Kesalahan Logika (fallacy) Dondy Tan - 1

MENJAWAB DONDY TAN -1


Sebuah Apologetika …


Dondy Tan : Apakah Kematian Yesus Rencana Allah.

Jawaban : Iya.

Dondy Tan : Jadi Iblis, Yudas Iskariot,  orang Yahudi (Imam, Farisi, Saduki) dan Roma pada saat itu tidak berdosa. Kan rencana Allah. Karena itu adalah rencana Allah tentunya mereka berjasa, iya kan ?.


Jawaban Inti:

Tidak, mereka tetap berdosa dan sama sekali tidak berjasa. Meskipun tindakan jahat mereka secara tidak langsung digunakan dalam rencana Allah, motivasi dan tindakan mereka sendiri tetaplah jahat dan pantas dihukum. Mereka adalah alat dalam rencana Allah, bukan rekanan.


Sebuah Analogi untuk Menjawab Dondy Tan .


Analogi yang berikut sangat menjawab. Sebuah titik awal yang bagus untuk  mencerminkan situasi penyaliban Kristus, terutama dalam hal niat dan kedaulatan.


 Analogi Raja, Tumor, dan Pemberontak


Seorang Raja yang sangat baik dan bijaksana memerintah sebuah kerajaan. Suatu hari, dia mengetahui bahwa ada tumor ganas yang bersembunyi di dalam tubuhnya. Tumor ini pasti akan membunuhnya. Para tabib kerajaan tidak memiliki cara untuk mengangkat tumor itu tanpa membunuh sang Raja.


Pada saat yang sama, seorang pemberontak kejam yang membenci sang Raja berencana untuk membunuhnya dan merebut tahta. Sang Raja, dalam kebijaksanaannya yang sempurna, mengetahui rencana jahat ini. Dia juga menyadari bahwa jika dia pergi ke medan perang menghadapi pemberontak itu, ada satu cara spesifik—sebuah tusukan tombak yang tepat di tempat tumor itu—yang justru akan mengangkat tumor tersebut dan menyelamatkan nyawanya, meskipun lukanya akan terlihat sangat fatal.


Sang Raja pun pergi berperang. Sesuai rencananya, si Pemberontak, dengan kebencian dan niat jahatnya, menusukkan tombaknya tepat ke perut Raja, berharap untuk membunuhnya. Para pengawal Raja yang sebenarnya bisa menghalangi, justru membiarkannya terjadi karena mereka iri dengan kekuasaan Raja.


Yang terjadi kemudian sungguh ajaib. Bentuk mata tombak itu dan cara tusukannya yang tepat, justru mengangkat tumor ganas itu seluruhnya tanpa merusak organ vital. Sang Raja pulih sepenuhnya dan hidup lebih sehat daripada sebelumnya. Kerajaannya diselamatkan dari ancaman tumor dan pemberontak itu pun ditangkap.


---


 Menerapkan Analogi pada Penyaliban Kristus:


   Sang Raja = Yesus Kristus.

   Tumor Ganas = Dosa Umat Manusia yang membawa maut dan harus disingkirkan.

   Sang Pemberontak = Iblis, Yudas, Imam Yahudi, & Roma. Motivasinya murni kebencian, pengkhianatan, iri hati, dan keinginan untuk "membunuh" Anak Allah.

   Tusukan Tombak yang Spesifik = Kematian Yesus di Kayu Salib. Itu adalah alat yang digunakan untuk mengangkat "tumor dosa".

   Kebijaksanaan Raja yang Merencanakan Semua Ini = Rencana Allah Bapa yang berdaulat.


 Jawaban untuk Pertanyaan Anda: "Jadi, berjasakah lawannya?"


Sama sekali TIDAK.


Mari kita lihat:


1.  Apa niat si Pemberontak?

    Niatnya adalah MEMBUNUH sang Raja. Itu adalah tindakan jahat dan pengkhianatan. Dia tidak memiliki niat, pemahaman, atau keinginan sedikit pun untuk menyembuhkan Raja.


2.  Apakah tindakan si Pemberontak adalah dosa?

    Ya, pasti. Motifnya murni jahat. Dia tetap seorang pengkhianat dan pembunuh yang harus dihukum, terlepas dari hasil akhir yang tidak pernah ia inginkan atau duga.


3.  Siapa yang sebenarnya berjasa?

    Sang Raja-lah yang berjasa. Dialah yang dengan bijaksana menggunakan serangan jahat musuhnya untuk mencapai tujuannya menyembuhkan diri sendiri dan menyelamatkan kerajaannya. Semua pujian dan kemuliaan hanya untuk sang Raja yang telah mengubah konspirasi pembunuhan menjadi kisah keselamatan.


Si Pemberontak tidak lebih dari alat yang tidak sadar dalam rencana besar sang Raja. Kejahatannya tetap kejahatan, dan dia akan diadili karena itu.


Analogi ini sangat membantu untuk memahami bagaimana sesuatu yang jahat (tusukan tombak) bisa menghasilkan sesuatu yang baik (pengangkatan tumor). Namun, intinya tetap: niat pelaku kejahatan itu jahat, sehingga mereka tetap bersalah dan tidak berjasa.


Allah, dalam kedaulatan-Nya, mengubah alat yang jahat (salib) menjadi alat keselamatan. Iblis dan para algojo Yesus berpikir mereka memenangkan kemenangan terbesar mereka, tetapi tanpa disadari, mereka justru sedang melaksanakan kekalahan terbesar mereka dan menggenapi rencana kemenangan Allah yang sempurna. Mereka tidak berjasa; mereka hanya alat. Semua kemuliaan hanya bagi Allah.


---


 Penjelasan Terstruktur:


 1. Mereka Tetap Berdosa: Motivasi adalah Kuncinya

Allah melihat tidak hanya pada tindakan, tetapi terutama pada motivasi hati di balik tindakan tersebut. Rencana Allah adalah untuk menyelamatkan, sementara motivasi para pelaku adalah untuk merusak dan menghancurkan.


   Iblis: Motivasi iblis adalah untuk mengalahkan Anak Allah dan menggagalkan rencana keselamatan. Itu adalah puncak dari kejahatan dan pemberontakan (Lukas 22:3, Yohanes 13:27).

   Yudas Iskariot: Motivasi Yudas adalah keserakahan (Yohanes 12:6) dan pengkhianatan. Yesus sendiri menyatakan celakanya Yudas (Matius 26:24).

   Para Imam Yahudi: Motivasi mereka adalah iri hati (Matius 27:18), kemunafikan, dan keinginan untuk mempertahankan kekuasaan dan status quo agama mereka.

   Pontius Pilatus & Roma: Motivasi mereka adalah kepentingan politik (menghindari kerusuhan dan menjaga stabilitas) dan ketidakadilan (menghukum seorang yang diakui tidak bersalah).


Allah menggunakan tindakan jahat mereka untuk kebaikan, tetapi itu tidak mengubah sifat jahat dari tindakan dan motivasi mereka sendiri. Dosa tetaplah dosa di mata Allah.


 2. Mereka Sama Sekali Tidak Berjasa: Perbedaan antara "Digunakan" dan "Berkontribusi"

Ini adalah perbedaan yang sangat penting:


   Mereka "Digunakan" (Instruments): Allah, dalam kedaulatan-Nya yang mutlak, dapat menggunakan bahkan tindakan yang paling jahat sekalipun untuk melayani tujuan-Nya yang akhirnya baik. Mereka adalah alat yang tidak sadar dalam tangan Tuhan, bukan mitra yang sadar.

   Mereka Tidak "Berkontribusi" (Contributors): Untuk disebut "berjasa", seseorang harus bertindak dengan sengaja, sukarela, dan dengan motivasi yang benar untuk mendukung tujuan tersebut. Tidak satu pun dari mereka yang ingin menolong Yesus atau mendukung rencana keselamatan. Faktanya, mereka semua berusaha menghancurkannya.


Analoginya:

Seorang hakim yang cerdik membiarkan perampok bank melakukan aksinya untuk menangkap seluruh sindikatnya.

   Sang hakim menggunakan tindakan jahat perampok itu untuk kebaikan yang lebih besar (menjebak sindikat besar).

   Namun, si perampok tidak berjasa sama sekali. Motivasinya tetaplah merampok, bukan menolong polisi.

   Si perampok tetap bersalah dan akan dihukum karena niat dan tindakan jahatnya, meskipun tindakannya digunakan untuk tujuan baik.


Yudas dan yang lainnya adalah seperti perampok dalam analogi itu. Mereka akan dihukum karena dosa mereka, bukan diberi pahala.


 3. Bukti dari Kitab Suci: Mereka Tetap Bersalah

Alkitab dengan jelas menempatkan kesalahan pada para pelaku, meskipun itu adalah bagian dari rencana Allah.


   Tentang Yudas: "Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, tetapi celakalah orang yang mengkhianati Dia!" (Lukas 22:22). Kalimat ini secara simultan mengonfirmasi rencana Allah ("seperti yang telah ditetapkan") dan kesalahan Yudas ("celakalah orang yang mengkhianati Dia").

   Tentang Orang Yahudi dan Roma: Petrus dengan berani berkata kepada orang banyak: "Kamulah yang telah menyalibkan dan membunuh Dia...!" (Kisah Para Rasul 2:23, 36). Ini adalah tuduhan dosa, bukan ucapan terima kasih.


---


 Kesimpulan:


Mengatakan bahwa Iblis, Yudas, dll. "tidak berdosa" atau "berjasa" adalah sebuah kesalahan logika (fallacy) karena:


1.  Mengaburkan Makna Dosa: Dosa ditentukan oleh motivasi dan tindakan sendiri, bukan oleh hasil akhir yang tidak diinginkan yang dilakukan oleh pihak lain.

2.  Mengacaukan Kedaulatan Allah dengan Tanggung Jawab Manusia: Allah berdaulat menggunakan kejahatan untuk kebaikan, tetapi itu tidak mengubah sifat jahat dari pelakunya atau membebaskan mereka dari tanggung jawab.

3.  Meleset dari Fakta Alkitabiah: Alkitab secara konsisten menyatakan kesalahan dan hukuman bagi para pelaku penyaliban, sambil secara simultan memuji anugerah dan kedaulatan Allah di dalamnya.


Jadi, mereka berdosa dan tidak berjasa sedikit pun. Kemuliaan dan pujian atas keselamatan yang tercapai hanya milik Allah sendiri, yang mampu mengubah rancangan jahat manusia menjadi karya penebusan yang agung.


Klik atau Tap disini  untuk baca Artikel Lainnya


Tuhan Memberkati


1 September 2025

Mantiri AAM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dosa Adam : Topeng2 Dosa - Pendahuluan

Dosa Adam : Topeng2 Dosa - Bagian 1

Daftar Isi Artikel