas, di mana keberadaan (being) = relasi (communion).
- Adam sebelum Hawa adalah "tidak lengkap" secara relasional, seperti sebuah lagu tanpa harmoni.
❌ Tidak, dalam arti eksistensial:
- Kesendirian fisik (seperti pertapaan) bisa positif jika ditujukan untuk pendalaman relasi dengan Allah (lih. Yesus di padang gurun, Mat. 4:1-11).
- Yang "tidak baik" adalah isolasi total, bukan kesendirian sementara.
4. Implikasi untuk Antropologi Kristen
a. Manusia bukan individu otonom:
- Kita didefinisikan oleh relasi (dengan Allah, sesama, alam).
- Individualisme radikal bertentangan dengan imago Trinitatis.
b. Penciptaan Hawa sebagai Solusi Ilahi:
- Allah tidak menciptakan "teman biasa" (hewan), tetapi mitra sehakekat (‘ezer kenegdo, Kej. 2:20-22).
- Ini menggemakan relasi sehakekat (homoousios) dalam Trinitas.
c. Kesepian modern sebagai "krisis spiritual":
- Masyarakat digital yang terisolasi adalah penyimpangan dari desain ilahi.
- Gereja dipanggil menjadi komunitas trinitarian (Kis. 2:42-47).
5. Kritik & Catatan Keseimbangan
- Bahaya determinisme relasional:
- Jika kesendirian selalu "cacat", bagaimana dengan para pertapa (Antonius Agung) atau Yesus yang sering menyendiri (Mrk. 1:35)?
- Jawaban: Kesendirian yang berorientasi pada Allah justru memperdalam relasi.
- Allah tidak "membutuhkan" relasi manusia:
- Trinitas sudah sempurna dalam diri-Nya, tetapi memilih menciptakan manusia untuk berbagi kasih.
Kesimpulan: "Tidak Baik" sebagai Panggilan untuk Mencerminkan Trinitas
Pernyataan "tidak baik manusia seorang diri" adalah:
1. Pengakuan bahwa relasi adalah hakikat ilahi yang harus diwujudkan manusia.
2. Kritik terhadap kesendirian yang egois, bukan kesendirian yang berorientasi pada Allah.
3. Undangan untuk hidup dalam koinonia (persekutuan) yang meneladan Trinitas.
"Allah yang adalah Kasih itu seperti matahari—tidak membutuhkan api lain untuk bersinar, tetapi memilih untuk menerangi kegelapan. Demikianlah, kita diciptakan bukan karena Allah kekurangan, tetapi karena Ia berkelimpahan."
Referensi:
- Communion and Otherness – John Zizioulas (teologi relasional).
- The Trinity and the Kingdom – Jürgen Moltmann (relasi dan kebebasan).
- The Meaning of Man – Jean-Paul Sartre (kritik eksistensialis atas kesendirian).
b Antropologi Trinitarian: Kejatuhan Manusia dan Kerusakan Relasi
(1) Dosa sebagai Pemutusan Relasi Trinitarian
- Relasi yang Terfragmentasi:
- Dalam Kejadian 3, dosa bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi penggantian relasi Allah-manusia dengan relasi berpusat pada diri (Kej. 3:6-7 → "tidak percaya" dan "menutupi diri").
- Kontras dengan relasi Trinitas yang saling percaya (Yoh. 5:19; 14:10).
- Konsekuensi Teologis:
- Terputusnya Imago Dei Relasional: Manusia diciptakan untuk mencerminkan relasi Trinitas (Kej. 1:26-27), tetapi dosa mengubahnya menjadi ego yang terisolasi (Romo 3:23).
- Kematian Spiritual: Bukan hanya hukuman, tetapi kehilangan relasi hidup dengan Allah (Kej. 3:23-24; Ef. 2:1).
(2) Dampak Sosial-Eksistensial Kejatuhan
- Alienasi Antar-Manusia:
- Kain dan Habel (Kej. 4:8) → Dosa merusak relasi horizontal.
- Menara Babel (Kej. 11:4) → Upaya manusia membangun "kesatuan" tanpa Allah berujung kekacauan.
- Kesepian Postmodern sebagai Dampak Lanjutan:
- Manusia modern mengulangi dosa Adam: mencari identitas di luar relasi dengan Pencipta (lih. pemikiran Charles Taylor, A Secular Age).
- Kontras dengan Trinitas: Allah yang tidak pernah sendiri (Yoh. 17:24) vs. manusia yang terasing (Mzm. 142:4).
(3) Pemulihan Relasi dalam Kristus
- Inkarnasi sebagai Jawaban atas Kejatuhan:
- Yesus mengembalikan relasi yang terputus (Yoh. 1:14 → "kemah di antara kita").
- Salib: Titik rekonsiliasi vertikal (Kol. 1:20) dan horizontal (Ef. 2:14-16).
- Gereja sebagai Komunitas yang Dipulihkan:
- Kisah Para Rasul 2:42-47 → Gambar miniatur relasi Trinitas dalam persekutuan.
- Kasih agape (1 Yoh. 4:7-12) sebagai bukti partisipasi dalam kehidupan Allah.
Opsi Pendalaman:
- Teologi Paulus tentang Dosa (Roma 5:12-21; 7:15-25) → Dosa sebagai kuasa yang memperbudak.
- Psikologi Relasional (John Bowlby) → Kebutuhan manusia akan secure attachment dan penggenapannya dalam Allah.
"Dosa merusak relasi Trinitarian dalam diri manusia (1), menyebabkan alienasi vertikal-horizontal (2). Kristus memulihkannya melalui inkarnasi dan salib (3), dengan gereja sebagai ekspresi kasih Trinitas yang dipulihkan."
2. Penderitaan dan Emosi Allah
a. PENDERITAAN ALLAH
Apa yang Dimaksud dengan "Penderitaan Allah"?
Konsep "penderitaan Allah" (theopaschism) adalah salah satu topik paling kontroversial dalam teologi Kristen. Ini merujuk pada gagasan bahwa Allah—dalam diri Yesus Kristus—benar-benar mengalami penderitaan, kematian, dan kesakitan di kayu salib. Namun, pemahaman ini harus dibedakan dari ajaran sesat (seperti patripassianisme yang mengajarkan bahwa Bapa turut menderita).
Berikut penjelasan mendalam tentang makna, dasar Alkitab, dan implikasinya:
1. Dasar Alkitab tentang Penderitaan Allah
a. Perjanjian Lama: Allah yang Berbelas Kasih dan Turut Merasakan
- Keluaran 3:7 – "Aku telah melihat penderitaan umat-Ku di Mesir dan Aku mendengar seruan mereka."
→ Allah tidak acuh terhadap penderitaan manusia.
- Yesaya 63:9 – "Dalam segala penderitaan mereka, Ia turut menderita."
→ Bahasa Ibrani menggunakan kata "na‘ar" (berguncang/gemetar), menunjukkan keterlibatan emosional Allah.
b. Perjanjian Baru: Penderitaan Yesus sebagai Allah yang Menjadi Manusia
- Yohanes 1:14 – "Firman itu telah menjadi manusia."
→ Inkarnasi memungkinkan Allah mengalami penderitaan manusia secara nyata.
- Ibrani 2:18 – "Karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, Ia dapat menolong mereka yang dicobai."
- Markus 15:34 – Seruan Yesus: "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?"
→ Puncak penderitaan Allah dalam diri Kristus.
2. Bagaimana Allah Bisa Menderita?
a. Penderitaan Terjadi dalam Natur Manusia Yesus, Bukan Keilahian-Nya
- Kristologi Ortodoks: Yesus memiliki dua natur (ilahi & manusiawi) dalam satu Pribadi (hypostatic union).
- Keilahian-Nya (Allah) = tidak berubah, tidak bisa menderita (impassible).
- Kemanusiaan-Nya = merasakan sakit, kesedihan, dan kematian.
- Kesimpulan: Allah (dalam diri Yesus) menderita melalui natur manusia-Nya, bukan natur ilahi-Nya.
b. Trinitas Tetap Utuh, Tetapi Relasi Ekonomis Terungkap
- Bapa tidak menderita secara langsung, tetapi mengizinkan Anak menderita (Roma 8:32).
- Roh Kudus turut "berduka" (Efesus 4:30) dan menyertai Yesus dalam penderitaan-Nya (Ibrani 9:14).
3. Kontroversi & Kesalahan yang Harus Dihindari
| Ajaran Benar | Ajaran Sesat |
|------------------|------------------|
| Yesus (sebagai manusia) menderita, tetapi keilahian-Nya tidak berubah. | Patripassianisme: Bapa turut menderita di salib (menyalahi kekekalan Allah). |
| Penderitaan Yesus nyata, tetapi tidak menghancurkan Trinitas. | Docetisme: Yesus hanya "tampak" menderita (menyangkal kemanusiaan-Nya). |
| Allah memilih untuk mengalami penderitaan demi kasih-Nya. | Deisme: Allah tidak peduli pada penderitaan manusia. |
4. Implikasi Teologis & Spiritual
a. Allah Mengerti Penderitaan Kita
- Karena Yesus pernah menderita, Ia bisa berempati (Ibrani 4:15).
- Ini memberikan penghiburan bagi orang percaya yang sedang bersusah hati.
b. Kasih Allah Nyata dalam Pengorbanan
- 1 Yohanes 3:16 – "Kita mengenal kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita."
- Salib adalah bukti bahwa Allah tidak jauh, tetapi masuk ke dalam penderitaan dunia.
c. Penderitaan Bukan Akhir Cerita
- Kebangkitan Yesus menunjukkan bahwa Allah mengalahkan penderitaan.
- Wahyu 21:4 – "Ia akan menghapus segala air mata mereka."
5. Kesimpulan: Penderitaan Allah dalam Perspektif Kristen
1. Allah tidak "harus" menderita (karena Ia sempurna), tetapi memilih untuk menderita dalam diri Yesus demi menyelamatkan manusia.
2. Penderitaan Yesus adalah nyata, tetapi tidak menghancurkan hakikat ilahi-Nya.
3. Ini adalah misteri kasih terbesar: Allah yang Mahakuasa rela menjadi lemah demi kita.
"Salib adalah tempat di mana kasih dan keadilan Allah bertemu." — John Stott
6. Perkembangan Historis Pemikiran tentang Penderitaan Allah
Pemahaman tentang penderitaan Allah telah berevolusi dalam sejarah teologi Kristen, memicu perdebatan sengkat dan penyempurnaan doktrin. Berikut adalah momen-momen kuncinya:
a. Abad Awal & Bapa-Bapa Gereja
- Ignatius dari Antiokhia (abad ke-2) – Menekankan bahwa penderitaan Yesus adalah nyata untuk menyelamatkan manusia (Letter to the Smyrnaeans).
- Tertullian (abad ke-3) – Menolak doketisme dan menegaskan bahwa Kristus benar-benar menderita dalam daging, bukan hanya secara ilusi (On the Flesh of Christ).
- Gregorius dari Nazianzus (abad ke-4) – "Apa yang tidak diambil-Nya (dalam inkarnasi), tidak disembuhkan-Nya." Artinya, jika Yesus tidak mengambil natur manusia sepenuhnya (termasuk kemampuan menderita), maka manusia tidak sepenuhnya ditebus.
b. Abad Pertengahan
- Thomas Aquinas – Mengajarkan bahwa Allah sendiri tidak bisa menderita (impassible), tetapi dalam diri Yesus, natur manusia-Nya yang menderita (Summa Theologica).
- St. Bonaventura – Menekuni aspek mistis penderitaan Kristus sebagai wujud kasih ilahi yang ekstrem.
c. Reformasi & Modern
- Martin Luther – Mengembangkan konsep "theology of the cross" (theologia crucis), bahwa Allah justru paling dikenal melalui penderitaan dan kelemahan salib (1 Korintus 1:18-25).
- Karl Barth (abad ke-20) – Allah dalam kebebasan-Nya memilih untuk menderita dalam Kristus, bukan karena Ia terpaksa, tetapi karena kasih (Church Dogmatics).
- Jürgen Moltmann – Dalam The Crucified God, ia berargumen bahwa Trinitas sendiri terlibat dalam penderitaan salib, bukan hanya Yesus sebagai manusia.
7. Perbandingan dengan Agama & Filsafat Lain
| Kekristenan | Agama/Filsafat Lain |
|----------------|------------------------|
| Allah secara sukarela masuk ke dalam penderitaan untuk menyelamatkan manusia. | Islam: Allah (Allah SWT) tidak mungkin menderita (QS 112:1-4). |
| Penderitaan Yesus adalah bagian dari rencana penebusan. | Yudaisme Rabinik: Mesias tidak perlu menderita secara fisik. |
| Kasih Allah dinyatakan melalui kelemahan salib. | Stoikisme: Tuhan (Logos) tidak terpengaruh oleh emosi/penderitaan. |
| Allah yang menderita membawa makna baru bagi penderitaan manusia. | Budisme: Penderitaan (dukkha) harus diatasi, bukan ditebus. |
8. Implikasi bagi Kehidupan Kristen Praktis
a. Spiritualitas Salib
- Penderitaan bukanlah kutuk, tetapi bisa menjadi sarana persekutuan dengan Kristus (Filipi 3:10).
- Doa dalam pergumulan: Kita dapat datang kepada Allah yang mengerti (Ibrani 4:15-16).
b. Etika & Solidaritas
- Jika Allah turut menderita, maka orang Kristen dipanggil untuk peduli pada penderitaan orang lain (Matius 25:35-40).
- Keadilan sosial: Perlawanan terhadap ketidakadilan adalah bagian dari mengikuti jejak Yesus yang membela orang lemah.
c. Pengharapan Eskatologis
- Penderitaan sekarang bersifat sementara, karena Allah telah menang melalui kebangkitan (Wahyu 21:4).
9. Kutipan-Kutipan Penting tentang Penderitaan Allah
- Dietrich Bonhoeffer: "Hanya penderitaan Allah yang dapat menebus."
- Hildegard von Bingen: "Allah menderita dalam cinta-Nya yang membara."
- Paus Yohanes Paulus II: "Dalam salib Kristus, tidak hanya penebusan terjadi melalui penderitaan, tetapi penderitaan manusia sendiri ditebus."
10. Kesimpulan Akhir: Mengapa Ini Penting?
1. Membentuk gambar Allah yang benar: Bukan Allah yang dingin dan jauh, tetapi yang berempati.
2. Memberikan makna bagi penderitaan manusia: Jika Allah sendiri masuk ke dalamnya, maka penderitaan bukanlah kesia-siaan.
3. Memperdalam penyembahan: Salib adalah puncak kasih Allah yang tak terselami.
"Salib adalah pengungkapan terbesar dari sifat Allah yang tersembunyi." — Hans Urs von Balthasar
b. EMOSI PENDERITAAN MENGUBAH ALLAH?
Apakah Penderitaan Allah Berarti Ia Berubah dan Bukan Lagi Allah?
Ini adalah pertanyaan teologis kritis yang menyentuh sifat ketidakberubahan Allah (immutability) dan relasi-Nya dengan penderitaan. Berikut analisis mendalamnya:
1. Doktrin Klasik tentang Ketidakberubahan Allah
Secara tradisional, Allah diyakini sebagai tidak berubah (immutable), berdasarkan:
- Maleakhi 3:6: "Aku, TUHAN, tidak berubah."
- Yakobus 1:17: "Pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran."
- Filosofi Aristoteles: Allah sebagai "Penggerak yang Tidak Digerakkan" (Unmoved Mover), sempurna dan tak terpengaruh.
Implikasi: Jika Allah berubah, Ia tidak lagi sempurna atau kekal.
2. Bagaimana Penderitaan Kristus Konsisten dengan Ketidakberubahan Allah?
a. Penderitaan Terjadi pada Natur Manusia Yesus, Bukan Natur Ilahi
- Konsili Kalsedon (451 M): Yesus memiliki dua natur (ilahi & manusiawi) dalam satu Pribadi.
- Keilahian-Nya (Allah): Tetap tidak berubah, tidak bisa menderita (impassible).
- Kemanusiaan-Nya: Mengalami penderitaan, kematian, dan keterbatasan.
- Contoh:
- Yesus lapar (Matius 4:2) → kemanusiaan.
- Yesus mengampuni dosa (Markus 2:5) → keilahian.
b. Allah Memilih untuk Menderita, Bukan Dipaksa Berubah
- Filipi 2:6-8: Kristus "telah mengosongkan diri-Nya" (kenosis) dengan mengambil rupa hamba, tetapi tidak kehilangan hakikat ilahi-Nya.
- Paradoks Kasih: Allah yang tidak berubah dalam esensi memilih untuk berubah dalam relasi dengan ciptaan melalui inkarnasi.
3. Perbedaan antara Perubahan Esensi dan Perubahan Relasional
| Perubahan Esensi | Perubahan Relasional |
|----------------------|--------------------------|
| Allah berubah sifat dasar-Nya (misal: dari mahakuasa menjadi lemah). ❌ | Allah tetap sama dalam hakikat, tetapi berinteraksi dengan ciptaan secara baru. ✅ |
| Bertentangan dengan Alkitab. | Konsisten dengan inkarnasi dan penebusan. |
Contoh Relasional:
- Seorang ayah yang tetap sama secara fisik, tetapi relasinya berubah saat menggendong anaknya yang terluka.
4. Tanggapan terhadap Kritik
a. Jika Allah Bisa Menderita, Apakah Ia Kurang Sempurna?
- Tidak, karena:
1. Penderitaan-Nya adalah aksi kasih sukarela, bukan kelemahan.
2. Ia mengalahkan penderitaan melalui kebangkitan (1 Korintus 15:54-55).
b. Apakah Ini Berarti Allah "Berkembang"?
- Teologi Proses (ajaran sesat): Allah berevolusi bersama ciptaan.
- Orthodoksi Kristen: Allah tidak berkembang, tetapi menyatakan diri-Nya secara progresif.
5. Analogi untuk Memahami
- Matahari dan Cahayanya:
- Matahari (Allah) tetap sama, tetapi cahayanya (Firman yang menjadi manusia) bisa "tersentuh" oleh awan (penderitaan).
- Lautan dan Gelombang:
- Lautan (hakikat Allah) tetap stabil, tetapi gelombang (karya-Nya dalam sejarah) bisa bergerak.
6. Kesimpulan: Allah Tetap Allah
1. Tidak berubah dalam esensi: Sifat ilahi-Nya (kekal, mahakuasa, mahatahu) tetap sempurna.
2. Berkarya dalam sejarah: Melalui inkarnasi, Ia menyatakan kasih-Nya dengan cara yang bisa dipahami manusia, termasuk melalui penderitaan.
3. Misteri Iman: Kita tidak bisa sepenuhnya memahami bagaimana Allah yang tak berubah memilih untuk menderita, tetapi Alkitab menegaskan kedua kebenaran ini.
"Allah tidak berubah dalam keberadaan-Nya, tetapi dalam karya penyelamatan-Nya, Ia masuk ke dalam pengalaman manusia." — Thomas Aquinas
c. ANALISIS TEOLOGI :
1. Dasar Doktrin Ketidakberubahan Allah (Immutabilitas)
a. Definisi Katolik
- KGK 212:
_"Allah tetap setia pada diri-Nya sendiri dan janji-janji-Nya. Perubahan hanya terjadi pada ciptaan, bukan pada Pencipta."_
- Konsili Lateran IV (1215):
> _"Allah adalah zat spiritual yang sama sekali tidak berubah."_
b. Implikasi untuk Penderitaan Allah
- Allah tidak berubah dalam hakikat-Nya (Mal 3:6; Yak 1:17).
- Tetapi: Ia bebas berelasi dengan ciptaan secara dinamis (Yer 18:7-10).
2. Penderitaan Kristus: Allah yang "Mengalami" Tanpa Berubah
a. Inkarnasi sebagai Paradoks
- Kristus (Allah sejati) menderita sebagai manusia sejati (KGK 470):
- Sebagai manusia: Yesus mengalami rasa sakit, takut, dan kematian (Mrk 14:34; Ibr 5:7).
- Sebagai Allah: Hakikat ilahi-Nya tidak berubah (Kol 2:9).
b. Teologi Salib (St. Thomas Aquinas, ST III, q.46)
- Penderitaan Yesus adalah tindakan kasih ilahi, bukan perubahan hakikat Allah.
- Analogi: Matahari tetap sama, meski awan membuatnya "tampak" berubah.
3. Emosi Allah dalam Alkitab vs. Ketidakberubahan
a. Bahasa Anthropopatis (Allah yang "Marah", "Bersedih")
- KGK 42:
> _"Alkitab menggunakan bahasa manusia untuk menggambarkan Allah, tanpa mengurangi misteri-Nya."_
- Contoh:
- "Tuhan menyesal" (Kej 6:6) → Ekspresi relasi, bukan perubahan rencana ilahi (1Sam 15:29).
b. Kasih Allah yang Kekal
- Penderitaan Allah adalah ekspresi kasih-Nya yang tetap sama (Rm 8:38-39).
- St. Agustinus (Confessions I.4):
> _"Engkau tidak berubah, tapi kami berubah dalam Engkau."_
4. Jawaban atas Pertanyaan Kritis
a. Apakah Penderitaan Mengubah Allah?
- Tidak dalam hakikat-Nya: Allah tetaplah Kasih (1Yoh 4:8).
- Ya dalam relasi-Nya: Allah memilih untuk mengambil pengalaman manusia dalam Kristus tanpa mengubah keilahian-Nya.
b. Contoh Teologis
| Aspek | Tidak Berubah | Berdinamika |
|--------------------------|--------------------------------------------|------------------------------------------|
| Hakikat Allah | Sempurna, kekal (Yes 40:28) | - |
| Relasi dengan Manusia| Janji keselamatan tetap (Yeh 33:11) | Respons terhadap doa (Yer 33:3) |
_"Allah tetap tidak berubah dalam diri-Nya, tetapi dalam Kristus, Ia mengubah cara Ia berelasi dengan kita—dari transenden menjadi imanen, tanpa mengubah hakikat-Nya."_
IV. KESIMPULAN: SIMFONI KASIH TRINITARIAN
1. Trinitas sebagai Puisi Kosmis
a. DARI KASIH TRINITAS KE PENCIPTAAN - SEBUAH SIMFONI KOSMIS
1. SAMUDRA KASIH YANG TRANSCENDENT-IMANEN
Allah Tritunggal adalah pusaran kasih abadi yang:
- Melampaui (transcendent):
Seperti laut dalam yang tak terselami, tak terkurung oleh konsep ruang-waktu.
- Merembes (immanent):
Seperti garam yang meresap ke setiap molekul air ciptaan.
"Kau minum segelas air? Itu adalah sajian dari tarian Tiga Pribadi."
2. PENCIPTAAN SEBAGAI "EKSPRESI", BUKAN "KEBUTUHAN"
- Analog Seniman:
Seperti Bach mencipta Mass in B Minor bukan karena kurang musik,
tetapi karena kelimpahan inspirasi harus mengalir.
- Data Kosmologis:
Dentuman Besar (Big Bang) adalah akord pertama dari simfoni Trinitas,
di mana energi gelap adalah fermata (jeda musikal) yang masih misterius.
3. PARADOKS "KEINGINAN" ILAHI
Allah menghendaki kita bukan karena:
- Defisit (kekurangan relasi),
tetapi karena superfluity (kelimpahan tak terbatas).
"Matahari bersinar bukan karena gelap memohon,
tetapi karena bersinar adalah syair hakikinya."
4. IMPLIKASI ANTROPOLOGIS RADIKAL
Jika kita ada karena diinginkan, bukan dibutuhkan, maka:
- Hakikat manusia: Bukan homo economicus (manusia ekonomis),
melainkan homo adorans (manusia penyembah).
- Krisis eksistensi modern:
Depresi adalah gejala masyarakat yang lupa dirinya adalah puisi, bukan produk.
5. EKOLOGI TRINITARIAN
Ciptaan adalah jaringan relasi yang:
- Mencerminkan perichoresis:
- Siklus air = Sirkulasi kasih Trinitas.
- Fotosintesis = Kolaborasi Bapa (cahaya), Anak (klorofil), Roh (pertukaran gas).
- Memprotes ketika dirusak:
"Polusi adalah dosa terhadap tarian ilahi!"
6. TANTANGAN FILSAFAT MODERN
- Nietzsche: "Allah mati" → Trinitas menjawab: "Allah adalah kehidupan itu sendiri."
- Transhumanisme: Manusia mau mencipta AI → Trinitas berkata: "Kau tak bisa mencipta jiwa, karena hanya Kami yang bisa mengundang yang lain ke dalam tarian Kami."
7. EPIFANI AKHIR: UNDANGAN KE DALAM TARIAN
Kita diajak untuk:
1. Menyelami samudra kasih (doa kontemplatif).
2. Mencerminkan relasi ilahi (keadilan sosial).
3. Merayakan kelimpahan (seni & liturgi).
"Di tepi pantai kekekalan, Trinitas sedang menari—
kadang dalam gemuruh tsunami,
kadang dalam desir riak danau.
Kau diundang:
bukan sebagai penonton,
tapi sebagai sajak keempat
yang baru akan ditemukan."
APLIKASI KONKRET:
- Ekumenis: Dialog agama melihat Trinitas sebagai model relasi tanpa peleburan identitas.
- Teknologi: Desain AI yang menghargai relasi, bukan hanya efisiensi.
- Psikoterapi: Penyembuhan melalui komunio, bukan individualisme.
"Allah Tritunggal bukanlah teka-teki untuk dipecahkan,
melainkan laut tanpa tepi untuk berenang—
kadang kau tenggelam dalam misteri,
kadang mengapung dalam kasih,
tapi selalu dalam dekapan-Nya."
"Allah Tritunggal adalah samudra kasih yang tak pernah surut—penciptaan bukanlah gelombang yang meninggalkan kekosongan, tetapi percikan yang memperluas horizon keindahan-Nya. Kita ada bukan karena Dia membutuhkan kita, tetapi karena Dia menginginkan kita."
b. TRINITAS SEBAGAI LIRIK PUISI ILAHI
"Trinitas adalah lagu dengan tiga nada yang tak terpisahkan:
- Bapa adalah sumber melodi,
- Anak adalah lirik yang menjadi nyata,
- Roh adalah harmoni yang menghidupkan.
Kita tidak diminta untuk memahami lagu ini sepenuhnya, tetapi ikut menyanyikannya—karena dalam tarian kasih-Nya, kita menemukan makna diri kita yang sejati."
"Seperti Musa yang hanya melihat punggung Allah (Kel. 33:23), kita pun hanya menangkap bayangan-Nya—tetapi bayangan itu cukup untuk mengetahui bahwa Dia ada, dan Dia baik."
Referensi:
- The God Who Loves – William Barclay (teologi kasih Allah).
- Creation and the Trinity – Thomas F. Torrance (sains dan relasi trinitarian).
- The Love of God – John C. Peckham (analisis filosofis-teologis).
- The Divine Dance - Richard Rohr
- God of Love - Miroslav Volf
- Cosmos and Creator - John Polkinghorne
2. Implikasi Etis
ETIKA APOLOGETIKA KRISTEN
Ketika menghadapi orang yang sengaja memancing atau memojokkan ajaran Trinitas, tanggapan kita harus bijak, tegas, dan berlandaskan Alkitab. Berikut prinsip dan ayat-ayat yang relevan untuk dijadikan pedoman:
1. Kenali Motivasi Mereka
Orang yang memancing perdebatan tentang Trinitas biasanya memiliki dua tujuan:
- Tulus bertanya (karena belum paham), atau
- Menjebak/menghina (Kisah Para Rasul 17:18; 2 Timotius 2:23).
Kata Alkitab:
"Janganlah kamu memberi anjing barang yang kudus dan janganlah kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, karena babi itu akan menginjak-injaknya dan anjing itu akan berbalik mengoyak kamu."
—Matius 7:6 (TB)
Artinya: Jika niat mereka jelas untuk menista kebenaran, jangan buang waktu berdebat.
2. Jawab dengan Lemah Lembut dan Hormat
Alkitab memerintahkan kita untuk tidak tersulut emosi, tetapi memberi jawaban yang jelas:
"Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat."
—1 Petrus 3:15 (TB)
Contoh respons:
- "Trinitas adalah doktrin yang diajarkan Alkitab, meskipun istilahnya tidak tercantum secara hurufiah. Jika Anda ingin diskusi tulus, saya senang menjelaskan."
- "Yesus sendiri menyatakan diri-Nya satu dengan Bapa (Yohanes 10:30) dan memerintahkan baptisan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus (Matius 28:19). Bagaimana Anda memahaminya?"
3. Waspadai Ajaran Sesat dan Penyesat
Alkitab memperingatkan tentang orang yang sengaja memutarbalikkan kebenaran:
"Sebab ada banyak orang yang tidak patuh, yang banyak bicara dan yang menyesatkan, terutama mereka dari golongan orang-orang bersunat. Orang-orang semacam itu harus ditutup mulutnya, karena mereka mengacau banyak keluarga dengan mengajarkan yang tidak-tidak untuk mendapat untung yang memalukan."
—Titus 1:10-11 (TB)
Tindakan:
- Jika debat berubah menjadi penghinaan atau penyebaran kesesatan, lebih baik undur diri (Amsal 26:4-5).
- Untuk guru/pemimpin gereja, perlu koreksi tegas (2 Timotius 4:2).
4. Ingatkan tentang Kuasa Allah, Bukan Logika Manusia
Trinitas adalah misteri ilahi yang melampaui akal manusia. Yesus sendiri menghadapi orang Farisi yang mencobai-Nya dengan pertanyaan jebakan, dan Ia menjawab dengan hikmat atau diam (Matius 22:15-46).
Contoh:
- Ketika Yesus ditanya "Dengan kuasa apa Engkau melakukan ini?" (Matius 21:23-27), Ia balik bertanya dan membuat lawan-Nya bungkam.
- Ketika Pilatus bertanya "Apa itu kebenaran?" (Yohanes 18:38), Yesus tidak menjawab karena Pilatus tidak tulus.
5. Fokus pada Inti Iman, Bukan Perdebatan
Paulus mengingatkan:
> "Hindarilah soal-soal yang dicari-cari dan yang bodoh, karena kamu tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran."
—2 Timotius 2:23 (TB)
Poin penting:
- Jika seseorang menolak Trinitas dengan keras kepala, itu adalah masalah hati, bukan kurangnya bukti.
- Doakan mereka dan hidupkan kebenaran melalui kasih (1 Korintus 13:2).
Kesimpulan
1. Untuk yang tulus: Jelaskan dengan sabar (1 Petrus 3:15).
2. Untuk yang memancing: Jangan terlibat debat tanpa ujung (Amsal 26:4).
3. Untuk yang menyesatkan: Tegur dengan firman (Titus 1:9), lalu undur diri jika diperlukan.
4. Ingat: Kebenaran tidak perlu "dimenangkan" dengan argumen, tetapi dinyatakan dalam kuasa Roh (1 Korintus 2:4-5).
"Jika ada orang yang tidak mengindahkan apa yang kami katakan dalam surat ini, tandailah dia dan jangan bergaul dengan dia, supaya ia menjadi malu."
—2 Tesalonika 3:14 (TB) (Untuk kasus ekstrem penolakan kebenaran yang disengaja.)
Langkah praktis:
- Pelajari apologetika (contoh: buku "The Forgotten Trinity" oleh James White).
- Minta hikmat dari Roh Kudus (Yakobus 1:5) untuk membedakan niat orang.
- Jangan takut: Kebenaran Trinitas berdiri kokoh oleh penyataan Alkitab, bukan oleh kemampuan kita berdebat.
Klik atau Tap untuk lihat Artikel terkait :
Shaloom Tuhan Yesus, melindungi dan memberkati kita semua. Amin.🙏
Klik atau Tap disini untuk baca Artikel Lainnya
Manado, 9 Juli 2025
Mantiri AAM
:
Komentar
Posting Komentar